Memetik Makna Natal di Negeri Serambi Makkah

Oleh Rino Abonita pada 25 Des 2018, 16:02 WIB
Diperbarui 27 Des 2018, 12:13 WIB
Ilustrasi pohon natal (iStock)

Liputan6.com, Aceh - Merayakan Natal di Aceh memiliki makna tersendiri. Seorang jemaat Methodist, Sheilisa menuturkan pengalamannya selama menetap dan merayakan Natal di negeri berjuluk Serambi Makkah.

Bagi perempuan kelahiran Banda Aceh, 13 Juli 1972 ini, merayakan Natal di Aceh tentu berbeda dengan merayakan Natal di daerah lainnya. Seperti kita tahu, jumlah umat Kristiani di Aceh tidaklah banyak.

Penelusuran Liputan6.com, total jumlah penduduk Aceh yang menganut Protestan dan Katolik sebanyak 53.624 jiwa atau sekitar 1,19 persen dari 4.494.410 jiwa jumlah penduduk Aceh. Sedangkan, jumlah gereja sebanyak 154 gereja berdiri di seluruh wilayah Aceh.

"Karena saya dari kecil sudah di Aceh. Tepatnya lahir di Aceh alias produk lokal. Tentu saya merasakan dan melihat bagaimana perjalanan perayaan Natal dari tahun ke tahun," tutur Sheilisa kepada Liputan6.com, Selasa, 25 Desember 2018, dini hari.

Perempuan bernama panjang Sheilisa Pieter ini merasa bersyukur dia dan keluarga tetap bisa merayakan Natal kendati berada di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas Muslim. Walaupun, adakalanya perempuan murah senyum ini merasa sedikit iri dengan perayaan Natal di tempat lain yang cenderung lebih hidup suasananya.

Sebagai catatan, sama seperti perayaan Natal sebelumnya, perayaan di Aceh mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Mereka berjaga-jaga di sekitar gereja guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

 

2 dari 2 halaman

Harapan Besar untuk Indonesia Satu

Ucapan Cinta Kasih Perayaan Natal
Ilustrasi Hari Natal (Foto: pixabay.com)

Sheilisa punya sejumlah harapan pada peringatan kelahiran Yesus kali ini. Natal tahun ini bertema 'Engkau Memperoleh Kasih Karunia'.

Tidak hanya perubahan dalam konteks pribadi, Sheilisa berharap, semua warna atau perbedaan yang ada di Indonesia kian harmonis, dipersatukan oleh Bhinneka Tunggal Ika.

"Selanjutnya, harapan Natal tahun ini, negara kita makin jaya, pemimpinnya makin bijaksana dalam mengemban tugas, lebih mengerti arti, tugas dan rakyat itu apa," ucapnya.

Selain itu, penting bagi seorang pemimpin sadar akan keberagamaan dan kemajemukan yang ada di Indonesia. Sehingga, setiap keputusan yang diambil bisa melindungi dan memberi rasa nyaman bagi semua.

"Kekayaan Indonesia adalah keberagamannya, kebinekaannya. Jika ini disamarkan, maka kebinaran Indonesia juga akan pudar," tegas dia.

Sebagai jemaat Methodist, Sheilisa dan keluarga akan menuju ke salah satu gereja Methodis yang ada di Banda Aceh. Dia membawa serta harapan tersebut.

Harapan Indonesia yang berbeda-beda, tetapi tetap satu jua. "Di mana kita bisa hidup damai satu sama lain," demikian asanya.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓