Fakta-Fakta Kanjeng Sultan Kebumen, Pemilik Padepokan Beristri 6

Oleh Muhamad Ridlo pada 13 Jan 2019, 01:00 WIB
HS alias Kanjeng Sultan ditangkap polisi Kebumen lantaran diduga mencabuli gadis atau anak di bawah umur. (Foto: Liputan6.com/Polres Kebumen/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Kebumen - Tersangka pencabulan anak di bawah umur ini tubuhnya gempal, dengan tinggi badan sedang. HS (53) alias Kiai Syawal alias Kanjeng Sultan, pemilik Padepokan semacam pondok pesantren di Desa Tepakyang Kecamatan Adimulyo, Kebumen.

Kanjeng Sultan ditangkap lantaran mencabuli anak di bawah umur. Ia memperistri gadis muda berusia 17 tahun yang dijanjikannya masuk surga.

Di padepokannya di Tepakyang, puluhan orang menjadi pengikut atau santrinya. Sebagian besar perempuan. Kanjeng Sultan mengawini sejumlah pengikutnya, sehingga istrinya, berdasar informasi perangkat desa Tepakyang, berjumlah enam orang.

Kini tersangka pencabulan anak di bawah umur ini ditahan di Markas Polres Kebumen. Aksinya menikahi gadis muda di bawah umur dengan cara tak lazim pun menjadi buah bibir masyarakat Kebumen.

Berikut adalah fakta-fakta kanjeng Sultan yang dihimpun kepolisian Kebumen dan disarikan dari wawancara dengan warga Tepakyang, Kebumen:

1. Kanjeng Sultan menikah dengan sejumlah perempuan. Tetapi, hanya satu istri sah yang tercantum dalam kartu keluarga. Lainnya, dinikah secara sirri. Berdasar informasi warga, istri Kanjeng Sultan berjumlah enam orang, dengan jumlah anak mencapai 19 orang.

Tetapi, tersangka pencabulan anak ini kepada polisi mengaku hanya punya empat istri. Dari Hasil perkawinan itu, ia karuniai 17 anak. Anak sulungnya adalah seorang gadis dan telah lulus SMA, sedangkan anak bungsunya masih berusia 4 bulan.

saksikan video pilihan berikut ini:

2 of 3

Spesialis Santet yang Berprofesi Sebagai Makelar Tanah

HS alias Kanjeng Sultan ditangkap polisi Kebumen lantaran diduga mencabuli gadis atau anak di bawah umur. (Foto: Liputan6.com/Polres Kebumen/Muhamad Ridlo)
HS alias Kanjeng Sultan ditangkap polisi Kebumen lantaran diduga mencabuli gadis atau anak di bawah umur. (Foto: Liputan6.com/Polres Kebumen/Muhamad Ridlo)

2. Sebutan Kanjeng Sultan ia dapatkan dari mahluk gaib yang ditaklukannya ketika mengobati orang kesurupan. Sesaat sebelum siuman dari kesurupannya, makhluk gaib, lewat mulut pasien selalu menyebutnya sebagai Kanjeng Sultan.

Karenanya, HS lantas memperkenalkan diri sebagai Kanjeng Sultan. Sebelumnya, ia mengaku bernama Kiai Syawal, sebuah julukan yang tak jelas muasal dan sama misteriusnya dengan padepokannya yang tertutup rapat.

3. Kesehariannya, Kanjeng Sultan adalah seorang paranormal atau dukun yang mengklaim dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, mulai penyakit lahir maupun penyakit akibat klenik.

Salah satu spesialisasinya, sebagaimana pengakuannya, adalah menetralkan santet. Pasien terjauh Kanjeng Sultan, diklaim berasal dari Kamboja.

4. Di luar profesinya yang dekat-dekat dengan klenik alias dukun, Kanjeng Sultan juga punya profesi lain yakni, makelar tanah dan bisnis jual beli kendaraan.

Pendapatannya itu digunakannya untuk menghidupi anak dan istrinya yang tinggal satu atap di rumah di Desa Tepakyang Kecamatan Adimulyo Kebumen.

Di keluarganya, Kanjeng Sultan adalah anak nomer tiga dari lima bersaudara. Ia memiliki dua kakak perempuan.

 

3 of 3

Berpindah Ratusan Pesantren dalam 30 Tahun

HS alias Kanjeng Sultan ditangkap polisi Kebumen lantaran diduga mencabuli gadis atau anak di bawah umur. (Foto: Liputan6.com/Polres Kebumen/Muhamad Ridlo)
HS alias Kanjeng Sultan ditangkap polisi Kebumen lantaran diduga mencabuli gadis atau anak di bawah umur. (Foto: Liputan6.com/Polres Kebumen/Muhamad Ridlo)

5. Kanjeng Sultan mengaku keilmuannya telah mencapai level makrifat. Nyawanya bisa keluar dari raga sesuai kehendaknya.

Faktanya, Kanjeng Sultan hanya menempuh pendidikan reguler sampai lulus SMP. Ia lebih banyak mencicip ilmu agama dari Pondok pesantren satu ke pondok pesantren lain selama 30 tahun melanglang buana. Ia berpindah pindah-pindah hingga mencapai ratusan pondok pesantren di pulau Jawa.

Bahkan berdasar pengakuannya, Kanjeng Sultan harus menjadi kuli untuk biaya hidupnya saat merantau menimba ilmu. Ia meninggalkan kota kebumen dari tahun 1984 dan kembali ke Kebumen pada tahun 2009.

6. Kanjeng Sultan memiliki kurang lebih 30 santri dari dalam maupun luar Kebumen. Tetapi, tak ada satu pun pengikut yang berasal dari Desa Tepakyang.

Sebab itu, warga tak tahu ajaran apa yang dipelajari di padepokan Kanjeng Sultan. Padepokan itu juga tertutup, dengan tembok keliling yang tinggi.

Sebuah rumah besar berdiri di dekat padepokan dan menjadi rumah tinggal bagi seluruh istri dan belasan anaknya.

Lanjutkan Membaca ↓