Garut Ajukan Gelar Pahlawan untuk RA Lasminingrat dan Kiai Anwar Musaddad

Oleh Jayadi Supriadin pada 12 Nov 2018, 13:00 WIB
Diperbarui 12 Nov 2018, 13:00 WIB
Deretan makam pahwalan di Taman Makam Pahlawan Patriot Garut
Perbesar
Deretan makam pahwalan di Taman Makam Pahlawan Patriot Garut (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Liputan6.com, Garut - Beberapa kali gagal, pemerintah daerah (Pemda) Garut, Jawa Barat, tak patah arang kembali mengajukan Raden Ayu Lasminingrat dan Prof. KH Anwar Musaddad ke pemerintah pusat, sebagai pahlawan nasional dari Garut.

“Tahun depan kita akan ajukan lagi, tahun lalu kan kekurangannya soal materilnya, saya sendiri tidak tahu apa itu,” ujar Bupati Garut Rudy Gunawan, kemarin.

Menurutnya, masyarakat kota Intan sangat merindukan adanya sosok pahlawan nasional dari Garut, upaya itu penting untuk menumbuhkan semangat juang bagi masyarakat dan generasi selanjutnya.

“Kalau menurut kami kedua tokoh itu sudah layak menjadi pahlawan nasional,” ujar dia.

Sebelumnya, Garut telah mengajukan dua sosok pejuang asli Garut kepada pemerintah agar dianugerahi pahlawan nasional, mereka adalah Raden Ayu Lasminingrat, salah satu tokoh tokoh literasi apada era sebelum kemerdekaan.

Serta Prof KH Anwar Musaddad, ulama kharismatik yang menguasai beberapa bahasa hingga kerap dikenal sebagai penerjemaah utama Presiden Soekarno pada masanya.

Namun sayang hingga kini kedua tokoh itu belum mendapat pengakuan dari pemerintah pusat. Kurangnya data material kedua sosok itu diduga merupakan pengganjal utama diterbitkannya kriteria pahlawan nasional bagi keduanya.

“Misalkan saat memegang senjata, ya dokumen seputar itu pokoknya kekurangannya syarat materil,” ujar Rudy menambahkan.

RA Lasminingrat memang sebuah kebanggaan bagi masyarakat Garut hingga kini. Sosok istri mantan Bupati Garut Arianudatar ini, sejak lama dikenal sebagai tokoh literasi nasional, bahkan banyak karyanya yang telah diterjemaahkan dalam bahasa Belanda, jauh sebelum Kartini (1879) dan Dewi Sartika (1884) lahir.

Namun sayang, minimnya dokumen pendukung tanah air seperti manuskrip dan karya asli lainnya yang tersimpan di perpustakaan nasional, menyebabkan data otentik salah satu tokoh di bidang penulisan dan pendidikan perempuan pertama ini sulit dilacak keberadaannya. Tercatat pada 1871 ia kembali ke tanah air dan menetap di Pendopo Kabupaten Garut hingga menjelang hayatnya.

Sementara itu, Profesor KH Anwar Musaddad adalah salah satu tokoh ulama yang cukup disegani hingga kini, ketokohan dan keilmuannya bahkan hingga kini masih diakui salah satu yang terbaik di Garut. Lembaga pendidikan terbesar Al-Musaddadiyah, Universitas Garut (Uniga), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulloh (UIN) di Bandung, merupakan salah satu bukti hasil tangan dingin KH Anwar Musaddad dalam pengembangan pendidikan tanah air.

Rumah Layak Huni Bagi Veteran

Selain pengajuan ulang kedua tokoh untuk menjadi pahlawan nasional, hal lain yang telah dilakukan Pemda Garut untuk menghormati perjuangan veteran, atau para pejuang yang ikut langsung dalam peperangan dengan penjajah, yakni pemberian rumah layak huni (rutilahu).

“Tahun ini ada 25 rumah rutilahu yang kami bangun buat veteran,” ujar Rudy.

Meskipun terbilang minim dibanding jumlah veretan di Garut, namun lembaganya berjanji untuk tetap memberikan perhatian kepada jasa mereka.  “Tahun 2020 semua veteran dapat bantuan dari pemerintah daerah,” Janji dia.

Namun meskipun demikian, sesuai dengan harapan pemerintah, datangnya momen hari lahir pahlawan yang dirayakan setiap tanggal 10 November, lembaganya berharap kepada masyarakat terutama generasi muda agar tetap berkarya memberikan terbaik bagi daerahnya.

“Harapannya jadi pahlawan di lingkungan masing-masing, dalam rangka menumbuhkan kembali negara republik Indonesia, jangan berpecah belah dan jaga kesetiakawanan nasional,” ujar dia.