Separuh Alat Pendeteksi Tsunami di Garut Rusak

Oleh Jayadi Supriadin pada 05 Okt 2018, 12:06 WIB
Diperbarui 07 Okt 2018, 11:13 WIB
Salah satu pantai selatan Garut, Jawa Barat yang terkenal memiliki ombak tinggi dan ganas

Liputan6.com, Garut - Sebanyak empat dari 8 unit alat Early Warning System (EWS) atau alat pendeteksi tsunami, pergerakan tanah, dan banjir di Kabupaten Garut, Jawa Barat, dalam keadaan rusak tak berfungsi.

Kepala Seksi Kesiapsiagaan pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Asep Syaripudin mengatakan, keberadaan alat itu penting dalam mendeteksi terjadinya gempa bumi sekaligus tsunami. Namun akibat korosi, keberadaannya hingga kini mangkrak tidak berfungsi.

"Biaya pemeliharannya mahal," ujar dia.

Menurutnya, biaya perbaikan keempat alat yang rusak cukup besar.

Rata-rata harga satu unit EWS Rp 350 juta, namun biaya pemeliharaan satu unit mencapai antara Rp 70 juta hingga Rp 120 juta per unit untuk satu peride pemeliharaan selama empat tahun.

"Ini yang membuat berat, sementara fungsi alat tersebut sangat vital," ujar dia.

Tahun lalu, lembaganya telah mengajukan biaya perbaikan kepada pemerintah provinsi Jawa Barat, namun hingga kini belum ada penjelasan, akibatnya perbaikan sekaligus pemeliharaan keempat alat bantuan BNPB tahun anggaran 2014 itu belum dilakukan. "Lihat saja nanti," ujar dia.

Saat ini ke delapan alat EWS terpasang berada di tujuh titik sepanjang pantai selatan Garut, yakni di Cibalong, Pameungpeuk, Cikelet, Mekarmukti, Bungbulang, Pakenjeng dan Caringin.

Ia menamabahkan, jika dibandingkan dengan luasan serta panjang lepas pantai selatan Garut, angka kebutuhan alat EWS idelanya mencapai 28 unit EWS, namun hingga ini baru 30 persen yang terpasang.

Berkaca dari musibah gempa yang diikuti tsunami Donggala-Palu, Sulawesi Tengah, lembaganya berharap pemerintah Jawa Barat segera melakukan perbaikan sekaligus pemenuhan alat pendeteksi itu.

Saksikan video pilihan berikut ini: