Menyelami Tari Seudati, Menemukan Binaran Cahaya Illahi

Oleh Rino Abonita pada 23 Nov 2018, 08:01 WIB
Diperbarui 24 Nov 2018, 10:13 WIB
Tari Seudati

Liputan6.com, Aceh - "Assalamualaikum Lon tamong lam seung, Lon jak bri saleum keu bang syekh teungku…," terdengar aneuk syahi membuka salam. 

Sejurus kemudian, para pria itu tampak bergerak serasi memeragakan likok (gerakan) mengikuti nyanyian yang dilantunkan aneuk syahi. Tangan mereka melambai lincah, bergelombang, seirama nada yang terdengar konstan dari jentikan jari-jari mereka.

Para penari itu bergerak membentuk formasi tertentu. Terkadang persegi, melingkar, atau berbaris sejajar. Sementara itu, cahaya kuning dari lampu pijar terlihat diserap oleh latar pangggung yang sarat akan warna-warna rastafarian.

Baju dan celana putih yang mereka kenakan tampak kontras dengan warna kulit beberapa penari yang hitam manis.

"Plakk!" serentak para penari itu memukulkan kedua telapak tangannya ke perut bagian bawah. Berselang dua detik terdengar lagi bunyi yang sama. Meski tidak ada iringan musik, likok (gaya tarian), saman (melodi), irama kelincahan, serta hikayat yang diperdengarkan seolah membius para penonton.

Meski jarum jam di angka tengah malam, penonton enggan pulang.

Malam itu, Rabu (21/11/2018), Liputan6.com, berkesempatan menonton gelaran kelompok Seudati dari salah satu sanggar di Aceh Barat yang diundang untuk mengisi acara pernikahan warga setempat.

Sebagai catatan, pagelaran Seudati, sejatinya memang tidak diiringi musik. Sebagai tarian, Seudati hanya menampilkan gerakan rampak, seperti tepukan tangan ke dada dan di perut bagian bawah (pinggul), hentakan kaki ke tanah, serta petikan jari. Gerakan tersebut mengikuti irama dan tempo lagu yang dinyanyikan seorang syekh.

Seudati dimainkan delapan orang laki-laki sebagai penari utama, terdiri dari satu orang yang disebut syekh, satu orang pembantu syekh, dua orang pembantu di sebelah kiri yang disebut apeet wie, satu orang pembantu di belakang yang disebut apeet bak, dan tiga orang pembantu biasa. Selain itu, ada pula dua orang penyanyi sebagai pengiring tari yang disebut aneuk syahi.

Busana yang dikenakan para penari utama Seudati, yakni celana dan kaus oblong berlengan panjang, ketat dan berwarna putih.

Penari mengenakan kain songket yang dililitkan di pinggang sebatas paha. Lazimnya, mereka menyelipkan satu bilah rencong di pinggang masing-masing. Yang terakhir, para penari wajib mengenakan tangkulok (ikat kepala) berwarna merah dan sapu tangan.

Gerakan dalam Seudati cenderung dinamis, lincah dan penuh semangat. Namun, terdapat pula beberapa gerakan yang tampak kaku. Gerakan ini menonjolkan keperkasaan dan kegagahan si penari. Tepukan tangan ke dada dan pinggul mengesankan kesombongan sekaligus ksatria.

Kesan ksatria yang ditampilkan para penari Seudati sesuai pula dengan syair kepahlawanan yang sering dinyanyikan dalam tarian itu. Sebagai catatan, syair dalam Seudati banyak bertema epos, atau kisah kepahlawanan dalam menegakkan agama melalui 'jihad fi sabilillah'.

Hal ini pula yang menjadi sebab mengapa pada masa kolonial Belanda, Seudati dilarang ditampilkan. Oleh pihak Belanda, tarian ini dianggap bisa memprovokasi orang Aceh untuk melawan Belanda yang saat itu secara de jure sudah menguasai Aceh.

Karena syair dalam tarian Seudati bisa membangkitkan semangat orang Aceh untuk berperang melawan Belanda, maka Seudati dapat dikategorikan sebagai Tribal War Dance atau Tari Perang.

2 of 3

Asal Muasal Seudati

ilustrasi tarian
ilustrasi tarian (Foto: Gondwana Choirs)

Dalam banyak literasi disebutkan, Seudati pada mulanya tumbuh di Desa Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie. Saat itu dipimpin Syekh Tam. Kemudian berkembang ke Desa Didoh, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie yang dipimpin Syekh Ali Didoh.

Ada pula yang menuliskan, Seudati merupakan tarian pesisir yang disebut ratoh atau ratoih, yang artinya menceritakan.

Dalam ratoh diceritakan berbagai hal, dari kisah sedih, gembira, nasihat, sampai pada kisah-kisah yang membangkitkan semangat.

Sebagian lagi menyebutkan, Seudati berasal dari komunitas tarekat yang dibangkitkan oleh Syekh tarekat Saman.

Karena itu, tari Seudati dalam bahasa Aceh juga dinamakan dengan 'meusamman'. Perkatan Seudati sendiri berasal dari bahasa tarekat 'ya sadati', yang artinya 'wahai tuan guru'.

Pendapat lain mengatakan, Seudati berasal dari bahasa Arab shahadatayn yang bermakna dua kalimat syahadat dalam Islam, karena tarian ini memang mengajak orang-orang yang menyaksikan seni tari tersebut untuk masuk ke dalam Islam dengan terlebih dahulu mengucapkan dua kalimat syahadat atau shahadatayn yang dalam logat Aceh diucapkan Seudati.

3 of 3

Seudati, Sebuah Media Sufistik

ilutrasi tarian aceh
ilutrasi tarian aceh (Foto: Vimeo)

Menurut pengamat budaya Aceh, dari Meulaboh, Alam Zulfakar, Seudati bermakna sebuah pernyataan atau penyerahan diri memasuki agama Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Hal ini dapat dilihat dari pemberian nama bagi pimpinan tarian ini dengan sebutan "syekh", yang biasanya gelar tersebut diberikan kepada pemimpin agama. Sebelum digubah menjadi syair bersifat umum, sejatinya, Seudati diisi zikir atau syair agama.

"Pantun-pantun dalam Seudati pada masa penciptaannya terdiri dari zikir dan syair agama. Lalu, berubah menjadi pantun-pantun yang digubah sesuai dengan tujuan tari yang akan dilakukan," ungkap Zulfakar kepada Liputan6.com, Kamis malam (22/11/2018).

Menurut Zulfakar, syair dalam tarian Seudati memiliki kekuatan spiritual yang mengikat. Dengan kata lain, Zulfakar hendak mengatakan, syair dalam Seudati, menjadi "suggest spiritual" bagi pelaku (penari) dan penikmatnya (penonton).

Lebih jauh, Ridwan Hasan dalam jurnal Al-Tahrir Volume 13 yang terbit pada Mei 2013 lalu mengemukakan, Seudati tidak semata menjadi media estetika, tetapi bisa menjadi media edukasi sufistik untuk mengembangkan nilai socio-religius dalam membangun simbol dan identitas masyarakat Aceh.

Praktik syariah dan aspek estetika dari Seudati dapat dipahami secara harmonis dan proporsional. Gabungan keduanya bisa menjadikan seni tari sebagai media edukasi sufistik yang adaptif dan solutif.

Sebagai bagian dari tasawuf, tarian yang ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda nasional oleh Kemendikbud pada November 2015 tersebut, bisa menjadi alternatif bagi kebutuhan spiritual pelaku dan penikmatnya.

Hal ini berkaitan erat dengan kenyataan, kalau tasawuf adalah sebuah tradisi yang hidup dari doktrin-doktrin metafisis dan kosmologis, untuk mengantarkan manusia menuju kesempurnaan dan ketenangan hidup di era modern ini. 

Simak juga video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by