Kronologi Tewasnya 7 Mahasiswa UNPRI di Pemandian Air Panas

Oleh Reza Efendi pada 04 Des 2018, 14:32 WIB
Diperbarui 04 Des 2018, 14:32 WIB
Tembok Pemandian Air Panas Roboh

Liputan6.com, Medan - Rektor Universitas Prima Indonesia (UNPRI), Chrismis Novalinda Ginting, angkat bicara terkait peristiwa yang menewaskan tujuh orang mahasiswanya di pemandian air panas Daun Paris, Desa Raja Berneh, Kecamatan Merdeka, Kabupaten Karo.

Chrismis menegaskan, liburan atau disebut dengan malam keakraban dilakukan para korban di Pemandian Air Panas Daun paris Raja Berneh Kecamatan Merdeka Kabupaten Karo, tanpa sepengetahuan pihak rektorat.

"Informasi yang kita dapat, para mahasiswa ini berlibur dan berwisata di sana atas inisiatif mereka sendiri," ujarnya.

Chrismis menerangkan, saat ini tim dari rektorat masih berada di RS Amanda dan RS Efarina untuk memdampingi korban luka yang masih dirawat. Tim Rektorat juga tetap berkomunikasi dengan pihak keluarga korban.

"Atas peristiwa tersebut, civitas akademika UNPRI menyampaikan turut berbelasungkawa dan turut berdukacita," ucapnya.

Peristiwa tanah longsor pemandian air panas Daun Paris, Desa Raja Berneh, Kecamatan Merdeka, Kabupaten Karo terjadi pada Minggu, 2 Desember 2018, sekitar pukul 06.00 WIB. Dalam peristiwa itu sebanyak 16 korban, tujuh orang meninggal dunia dan sembilan orang mengalami luka-luka. 

Tujuh mahasiswa Universitas Prima Indonesia (UNPRI) meninggal dunia setelah tertimpa bangunan roboh saat sedang berada di pemandian air panas Daun Paris, di Desa Raja Berneh, Kecamatan Merdeka, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Pengendali Bencana Daerah (BPBD) Karo, Natanail Peranginangin mengatakan, peristiwa tersebut terjadi bukan karena longsor, melainkan murni karena bangunan penahan air roboh dan menimpa ketujuh mahasiswa yang sedang mandi di bawahnya.

Peristiwa tersebut bermula saat para mahasiswa mengikuti malam keakraban yang digelar Ikatan Mahasiswa Karo (IMKA) UNPRI pada akhir pekan silam. Saat masuk ke kawasan destinasi wisata ini, mereka berjumlah sekitar 53 mahasiswa.

Setelah kegiatan, para korban beristirahat di dalam pondok-pondok yang ada di pemandian. Pada saat itu, hujan melanda Kabupaten Karo dengan intensitas tinggi. Di saat itu juga, tembok yang berbatasan langsung dengan dinding tebing roboh.

"Mungkin karena konstruksi tanahnya yang tidak sesuai. Ini sedang diselidiki pihak kepolisian," ungkap Natanail.

 

Natanail mengungkapkan, saat ini evakuasi korban sudah dihentikan. Menurut data BPBD Karo, semua korban sudah dievakuasi dan lokasi bangunan yang roboh sudah diberi garis polisi.

Diimbau kepada para pemilik pemandian meninjau kembali konstruksi dan perizinan kepada pemerintahan.

"Sesuai instruksi dari Bupati Karo, Terkelin Brahmana, yang juga sempat meninjau lokasi. Kita tidak ingin kejadian serupa terulang. Karena kawasan itu berpotensi terjadi bencana alam," ungkapnya.

Saksikan video pilihan berikut ini: