Potret Penambang Pasir Tradisional Gorontalo yang Makin Tergerus Zaman

Oleh Arfandi Ibrahim pada 01 Jan 2019, 05:00 WIB
Diperbarui 01 Jan 2019, 05:00 WIB
Tambang Pasir Tradisional
Perbesar
Foto: Arfandi Ibrahim/ Liputan6.com

Liputan6.com, Gorontalo - Lelaki berumur (50) itu terlihat sibuk mengayunkan sekop untuk menurunkan pasir yang di ambil dari sungai Bulango, Kecamatan Bulango Utara, Kabupaten Bone Bolango. Sesekali ia membenarkan posisi topinya yang sering miring. Ia terlihat begitu ceria, meski pun hanya menjadi seorang penambang pasir tradisional.

Sebut saja Kasim Podu. Ia adalah warga Desa Ilomaya. Pria yang lahir 50 tahun lalu itu begitu bersemangat mencari pasir yang ada di dasar sungai Bulango tersebut. Bahkan walaupun melawan arus deras dan dalamnya sungai Bulango itu tidak menjadi penghalang bagi kasim untuk tetap menekuni pekerjaanya itu.

Baginya itu merupakan makanan setiap harinya demi menghidupi istri dan kedua anaknya, terlihat Kasim harus menahan dingin karena harus berjam-jam merendam di air untuk mengisi rakitnya sampai penuh.

"Modal saya cuma sebuah sekop rakit dan Ember yang selalu melengkapi pekerjaan saya," kata Kasim ketika disambangi Liputan6.com, Senin, (31/12/21018).

Pria yang akrab disapa Ka Simu tidak kurang 10 tahun menjadi seorang penambang pasir tradisional Sungai Bulango. Sebelum menjadi Penambang Pasir, pekerjaan serupa juga yakni penambang batu gunung di Desa Ilomaya.

Kasim kini memiliki istri dan 2 orang anak. Menjadi seorang penambang pasir tradisional kata Kasim memang terlihat mudah. Namun sebenarnya tidak demikian. Seorang Penambang Pasir benar-benar harus bersabar melawan arus dan dalamnya sungai.

Selain itu Kasim harus melawan dingin karena berjam-jam berendam di air, apalagi jika datang musim hujan air menjadi keruh dan arusnya bertambah deras.

Tak peduli hujan atau panas, harus tetap bekerja di lapangan. Kerja panas-panasan atau hujan-hujanan itu akan membuahkan hasil yang baginya menggembirakan. Pendapatan bisa sampai Rp 70 ribu per hari ketika ada pelanggan yang memesan. Hanya saja tak selamanya manis. Kadang Pasir yang sudah tertumpuk harus menunggu pemesan sampai dengan berminggu-minggu.

"Saya turun kerja sejak pukul 07.30 Wita hingga pukul 17.00 Wita. Kadang hasilnya sangat bagus, tapi kadang tidak cukup. Tapi tetap saya syukuri," kata Kasim.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Bertarung Melawan Mesin

Tambang Pasir Tradisional
Perbesar
Foto: Arfandi Ibrahim/ Liputan6.com

Kasim bercerita, tahun kemarin pemesan yang datang untuk membeli pasir setiap harinya banyak, namun saat ini dalam sehari saja bahkan tidak ada yang datang. kesulitannya bertambah. Tidak hanya mencari uang, tetapi juga memberi makan setiap hari kepada anak-anaknya yang rata-rata masih duduk di bangku TK dan sekolah dasar.

"Dulu mencari pasir itu sangat mudah sekali, namun dengan adanya tambang pasir modern seperti sekarang ini pendapatan saya menrun drastis. orang-orang paling banyak sudah mengambil pasir di penambang modern," ujarnya.

Ia menambahkan, saat ini kesulitanya bertambah berat. Saat ini pasir susah dicari karena sudah hampir habis disedot oleh penambang modern yang mengunakan mesin, disisi lain saya pun harus membiayai hidup anak-anak saya yang saat ini masih belia.

"Untuk makan setiap hari pun saya sangat susah," katanya menambahkan.

 

Simak juga video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓