Gawat, 80 Persen Terumbu Karang Indonesia Rusak

Oleh Dewi Divianta pada 21 Okt 2018, 11:00 WIB
Diperbarui 21 Okt 2018, 11:00 WIB
CTC
Perbesar
Direktur Eksekutif Coral Triangel Centre, Rili Djohani (Dewi Divianta/Liputan6.com)

Liputan6.com, Denpasar - Lembaga konservasi Coral Triangel Centre (CTC) memaparkan, saat ini Indonesia memiliki 165 kawasan konservasi perairan yang sangat potensial untuk mendukung konsep perikanan berkelanjutan.

Direktur Eksekutif Coral Triangel Centre, Rili Djohani menjelaskan, kawasan konservasi memegang peranan penting dalam manajemen perikanan berkelanjutan. Hal itu mengingat kawasan ini mempunyai potensi untuk memastikan terciptanya ekosistem kondusif bagi ikan-ikan untuk berkembang biak.

"Konsep perikanan berkelanjutan harus mengacu kepada triple bottom line yaitu, menciptakan potensi ekonomi, meningkatkan kesejahteraan sosial kehidupan masyarakat, dan juga memastikan terciptanya keseimbangan lingkungan hidup," ujar Rili pada acara workshop media massa di CTC Centre for Marine Conservation Center di Jalan Betngandang II Nomor 88-89 Sanur, Denpasar, Sabtu 20 Oktober 2018.

Pada acara yang digagas bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan itu ia melanjutkan, dari luas total kawasan konservasi perairan di Indonesia, sebanyak 60 persen masih dalam tahap pencadangan. Dengan kata lain belum dilakukan pemanfaatan terhadapnya.

Menurutnya, kawasan konservasi perairan amat penting bagi perikanan berkelanjutan di Tanah Air. Dari sana, Rili melanjutkan, kita bisa mengukur stok ikan yang kita miliki termasuk di dalamnya keanekaragaman bawah laut Indonesia.

Dari semua itu, Rili menilai yang paling penting adalah menjaga terumbu karang yang kita miliki. Indonesia sendiri masuk ke dalam kawasan segitiga dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.

"Indonesia bersama Filipina, Malaysia, Timor Leste, Papua Nugini dan Kepulauan Solomon adalah kawasan dengan terumbu karang yang paling penting untuk ikan dan perikanan, perlindungan pantai dan pariwisata. Kalau ini hilamg, musnah juga masa depan kita," ujar Rili.

Kawasan segitiga itu, Rili melanjutkan, memiliki 76 persen karang yang terdapat di seluruh dunia. "Kawasan paling kaya di dunia. Kalau tidak dilestarikan, maka akan menjadi persoalan rumit dan berdampak pada wilayah lain di dunia. Penting membangkitkan kesadaran masyarakat soal ini," ujarnya.

Sayang, kata dia, 80 persen karang di Indonesia mengalami kerusakan dengan skalanya masing-masing. Kerusakan itu disebabkan beberapa faktor. Mulai dari perubahan iklim, polusi laut, penangkapan ikan dengan peralatan yang merusak kelestarian terumbu karang, sampah dari darat, erosi, sedimentasi, dan sejumlah hal lainnya.

"Terumbu karang yang masih bagus ada di wilayah Indonesia Timur. Kita harus membicarakan persoalan ini dengan serius dan segera mencarikan jalan ke luarnya," tutur Rili.

Saksikan video pilihan berikut ini:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya