Longsor pada Musim Kemarau Terjadi di Banyumas, Fenomena Apa?

Oleh Muhamad Ridlo pada 06 Okt 2018, 05:03 WIB
Longsor di Musim Kemarau memutus jalan dua desa di Kecamata Cilongok, Banyumas. (Foto: Liputan6.com/BPBD Banyumas/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Banyumas - Fenomena likuifaksi akhir-akhir ini ramai dibicarakan usai gempa Palu mengaduk perut bumi dan memuntahkan lumpur yang lantas menenggelamkan ratusan bangunan dan menimbulkan korban jiwa.

Padahal, Indonesia timur saat ini berada dalam masa kering. Meluapnya lumpur dari lapisan bawah tanah solid disusul amblasnya material di atasnya inilah yang menyebabkan kenapa likuifaksi begitu berbahaya.

Gempa bumi juga menyebabkan longsor di sejumlah titik. Tanah kehilangan kekuatannya saat bumi bergoncang.

Fenomena lumpur yang menyebabkan bencana di musim kemarau pun rupanya terjadi di Banyumas, Jawa Tengah, meski dengan kondisi berbeda. Di Banyumas, mendadak jalan penghubung dua desa putus usai tertimbun lumpur dan material longsor.

Komandan Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas, Kusworo mengatakan akses jalan penghubung antara Desa Gununglurah menuju Desa Sokawera Kecamatan Cilongok putus total akibat longsor yang terjadi Kamis malam, 4 Oktober 2018, sekitar pukul 22.00 WIB.

Tak ada angin tak ada hujan, tebing setinggi 10 meter itu longsor dan menimpa badan jalan sepanjang delapan meter. Akses jalan pun putus total.

"Sepeda motor juga tidak bisa lewat. Menyebabkan putus," katanya, Jumat, 5 Oktober 2018.

Kusworo mengatakan badan jalan tertimbun material longsor sepanjang delapan meter. Akibatnya, lalu lintas antar dua desa ini putus total sejak Kamis malam.

2 of 2

Pipa Air Bocor di Tebing Pinggir Jalan

Ratusan warga menyingkirkan lumpur dan material lain yang menimpa jalan penghubung dua desa. (Foto: Liputan6.com/BPBD Banyumas/Muhamad Ridlo)
Ratusan warga menyingkirkan lumpur dan material lain yang menimpa jalan penghubung dua desa. (Foto: Liputan6.com/BPBD Banyumas/Muhamad Ridlo)

Longsor ini diduga terjadi akibat kebocoran saluran air yang terbenam di tebing sisi jalan. Bocornya pipa ini diduga sudah terjadi sejak lama, namun tak terdeteksi.

Tanah di sekitar titik bocor berubah menjadi lumpur dan bertambah berat. Akibatnya, tanah kehilangan daya cengekeramnya lantaran tanah mengering disekitarnya pada kemarau ini.

“Sehingga tanah menjadi gembur, menjadi lumpur, kemudian longsor dan menutup jalan desa,” dia mengungkapkan.

Mulai Jumat pagi, warga dua desa, petugas BPBD dan relawan lintas instansi dan elemen berupaya menyingkirkan material agar akses jalan ini kembali bisa dilalui kendaraan. Pembersihan dilakukan dengan cara manual dan dengan menyemprot material dengan mesin penyedot air.

Meski dibersihkan dengan cara manual, pada jumat siang, jalan penghubung dua desa ini sudah bisa dilalui sepeda motor. Diperkirakan, menjelang sore mobil ukuran kecil juga sudah bisa melintas.

“Ya, ditangani warga untuk membuka akses. Yang ikut sanat banyak jadi relatif lebih cepat,” dia menerangkan.

Meski berhasil dibuka, dia menyarankan agar pembersihan material juga terus dilakukan. Dikhawatirkan material sisa akan kembali longsor.

Pipa air yang bocor pun mesti diperbaiki agar tak lagi menyebabkan longsor. Pasalnya, jalan penghubung ini amat vital bagi warga.

Pemerintah desa dan BPBD juga akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memperkuat tebing agar longsor tak terulang. Apalagi, saat ini sudah mendekati musim hujan.

<p><em><strong>* Update Terkini <a href="https://www.liputan6.com/tag/asian-para-games-2018">Asian Para Games 2018</a> Mulai dari <a href="https://www.liputan6.com/bola/read/3659142/jadwal-lengkap-asian-para-games-2018-dan-cabang-olahraga-yang-dipertandingkan">Jadwal Pertandingan</a>, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru di <a href="https://www.liputan6.com/asian-para-games">Sini</a>.</strong></em></p>

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓