Merayu Lebah untuk Tingkatkan Produksi Pertanian Ala Profesor Unsoed

Oleh Muhamad Ridlo pada 28 Okt 2018, 08:01 WIB
Diperbarui 30 Okt 2018, 06:13 WIB
Bunga-bungaan dan tanaman liar untuk mengundang serangga penyerbuk misalnya lebah dalam pertanian terintegrasi di Ponpes Rubat Mbalong Ell Firdaus. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Purwokerto - Sejak masa lalu, petani Indonesia paham, di antara serangga jenis organisme pengganggu tanaman (OPT), ada pula serangga yang berguna dan justru menjadi sahabat petani. Mereka menjadi serangga penyerbuk yang membantu pembuahan.

Misalnya, lebah dan tawon yang selalu mencari nektar beragam bunga. Serangga ini lebih mudah ditemui saat sebuah bentangan tanaman pertanian berdekatan dengan ekosistem yang mendukung kehidupannya.

Pendekatan rekayasa ekosistem untuk pelestarian dan pemanfaatan serangga penyerbuk di dunia merupakan sesuatu yang baru. Pertama kali dikembangkan pada tahun 90-an.

Selanjutnya, teknologi ini dikenal dengan Agri-Enviromental Scheme atau AES. Dan AES banyak dikembangkan di negara-negara Eropa.

Akan tetapi, kepemilikan lahan yang terbatas membuat AES sulit dikembangkan di Indonesia. Karenanya, dibutuhkan teknologi mudah, murah, dan efisien untuk memanfaatkan serangga penyerbuk demi peningkatan produksi pertanian.

Adalah DR Imam Widhiono, Dekan Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman atau Unsoed Purwokerto yang mencoba menerapkan teknologi yang sesuai dengan kondisi Indonesia. Sejak 2009 lalu, Imam meneliti di lahan pertanian Desa Serang Kecamatan Karangreja, Purbalingga.

Hasil penelitian di berbagai habitat di sekitar gunung Slamet menunjukkan bahwa masih ditemukan antara 15 hingga 19 spesies serangga penyerbuk. Keragaman tertinggi ditemukan pada habitat hutan rakyat.

Jarak dari batasan hutan berpengaruh terhadap keragaman dan jumlah serangga penyerbuk pada lahan pertanian stroberi, tomat dan cabai, semakin jauh dari batasan hutan, keragaman dan jumlah serangga penyerbuk semakin menurun.

2 of 3

Penggunaan Lebah Madu Sebagai Serangga Penyerbuk

Ragam lebah dan tawon yang membantu penyerbukan tanaman petani. (Foto: Liputan6.com/Imam Widhiono/Muhamad Ridlo)
Ragam lebah dan tawon yang membantu penyerbukan tanaman petani. (Foto: Liputan6.com/Imam Widhiono/Muhamad Ridlo)

"Hal ini dipengaruhi oleh keragaman tumbuhan liar berbunga dan intensitas cahaya yang tinggi," dia menerangkan, dikutip dari pidatonya saat dikukuhkan menjadi Guru Besar Etnomologi Unsoed, Jumat, 26 Oktober 2018.

Lantas, Imam mencoba membuat sebuah model rekayasa ekosistem yang sesuai dengan petani di Indonesia dengan menggunakan teknologi yang sederhana dan tidak membutuhkan pengetahuan yang tinggi bagi petani dan memberikan keuntungan ekonomis bagi petani.

"Konsep dasar rekayasa ekosistem yang saya kembangkan adalah bagaimana membuat ekosistem bentang lahan pertanian (agriculture landscape) sesuai dengan kebutuhan hidup serangga penyerbuk," ujarnya.

Imam membuat ekosistem serangga penyerbuk dengan memanfaatkan empat spesies tumbuhan liar terbukti dikunjungi serangga penyerbuk sepanjang hari yaitu, Cleome rutidosperma, Borreria laevicaulis, Euphorbia heterophylla, and Tridax procumbers.

Selanjutnya, keempat spesies tumbuhan liar berbunga ini diujicobakan sebagai pengaya lahan pertanian dengan tanaman pokok kacang panjang, buncis, tomat, cabai dan stroberi dengan jumlah 0,5,10 dan 15 persen luas lahan.

Penggunaan lebah madu (Apis cerana javana, A.mellifera dan Trigona laeviceps) pada sistem pertanian terbuka maupun tertutup menunjukkan hasil terjadinya peningkatan produksi dan mutu buah stoberi.

Keragaman dan kelimpahan serangga penyerbuk berhubungan erat dengan ketersediaan sumber pakan dan tempat bersarang yang banyak tersedia pada habitat hutan rakyat. Selain hutan rakyat, hutan tanaman juga mendukung keberadaan keragaman dan kelimpahan serangga penyerbuk.

"Berdasarkan komposisi spesiesnya serangga penyerbuk yang paling banyak ditemukan adalah anggota Hymenoptera yaitu lebah dan tawon," dia menerangkan.

3 of 3

Rekayasa Ekosistem Serangga Penyerbuk

Pengukuhan Prof. DR Imam Widhiono sebagai profesor atau guru besar bidang etnomologi Unsoed Purwokerto. (Foto: Liputan6.com/Humas Unsoed/Muhamad Ridlo)
Pengukuhan Prof. DR Imam Widhiono sebagai profesor atau guru besar bidang etnomologi Unsoed Purwokerto. (Foto: Liputan6.com/Humas Unsoed/Muhamad Ridlo)

Imam mencoba membuat model rekayasa ekosistem untuk meningkatkan produksi berbagai tanaman petani. Di antaranya, stroberi, buncis, tomat, dan cabai.

Rekayasa ekosistem ini ramah terhadap serangga penyerbuk. Ia membuat model ekosistem untuk mengonservasi serangga yang berguna dalam proses penyerbukan.

Dia pun mengklaim, setelah habitat atau ekosistemnya dikonservasi, terjadi peningkatan produksi serta mutu produksi pertanian.

"Serangga penyerbuk merupakan salah satu layanan jasa ekosistem yang sangat penting bagi manusia maupun lingkungan dan berperan sebesar 35 persen penyediaan sumber pangan dunia," ujarnya.

Menurut Imam, pada bidang pertanian penyerbukan tanaman oleh serangga merupakan salah satu kunci keberhasilan produksi pertanian. Sebagian besar tanaman pertanian, sekitar 80 persen, proses penyerbukannya bergantung atau meningkat sejalan dengan meningkatnya kunjungan serangga penyerbuk.

Serangga penyerbuk, terdiri atas beberapa Ordo serangga (Diptera, Coleoptera, Hymenoptera). Menurut Imam, yang perannya sangat penting untuk reproduksi seksual berbagai macam tanaman pertanian, adalah dari Ordo Hymenoptera khususnya lebah.

Lebah dianggap lebih efisien dalam membantu penyerbukan tanaman pertanian, karena mampumeningkatkan stabilitas, kualitas dan jumlah layanan penyerbukan sepanjang waktu dan ruang dibanding dengan serangga lain.

"Saya memberanikan diri mengambil kesimpulan sementara bahwa untuk melestarikan dan memanfaatkan serangga penyerbuk perlu dilakukan dengan pendekatan rekayasa ekosistem," dia menambahkan.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓