Perempuan yang Mengabadikan Cinta Melalui Tsunami

Oleh Rino Abonita pada 21 Des 2018, 12:00 WIB
Diperbarui 21 Des 2018, 12:00 WIB
14 Tahun Tsunami Aceh

Liputan6.com, Aceh - Malam itu, bulan di langit Aceh begitu bulat dan dekat. Cahayanya menyinari seluruh lantai dermaga. Kau dan Zul saling bertatap-tatapan. Lelaki yang kau panggil "kekasih" itu memegang tanganmu. Sangat erat dan hangat.

Degup jantung dan debur ombak kala itu menyatu. Membentuk rima, melahirkan komposisi nada yang romantis, menjadi latar perjanjian suci yang kau dan dia ikrarkan. Di antara kerlip lampu kapal yang memantul di permukaan laut nun jauh di ambang cakrawala, dia mengecupmu mesra.

Di dermaga malam itu, tidak ada kapal yang berlabuh. Hanya siput laut menepi ke karang, dan beberapa ombak kecil yang setia menggerayangi beton-beton dermaga yang berlumut. Beberapa pemancing sesekali menyeringai, melihat tingkah kau dan Zul yang tak mau ambil peduli akan kehadiran mereka.

"Tiga hari lagi, aku akan meminangmu. Segala sesuatunya sudah disiapkan. Tahun depan kita menikah," ujarmu, mengulang ikrar lelaki tersebut. Saat itu, tak sepatah kata pun kau ucapkan. Karena diam telah menjawab semuanya. 

Belasan tahun berlalu, ikrar tersebut masih kau jaga. Perjanjian suci itu mengabadi, kendati dermaga itu telah hancur lebur, kapal-kapal pecah dihantam karang, atau mungkin, para pemancing yang menemani kalian malam itu, juga hilang tanpa nisan, terkubur di antah berantah.

Ketika itu, 26 Desember 2004, bala datang tiba-tiba. Pukul 07.59 waktu setempat, gempa berkekuatan 9,1 sampai 9,3 Skala Richter mengguncang dasar laut di barat daya Sumatra, sekitar 20 sampai 25 kilometer lepas pantai. Hanya dalam beberapa jam saja, gelombang tsunami dari gempa itu mencapai daratan Afrika.

Air bah menyapu hampir seluruh kawasan pantai barat selatan Aceh. Ribuan nyawa meregang, digulung lumpur hitam mengandung belerang. Para ayah kepada anaknya, ibu kepada buah hatinya, anak kepada orangtuanya, kekasih kepada kekasihnya, semua tak sempat berpesan betapa cinta yang selama ini mereka berikan masih begitu sedikit. Dalam hitungan menit, 130 ribu lebih nyawa tercerabut dari tubuh para pemiliknya.

 

2 dari 4 halaman

Mencari yang Terkasih

Siang itu, kau berjalan gontai, menerobos puing-puing, patahan kayu, dan beton bangunan yang roboh. Kakimu tertatih sambil menahan perih luka yang menganga lebar. Sakit itu kau tahan, sebab ada luka yang lebih besar. Hingga minggu kedua pascabencana itu, yang terkasih belum juga ada kabar berita.

Beberapa potong baju lusuh miliknya yang kau temukan di pekarangan rumah kekasihmu yang telah rata oleh tanah itu, kau bawa pulang. Kau cuci dan kau simpan, seperti kau menyimpan cintamu belasan tahun kelak. Sama halnya dengan liontin pemberian Zul, yang sudah karatan itu. 

Puluhan kantong jenazah yang tergeletak di dekat rumah kekasihmu kau singkap satu persatu. Kau lihat lekat-lekat wajah-wajah kaku tersebut, berharap diantaranya ada wajah kekasihmu. Kau juga menyambangi masjid. Semua kantong jenazah yang kau buka tanpa rasa jijik itu tak satupun terdapat wajah yang serupa dengan kekasihmu, Zul.

"Saat itu, dia terus mencari. Bulan ke bulan. Bertanya sama keluarga, sama kawan-kawannya. Namun, tidak ada kabar juga. Tidak ada yang tahu. Pernah suatu hari katanya selamat, ada di Banda Aceh. Pas di cek, rupanya bukan. Itu Zul lain. Sebulan dia kayak orang gila gitu," tutur Santi, teman yang setia menemani hari-hari di saat kau sedang berkabung. 

Sahabatmu itu tidak dapat membayangkan, betapa kurusnya dirimu saat itu. Semua sarannya agar kau peduli dengan kesehatanmu kau acuhkan. Nasihat-nasihat keluargamu juga mental. Ibrah mereka tak kau bantah, tapi juga tidak kau dengar.

Kau lebih banyak diam dan mengiyakan, tapi hatimu menolak. Kau bahkan sempat ingin menghabisi nyawamu sendiri. Hingga akhirnya, ibumu yang renta itu mengingatkan bahwa Allah akan murka dengan perbuatanmu.

 

3 dari 4 halaman

Mengingat Tsunami, Mengabadikan Cinta

Ketika Liputan6.com mewawancarai SM (35), di sebuah kafe yang ada di kawasan pantai Ujung Karang, di Aceh Barat, pada Kamis, 20 Desember 2018, dia mengaku masih menyimpan liontin berbentuk hati, yang diatasnya tertulis namanya dan Zul. Di bawah nama mereka ditempa kalimat 'till die'.

"Tsunami adalah pengingat. Kami sudah berjanji. Mungkin ini klasik. Jasadnya tak pernah di temukan. Tidak pernah ada tanda-tanda lewat mimpi, ada di mana. Tapi sosoknya sering hadir di dalam mimpi. Pernah, suatu kali dia terlihat tersenyum," tutur SM, kepada Liputan6.com, dengan nada agak berat dan serak.

Menjelang 14 tahun peringatan gempa dan tsunami, SM masih menyimpan cintanya itu. Perempuan yang saat ini bekerja di salah satu toko pakaian di Medan, Sumatera Utara ini, telah menutup pintu hatinya rapat-rapat. Dia tidak mau ada nama lain selain Zul. Beberapa pria coba mengetuk, tapi pulang dengan kecewa.

 

4 dari 4 halaman

Dari Kuburan Massal ke Kuburan Massal

14 Tahun Tsunami Aceh
Salah satu kompleks kuburan massal di Aceh Barat. (Liputan6.com/ Rino Abonita)

Jika hari peringatan di mana musibah itu terjadi tiba, SM akan berziarah dari satu kuburan massal ke kuburan massal yang ada di Kabupaten Aceh Barat. Dia berharap, kekasihnya, Zul, ada di antara yang dikebumikan itu.

"Saya kira itu juga dilakukan oleh orang lain yang jasad keluarganya tidak pernah ditemukan jasadnya. Saya datang jauh-jauh. Sekali dalam setahun, kita berdo'a tidak rugi. Bukan hanya untuk Zul, tapi untuk semua korban," ujar SM, seraya menatap langit-langit kafe yang lapuk, lalu memindahkan arah pandangannya ke arah laut.

SM, yang saat ini berdomisili di Medan itu sengaja menginap beberapa malam di rumah Santi. Dia menanti datangnya hari peringatan, yang hanya tinggal hitungan jari. Sebelum beranjak pamit, SM dan Santi sempat mengajak Liputan6.com memasuki salah satu pekarangan kuburan massal yang terletak tak jauh dari kafe tempat kami berbincang.

Di tengah pekarangan kuburan massal yang dibangun berkat kerja sama Pemerintah Indonesia dan Singapura itu, terdapat sebuah beton. Di beton tersebut, terukir sebuah paragraf, berisikan kalimat Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, yang diperuntukkan untuk korban gempa dan tsunami di Aceh.

"Kita tidak perlu mengenal siapa para korban untuk memahami perasaan seorang suami yang kehilangan istri, seorang ibu yang kehilangan anak, dan anak-anak yang menjadi yatim piatu atau mereka yang masih tetap mencari sanak saudaranya yang hilang dan berharap semoga mereka selamat. Sebab, masing-masing kita memiliki keluarga dan kita tahu, betapa berartinya mereka bagi kita," demikian kalimat tersebut.

 

Simak juga video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓