Buah Manis Keikhlasan Relawan Bantu Korban Gempa Palu

Oleh Ahmad Yusran pada 17 Okt 2018, 05:04 WIB
Diperbarui 19 Okt 2018, 01:13 WIB
Kisah Haru SAR UNM di Pencarian Korban Gempa dan Tsunami Palu

Liputan6.com, Palu - Beragam kisah haru petugas Search and Rescue (SAR) yang melakukan pencarian, dan menolong korban gempa dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah.

Di tengah misi kemanusiaan tersebut, Tri Sudirga, anggota tim Search and Rescue (SAR) Universitas Negeri Makassar, mengaku sangat bersyukur dapat berbaur dengan tim Basarnas untuk membantu mengevakuasi korban gempa dan tsunami di Kota Palu dan sekitarnya, meski harus absen mengajar di sekolah dasar di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Dalam kondisi sulit di tengah bencana itu, Tri justru mendapatkan "hadiah". Keikhlasannya membantu korban gempa dan tsunami Palu berbuah manis. Sang istri nan jauh di Makassar memberi kabar gembira.

"Tuhan sudah memperlihatkan kehendaknya atas bencana gempa dan tsunami di Palu. Begitu juga saya yang dapat kabar bahagia dari istri. Saat bertugas evakuasi korban di Hotel Roa Roa saya dapat pesan tertulis dari balik handphone. Istri saya mengabarkan dirinya positif hamil dari hasil alat tes kehamilan yang digunakannya," kata Tri Sudirga kepada Liputan6.com, Senin, 15 Oktober 2018.

Kabar kehamilan sang istri merupakan kabar yang sudah ditunggu-tunggu Tri Sudirga selama tujuh tahun. Pasalnya, sejak menikah pada 2011, Tri dan sang istri belum dikaruniai anak.

Saat membaca kabar bahagia pada hari Jumat, 5 Oktober 2018 tersebut, kepada Liputan6.com, ia mengaku hanya mampu berucap syukur. Namun, tak ingin berlarut, dia kembali melakukan pencarian korban di antara puing-puing gedung Hotel Roa-Roa.

"Saya bersama dua rekan dari SAR UNM yang tergabung dalam kelompok SAR Hotel Roa-Roa berhasil menemukan mantan Humas UNM Prof Jalaluddin Mulbar beserta istrinya yang meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan dinding hotel," ungkap Tri Sudirga.

Menurut Tri Sudirga yang juga guru salah satu SD di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, dirinya terpaksa membolos sembilan hari mengajar demi misi kemanusiaan ke Palu, Sulawesi Tengah. Hal ini untuk mempercepat proses evakuasi menyelamatkan korban gempa dan tsnumani Palu yang masih hidup.

"Kita pernah balik ke markas Basarnas Palu malam hari hingga pukul 21.30 Wita. Saat itu, pencarian korban di Balaroa, tiba-tiba operator eksavator teriak ada baket. Akhirnya kita lari berhamburan ke sumber titik lampu di sekitar alat berat yang melihat adanya mayat yang kondisinya sudah tidak utuh lagi," Tri Sudirga memungkasi.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Live Streaming

Powered by