Perjalanan El Bayan dari Surau Tempat Santri Mengaji Jadi Perguruan Tinggi

Oleh Muhamad Ridlo pada 22 Okt 2018, 11:01 WIB
Yayasan El Bayan Majenang menggelar diskusi bertajuk “Kongkow Bareng Jurnalis” yang mempertemukan mahasiswa atau santri dengan wartawan. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Cilacap - Waktu berjalan, zaman pun berubah. Akan tetapi, keberadaan lembaga pendidikan tinggi semacam universitas atau perguruan tinggi masih terpusat di kota besar.

Imbasnya, anak-anak pedesaan, termasuk santri-santri di pedesaan, kesulitan untuk mengaksesnya. Sebab, selain biaya pendidikan, terdapat biaya variabel yang mesti ditanggung, seperti kos atau akomodasi.

Di sini lain, pendidikan Indonesia masih mendikotomi atau membedakan pendidikan informal seperti pondok pesantren atau madrasah, dengan pendidikan formal setara sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Oleh sebab itu, Yayasan El Bayan Majenang berupaya menggabungkan keduanya. Yayasan yang berada di Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, ini berupaya menyediakan pendidikan informal dan formal sekaligus.

Riwayat El Bayan terlacak sejak 1930-an di Dusun Bendasari Desa Padangsari, Kecamatan Majenang sebagai surau kecil yang berfungsi juga sebagai tempat mengaji anak-anak atau santri di sekitarnya. Lantas, bertahun-tahun kemudian berdirilah pondok pesantren yang lantas bernama El Bayan.

Tuntutan zaman memacu El Bayan untuk terus berbenah. Salah satunya, yakni dengan menyediakan pendidikan formal yang dimulai dari mendirikan Madrasah Ibtidaiyah atau MI yang setara dengan SD, MTs, MA dan SMK, serta terakhir ini, perguruan tinggi, dengan berdirinya Sekolah Tinggi Manajamen Ilmu Komputer atau STMIK Komputama Majenang.

Ketua Yayasan El Bayan Majenang, KH DR Fathul Amin Aziz, bercerita butuh perjuangan panjang mendirikan sekolah tinggi ini. Butuh waktu 15 tahun, mulai dari mengurus perizinan hingga mendirikan gedung STMIK.

"Justru SMK Komputama itu sebetulnya niatnya mendirikan perguruan tinggi. Tapi karena yang keluar SMK, kita jalankan dulu," dia berkisah, Sabtu, 20 Oktober 2018.

SMK Komputama berdiri pada 2005 untuk mempermudah anak desa dan santri mengakses sekolah berbasis keahlian. Dan kini, sudah ada tiga sekolah berdiri dengan nama Komputama, mulai dari SMK Komputama Majenang, SMK Komputama Jeruklegi dan SMK Komputama, Pesahangan, dengan sekitar 1.500-an siswa.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 of 3

Upaya Mempermudah Santri Desa Mengakses Pendidikan Tinggi

“Selawat Untuk Negeri” santri bersama Habib Syech di MA El Bayan Majenang, Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
“Selawat Untuk Negeri” santri bersama Habib Syech di MA El Bayan Majenang, Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Lewat perjuangan panjang nan melelahkan, akhirnya El Bayan memperoleh izin pendirian STMIK Komputama. Mulai tahun ajaran 2018-2019 ini, STMIK mulai menerima mahasiswa baru.

"Tahun ini kita mulai menerima mahasiswa baru. Ada 156 mahasiswa," ucapnya, kepada Liputan6.com.

Menurut dia, keinginan Yayasan El Bayan mendirikan perguruan tinggi ini adalah upaya mendekatkan pendidikan tinggi ke masyarakat pedesaan dan pegunungan. El Bayan, juga ingin memberi kesempatan kepada santri desa untuk mengakses pendidikan tinggi.

Aziz mengemukakan, sesuai dengan niat awal untuk memberi kesempatan kepada anak pedesaan dan santri, sebagian dari 156 mahasiswa tersebut merupakan penerima beasiswa. Mereka dibebaskan dari seluruh biaya, kecuali jaket almamater.

"Semuanya ada sekitar 70-an mahasiswa yang kita beri beasiswa. Sebagian besar Banser dan Ansor, yang merupakan santri," ucapnya.

Di luar itu, tentu ada seleksi ketat untuk para penerima beasiswa penuh ini. Dua di antara yang lolos adalah penghafal Alquran atau hafiz.

STMIK Komputama juga memberi beasiswa kepada anak yatim piatu dan siswa berprestasi dari keluarga keluarga tak mampu. Meski demikian, calon mahasiswa yang hendak mendaftar melalui beasiswa ini pun tetap diseleksi.

Di antaranya adalah jumlah hafalan surah Alquran. Bagaimana pun, kata Aziz, mereka mesti berasal dari kalangan melek agama atau santri.

3 of 3

Mengenalkan Santri ke Dunia Jurnalistik

Calon presiden Joko Widodo atau Jokowi bersama Ketua Yayasan El Bayan Majenang, KH DR Fathul Amin Aziz, di Ponpes El Bayan, 2014. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Calon presiden Joko Widodo atau Jokowi bersama Ketua Yayasan El Bayan Majenang, KH DR Fathul Amin Aziz, di Ponpes El Bayan, 2014. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

"Itu juga diterapkan di sekolah formal lainnya. Ada keistimewaan untuk para hafiz Quran, meski belum hafal penuh," dia mengungkapkan.

Keinginan untuk memberi akses pengetahuan santri desa ke dunia luar juga terus dilakukan. Seperti yang dilakukan STMIK Komputama pada Sabtu, 20 Oktober 2018 misalnya, mahasiswa, santri Ponpes El Bayan dan siswa sekolah di bawah naungan Yayasan El Bayan dipertemukan dengan sejumlah jurnalis media nasional, baik cetak, online maupun elektronik.

Selama kurang lebih tiga jam, mereka berdiskusi beragam topik. Kegiatan ini juga dilakukan dalam rangka memperingati hari santri nasional 2018.

"Tujuannya agar mereka lebih mengenal jurnalistik itu seperti apa. Di samping itu, barangkali pengalaman teman-teman jurnalis juga bisa diambil hikmahnya oleh para santri," ucap Aziz.

Mahasiswa STMIK Komputama, Anisa (19), mengaku senang bisa berdiskusi dengan para jurnalis. Dia dan beberapa mahasiswa lainnya berencana mendirikan unit kegiatan mahasiswa yang bergerak dalam pers kampus.

Anisa yang hobi berpuisi merasa pers kampus akan membuat kesempatannya memublikasikan karya bertambah luas. Selama ini, ia baru mencoretkan karyanya di lembaran kertas, komputer, atau ponsel.

Sesekali, ia menguggahnya di akun pribadi media sosialnya. Ke depan, ia juga berkeinginan memubikasikan karyanya di media nasional dan membukukannya.

"Nanti katanya kakak-kakak wartawan juga bisa mengisi pelatihan jurnalistiknya," kata Anisa, seusai diskusi dengan tajuk 'Kongkow Bareng Jurnalis' ini.

Lanjutkan Membaca ↓