Teknologi Anti Penjarahan Bantuan, Buatan Siswa MTs Desa

pada 12 Nov 2018, 14:00 WIB
atmsiswa

Sragen - Gempa Palu-Donggala yang disusul tsunami ternyata menghasilkan ide dan karya luar biasa pada dua siswa MTSN 8 Sragen di Kalijambe. Menyaksikan ricuhnya pembagian bantuan bahan pokok, dua siswa ini membuat ATM (Automatic Teller Machine) pembagi Sembako.

Adalah Dicky Surya Atmaja (13) kelas VIII dan Haya Nur Fadhila (12) kelas VII, dua anak desa yang inovatif ini. Karya mereka juga diikutkan dalam kompetisi robotika nasional 2018 yang digelar di Depok Town Square, Depok, Jawa Barat. Langsung menohok menjadi juara 2.

"Bangga mas bisa jadi juara di nasional," kata Dicky didampingi Haya, Sabtu, 10 November 2018 kepada Joglosemarnews.com.

Bukan hanya juara 2, namun juga terpilih sebagai The Best Technology dalam ajang nasional itu.

Ide merancang mesin ATM pembagi sembako itu muncul saat melihat tayangan televisi yang memberitakan kericuhan pembagian bantuan untuk korban gempa Palu beberapa waktu lalu.

"Ngeri. Ada dorong-dorongan bahkan penjarahan karena bantuan tak tersalur merata," kata Dicky.

Dengan mesin ATM sembako, pemerintah hanya perlu menyediakan kartu chip kepada warga korban bencana dan semua bantuan sembako tinggal diisikan ke dalam mesin ATM.

"Warga tinggal menempelkan kartu chip ke bagian sembako yang ia inginkan. Kalau ke mi instan ya ditempelkan maka akan keluar mi instan. Kalau air mineral ya akan keluar air mineralnya," kata Haya menimpali.

Dengan demikian bantuan bisa terdistribusi lebih merata.

"Karena nggak ada yang bisa mengambil berulang. Jadi gempa palu-donggala kemarin hanya pemantik ide. Selebihnya bisa dibuat yang bersifat mobile," kata Dicky.

Ikuti berita menarik dari Joglosemarnews.com di tautan ini.

Simak video pilihan berikut :

 

2 of 2

Tak Punya Hape Jadi Diam

atmsiswa
Kepala Sekolah MTs N Kalijambe Sragen, Muawanatul Badriyah mendampingi dua siswanya peraih juara nasional Kompetisi Robotika 2018. (Foto: Liputan6.com/joglosemarnews.com/Wardoyo)

Inovasi ATM sembako itu dirancang dan dibuat hanya dalam 3 minggu. Peralatannya dibeli dari toko online dan dirakit dengan bimbingan guru serta Kepala Sekolah.

Kepala MTsN 8 Sragen, Muawanatul Badriyah mengaku terharu. Prestasi ini menjadi sejarah bagi dunia MTs N di Sragen yang mampu meraih prestasi juara nasional.

Ada kebanggaan, namun juga mampu membuat terharu. Selain latar belakang sekolah MTs N Kalijambe yang ada di pelosok desa, kedua siswa berprestasi itu ternyata berasal dari keluarga pas-pasan.

Dicky Surya Atmaja adalah anak yatim dari Dukuh Dugan, Trobayan, Kalijambe, Sragen. Ia anak yatim penjual nasi goreng. Sedangkan Haya Nur Fadhila, sedikit lebih beruntung karena tinggal di perumahan di kota Solo.

"Itu yang membuat saya trenyuh. Rasane krenteg di hati itu agak gimana gitu setelah tahu mereka dapat juara," kata Muawanatul Badriyah, sang Kepala Sekolah.

Dicky maupun Hafa tak minder saat presentasi. Meski diakui mereka juga lebih pendiam saat menunggu giliran presentasi.

"Mereka hanya diam, sedangkan para finalis lain semua dengan gawai android mereka. Keterbatasan ekonomi memang membuat orangtua Dicky dan Haya memilih tak membelikan gawai untuk mereka. Anak saya nggak punya hape, jadi trenyuh (terharu) juga," kata Ana.

Ana berharap agar prestasi kedua anak didiknya itu bisa menginspirasi yang lain. Sekolah di desa dan kota, dengan fasilitas lengkap atau minim, bisa saja mereka berkompetisi.

"Sekolah di desa dengan fasilitas minim, nyatanya bisa berprestasi kalau punya tekad untuk maju," kata Ana.

Lanjutkan Membaca ↓