Cerita Santri Nakal Dikutuk Jadi Monyet

Oleh Muhamad Ridlo pada 23 Okt 2018, 03:00 WIB
Diperbarui 23 Okt 2018, 03:00 WIB
Kawanan monyet bermain dengan anak-anak di Cikakak, Wangon, Banyumas. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Banyumas - Monyet-monyet berlarian tak tentu arah di halaman masjid. Pemandangan seperti itu jamak dijumpai di lingkungan Masjid Saka Tunggal, Cikakak, Wangon, Banyumas, Jawa Tengah.

Masjid Saka Tunggal diyakini sebagai masjid tertua di Banyumas. Masjid ini diperkirakan dibangun pada kisaran tahun 1500-an Masehi.

Lokasinya di tengah komunitas masyarakat adat kejawen yang masih melestarikan budayanya. Mereka pun memiliki penanggalan sendiri, Alir Rebo Wage atau Aboge. Oleh sebab itu, komunitas itu kerap disebut sebagai Islam Aboge.

Rumah ibadah umat muslim ini dinamai Masjid Saka Tunggal lantaran saka guru atau pilarnya yang hanya satu buah. Mafhumnya, saka guru berjumlah empat. Tiang utama yang tunggal adalah simbol Tuhan yang Esa.

Masjid ini terletak di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas. Ditempuh dengan masuk ke jalan desa sekitar empat kilometer dari jalan Raya Wangon-Ajibarang. Kondisi jalan mulus, meski sempit.

Keunikan Masjid Saka Tunggal tak hanya terletak pada bangunannya. Ratusan monyet yang hidup di sekitar masjid pun menjadi daya tarik tersendiri. Mereka hidup berdampingan dengan masyarakat.

Ternyata, ada legenda menarik di balik keberadaan ratusan monyet ini. Cerita ini dituturkan secara lisan, turun-temurun di antara masyarakat Cikakak yang merupakan keluarga besar, bersaudara satu sama lain.

Alkisah, pada masa penyebaran agama Islam, Kiai Mustholih mendirikan masjid dan mendirikan padepokan mengaji. Para santri pun berdatangan dari berbagai daerah.

Suatu hari, tiba hari Jumat. Santri lelakinya pun berkewajiban menunaikan salat Jumat. Namun, ada beberapa santri yang melanggar. Mereka justru asyik mencari ikan di sekitar masjid.

Ikan membutakan mata dan bikin tuli para santri, sehingga mereka melupakan kewajibannya. Celakanya, mereka pun ribut, sehingga mengganggu orang-orang yang tengah menjalankan salat Jumat.

Kiai Mustholih pun marah. Seusai salat Jumat, ia menghardik para santri yang telah kelewat batas. Saat itu ia sempat mengatakan kelakuan santrinya tak beda dengan monyet yang nakal dan susah diatur.

Sebagaimana legenda kiai zaman kuno yang memiliki daya linuwih, ujaran itu menjadi kenyataan. Santri-santri nakal itu berubah menjadi monyet.

 

2 dari 2 halaman

Pesan Mulia Legenda Santri Jadi Monyet

Monyet-monyet berkeliaran di jalan sekitar Masjid Saka Tunggal, Cikakak, Wangon, Banyumas. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Monyet-monyet berkeliaran di jalan sekitar Masjid Saka Tunggal, Cikakak, Wangon, Banyumas. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Soal benar tidaknya legenda ini, ada pesan mulia di balik legenda santri yang dikutuk menjadi monyet: yang membedakan manusia dengan hewan adalah perilakunya. Jika manusia tak memiliki kemanusiaan, akal dan hati, maka ia tak beda dengan monyet.

Perilaku ratusan monyet yang nakal, iseng dan susah diatur pun kerap dirasakan oleh peziarah atau wisatawan yang berkunjung ke kompleks Masjid Saka Tunggal. Seringkali, barang-barang mereka dijambret.

Penduduk setempat pun kerap dibuat repot oleh ulah monyet yang menyerbu perumahan. Monyet memporak-porandakan genteng, mencuri makanan, dan menyerbu kebun penduduk. Biasanya, serbuan kawanan moyet menjadi-jadi pada musim kemarau.

Warga Cikakak, Karsini, mengatakan kawanan monyet ini bahkan bisa membuka jendela tak terkunci dan masuk mengambil apa saja yang ada di rumah. Kawanan kera juga kerap masuk ke warung untuk mengambil makanan apa saja.

“Mengganggu, wong kalau ada orangnya saja melompat ambil sayuran dan apa saja. Ya, ada juga kacang dan goreng-gorengan juga diambil,” Karsini menuturkan.

Kawanan monyet juga menyerang lahan pertanian warga. Petani sekitar hutan Cikakak hampir tidak pernah bisa memanen pisang, kelapa, rambutan dan sejumlah komoditi pertanian lain.

Monyet adalah analogi keserakahan hewan yang tak terkekang. Manusia, mestinya bisa mengekang hawa nafsu, dengan akal sehat dan hati nuraninya. Otak dan hati mesti seimbang agar manusia tak kehilangan kemanusiaannya.

"Monyet cerminan perilaku yang harus kita kekang,” kata Kiai Sulam, juru kunci Masjid Saka Tunggal, ketika ditemui Liputan6.com beberapa waktu lalu.

Sulam menyebut ada lima kelompok monyet di yang hidup hutan sekitar Masjid Saka Tunggal. Lima kelompok itu cenderung tetap, dengan populasi sekitar 200 ekor.

Meski nakal, keberadaan monyet ini sudah dimaklumi oleh warga sekitar. Mereka tak segan memberi makanan sisa.

Mereka pun tak pernah bertindak buruk kepada monyet. Bangsa monyet telah menjadi bagian hidup sehari-hari warga Cikakak.

Lanjutkan Membaca ↓