Perjuangan Pemuda Tunanetra di Pasuruan, Raih Impian Jadi Penyiar Radio

Oleh Dian Kurniawan pada 03 Nov 2018, 11:03 WIB
Diperbarui 03 Nov 2018, 16:16 WIB
Perjuangan Pemuda Penyandang Tunanetra di Pasuruan, Raih Impian Jadi Penyiar Radio

Liputan6.com, Pasuruan - Meskipun penyandang tunanetra, pemuda keren ini tetep semangat untuk berkarya setiap harinya. Dia lah Deny Kurniawan, warga Desa Sumberagung, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan. Dia merupakan penyiar di dua stasiun radio swasta berbeda di Kota Pasuruan.

Saat masa kecil di kampung halaman dulu, perlakuan perisakan kerap kali dialami penyandang tunanetra ini. Sepertinya saat itu, keceriaan bersama kawan adalah hal yang mustahil baginya. Pernah sepekan ia enggan berangkat ngaji, lantaran perlakuan yang diterimanya.

"Waktu ngaji dulu, ada tiga teman yang suka mengganggu. Sandal diinjak dari belakang, sarung saya dilepas. Satunya, melempari batu kerikil. Saya hanya bisa nangis dan mereka pun senang," kisah Deny saat kecilnya, Kamis (1/11/2018).

'Tidak Sempurna Boleh, Minder Jangan'. Itulah pedoman pemuda 23 tahun ini. Sejak memasuki Sekolah Luar Biasa (SLB), prestasi pun sudah diraihnya, yakni pemenang lomba Pildacil se-Jawa Timur, tahun 2007 silam.

Dari situlah, hasrat Deny kecil menjadi penyiar radio muncul. Meskipun penyandang difabel, bukan alasan baginya untuk putus asa. Gayung bersambut, impian pun terwujud.

"Awal karir saya dimulai saat tahun 2007 itu. Saya diminta jadi penyiar radio di Sekar FM Grati," ungkapnya.

Kepercayaan diri dan karakternya pun semakin kuat, kala Deny masuk SLTA, dan aktif berorganisasi bersama Forum Anak Kota Pasuruan. Sehingga, bersosialisasi dengan banyak orang pun bukan lagi kendala bagi penyandang tunanetra ini.

"Di sana saya diajarkan menyampaikan aspirasi kita sebagai anak. Bisa dalam hal kekerasan atau diskriminasi sesama anak, maupun pendidikan sebaya," kisahnya saat di bangku SLTA.

2 dari 2 halaman

Mahasiswa Berprestasi

Perjuangan Pemuda Penyandang Tunanetra di Pasuruan, Raih Impian Jadi Penyiar Radio
Perjuangan pemuda penyandang tunanetra di Pasuruan, raih impian menjadi penyiar radio. (Liputan.com/ Dian Kurniawan)

Benar saja. Proses tidak akan mengkhianati hasil. Ia menjadi juara dalam perlombaan mengarang dan bercerita. Menyingkirkan sekian kontestan penyandang tunanetra se-provinsi, lewat karya tulis bertajuk 'Peran Anak Berkebutuhan Khusus dalam Perkembangan IPTEK'.

Bukannya tanpa kendala. Mahasiswa semester 3 Prodi Hukum Universitas Merdeka Pasuruan ini, sempat tak bisa mengambil jurusan favoritnya saat mendaftar ke perguruan tinggi.

"Sebenarnya saya tertarik masuk Prodi Pendidikan Kewarganegaraan. Namun, di situ tidak ada fasilitas bagi tunanetra," ucapnya dengan senyum.

Baginya, pendidikan adalah kunci. Ia tak pernah menyerah jika ada hambatan dalam studinya. Dengan aplikasi kusus di laptop dan smartphone, materi dari dosen pun terus dia pelajari.

Deny sangat bersyukur. Kecanggihan teknologi saat ini semakin memudahkan penyandang tunanetra seperti dirinya.

"Saya sendiri ingin membuktikan bahwa saya pun bisa mandiri," ujarnya dengan yakin.

Harapan terbesar Denny saat ini, tak lain ialah membahagiakan kedua orangtuanya. Menurut dia, kebahagiaan itu tak hanya dapat diciptakan dari materi, melainkan dari apa yang dilakukan, meski hal-hal kecil.

"Setelah masuk kampus, saya memang minta belikan laptop untuk menunjang perkuliahan. Namun biaya kuliah, Insya Allah saya akan tanggung sendiri," beber anak pertama dari dua bersaudara itu.

Saat ini, selain aktif sebagai penyiar radio Senkom dan radio Rivana Kota Pasuruan. Denny menjabat sebagai Wakil Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kabupaten Pasuruan, serta tergabung juga sebagai kader aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

"Kesibukannya di organisasi tak membuat saya lalai. Malahan, sebagai penunjang dalam soal pendidikan saya. Terutama di background ilmu hukum," pungkas pemuda pengagum ajaran Bung Karno ini.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓