Orangutan Menyusup ke Kebun, Warga Diimbau Jangan Terprovokasi

Oleh Liputan6.com pada 28 Okt 2018, 09:00 WIB
Diperbarui 28 Okt 2018, 09:00 WIB
Bayi Orangutan Kalimantan
Perbesar
Salah satu induk orangutan Kalimantan, Theodora, menggendong bayinya yang baru lahir di kebun binatang Jardin des Plantes, Paris, Rabu (24/10). Theodora 8 hari lalu baru melahirkan seekor bayi betina yang diberi nama Java. (Eric FEFERBERG/AFP)

Liputan6.com, Sampit - Satwa liar, khususnya orangutan masuk ke kebun warga akibat kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, akibat kebakaran lahan, dan lahan atau penyebab lainnya.

"Kami baru saja mengecek laporan tentang gangguan orangutan di kebun warga. Lokasinya di ruas jalan Lingkar Utara. Informasi warga, orangutan yang muncul jenis jantan, diperkirakan masih berusia remaja," kata Komandan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah Pos Jaga Sampit, Muriansyah di Sampit, Jumat 26 Oktober 2018.

Ia mengatakan, menurut laporan lokasi kemunculan satwa dilindungi dengan nama latin "pongo pygmaeus" itu berada di ruas jalan Lingkar Utara, Gang Anshar, Kecamatan Baamang, Sampit.

Warga sempat melihat Orangutan muncul di kebun mereka sehingga warga memilih menghindar karena khawatir diserang orangutan tersebut.

"Saat tiba di lokasi, petugas langsung menyusuri lokasi sekitar tempat kemunculan orangutan, namun setelah cukup lama berjalan, petugas tidak ada melihat keberadaan orangutan itu," katanya.

Dia mengatakan petugas hanya menemukan beberapa tanda keberadaan satwa liar di kawasan itu. Petugas menemukan delapan sarang lama dan satu sarang baru di atas pohon.

Lahan yang dirusak orangutan tersebut merupakan kebun nenas dan kelapa sawit milik warga, diduga karena orangutan sedang kelaparan. Luasan lahan mencapai puluhan hektare dengan vegetasi dominan semak belukar ditambah sedikit pepohonan.

Petugas BKSDA menilai sumber pakan di kawasan itu tidak ada. Belum lama ini di kawasan itu terjadi kebakaran lahan seluas lima hektare. Menurut informasi warga, di kawasan itu juga pernah terlihat beruang madu.

"Dari hasil observasi, kami menyimpulkan bahwa tingkat kerawanan konflik, masih rendah. Meski begitu, masyarakat diimbau selalu berhati-hati saat beraktivitas di kebun atau hutan agar tidak terjadi konflik dengan orangutan," kata Muriansyah.

Dia mengatakan, orangutan diduga masuk ke kebun warga dan permukiman karena habitatnya rusak dan makin sulit mendapatkan makanan. Penyebabnya bisa akibat perambahan hutan untuk investasi maupun pembalakan liar, serta bisa juga karena dampak kebakaran hutan dan lahan.

"Jika melihat kemunculan orangutan maupun satwa dilindungi lainnya, masyarakat diminta segera melaporkannya ke BKSDA agar bisa dilakukan penangkapan dan evakuasi sesuai aturan dan prosedur sehingga tidak ada yang sampai menjadi korban," ujarnya.

Saksikan video pilihan berikut ini: