Cerita Si Jago Merah Marah dan Mendatangi Rumah Warga di Konawe

Oleh Ahmad Akbar FuaFauzan pada 24 Okt 2018, 22:05 WIB
Diperbarui 24 Okt 2018, 22:05 WIB
Tim Manggala Agni Daops Tinanggea Konawe Selatan, saat memadamkan api di wilayah pemukiman warga. (Akbar Fua/Liputan6.com)
Perbesar
Tim Manggala Agni Daops Tinanggea Konawe Selatan, saat memadamkan api di wilayah pemukiman warga. (Akbar Fua/Liputan6.com)

Liputan6.com, Konawe Selatan - Pembakaran lahan hutan seolah tak pernah berhenti di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Terbaru, api secara bersamaan membakar lahan di empat Desa sekaligus di Kabupaten tersebut, pada Rabu siang (24/10/2018), pukul 12.15 Wita.

Mulanya, api muncul di lahan milik warga di Desa Roraya, Kecamatan Tinanggea. Selanjutnya, api ikut menyala pada 3 lokasi lain di wilayah Desa Ngapa, Ululakara dan Punggapu.

Perlahan tapi pasti api mulai melahap pinggiran hutan hingga masuk kewilayah perkebunan warga. Api itu kemudian menghabiskan ratusan pohon jambu mete dan pohon kayu jati milik warga yang siap panen.

Sejam lebih terbakar, warga pun panik karena api mulai mendekati pemukiman warga yang umumnya terbuat dari kayu. Mereka berhamburan keluar rumah, karena lokasi kebakaran tinggal berjarak sekitar 20 meter saja dari tempat mereka tinggal.

Tak ingin rumah mereka hangus, puluhan warga itu berjibaku berusaha memadamkan api bersenjatakan ranting pohon yang masih basah.

"Kami ada di lokasi, bantu warga yang panik karena api sudah menjalar ke pemukiman warga," kata Kepala Manggala Agni Daerah Operasi Tinanggea, Fanca Yanuar Kusuma.

Menurut Fanca Yanuar, jika tak cepat dipadamkan, api bisa langsung membakar sebagian rumah penduduk di pinggiran hutan.

"Kita heran ini, dalam sehari ada 4 titik. Belum selesai satu dipadamkan, desa lain juga bunyi," jelasnya.

Fanca Yanuar menyebutkan pemicu munculnya api di lahan hutan dan perkebunan warga adalah karena ulah pengembala sapi dari salah satu desa. Pengembala sapi itu diduga dengan sengaja membakar lahan hutan hingga menjalar ke perkebunan warga.

"Kami masih fokus padamkan api, soal itu kami serahkan kepada pihak berwajib untuk memproses," ujar Fanca Yanuar.

2 dari 2 halaman

Faktor Manusia

Warga yang memadamkan api yang membakar hutan di wilayah Desa Roraya (Akbar Fua/Liputan6.com)
Perbesar
Warga yang memadamkan api yang membakar hutan di wilayah Desa Roraya (Akbar Fua/Liputan6.com)

Wilayah Kabupaten Konawe Selatan merupakan satu dari empat kabupaten paling banyak terbakar di wilayah Sulawesi Tenggara.

Dalam sebulan, sedikitnya ada 13 titik kebakaran yang ditangani Tim Manggala Agni Daops Tinanggea bekerja sama dengan pihak pemerintah dan warga.

Sementara, untuk keseluruhan wilayah Sulawesi Tenggara ada sebanyak 52 kasus kebakaran hutan sejak 22 Januari 2018 hingga 21 Oktober 2018. Sekitar 90 persen, lokasi hutan yang terbakar merupakan lokasi yang ditumbuhi alang-alang dan savana di wilayah Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai di Kabupaten Konawe Selatan dan Bombana.

"Sejak Januari, sudah ada sekitar 1609 hektar yang terbakar. Rata-rata lokasi kebun dan hutan yang tidak terlalu jauh jaraknya dari rumah warga," katanya.

Fanca melanjutkan, pihaknya harus bekerja keras menghadapi kasus kebakaran hutan yang tak bisa ditebak. Sebab, selain karena pengaruh cuaca, faktor manusia juga menjadi penyebab utama.

"Dari keterangan saksi, sebagian kasus kami temukan karena sengaja dibakar. Entah serius atau hanya iseng, tapi jelas mengancam nyawa warga," ujarnya.

 

Saksikan video menarik pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓