Berkah Pagi Telaga Cebong Dieng di Musim Kemarau

Oleh Muhamad Ridlo pada 04 Okt 2018, 06:03 WIB
Diperbarui 06 Okt 2018, 05:13 WIB
Puluhan mesin sedot air berjejer mengalirkan air Telaga Cebong, ke lahan pertanian warga Dieng, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Wonosobo - Pagi baru menjelang ketika sejumlah petani di Dataran Tinggi Dieng mulai menyalakan mesin air di pinggiran Telaga Cebong Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Jaket tebal, sepatu boot, dan belitan sarung di leher menjadi pemandangan khas.

Deru mesin dan kepulan asap mesin sedot air di pagi buta menandai dimulainya aktivitas khas warga sekitar telaga pada puncak kemarau kali ini.

Sebagaimana wilayah lain yang dilanda kekeringan, Telaga Cebong yang terletak di kaki Bukit Sikunir Desa Sembungan, Kejajar Kabupaten Wonosobo ini pun susut. Permukaan air yang biasa luas sejauh mata memandang kini hanya tersisa di bagian palung telaga.

Saking susutnya, dasar telaga di beberapa lokasi tampak menyembul dan berlumpur. Beberapa titik lainnya bahkan mulai retak mengering lantaran terpaan matahari dan tiupan kemarau.

Tetapi, bagi petani, Telaga Cebong adalah berkah. Ia menjadi andalan saat langit urung mencurahkan hujan ke dataran Tinggi Dieng.

Mesin-mesin sedot berjejer di sana-sini, berlomba mengalirkannya ke lahan pertanian warga. Paralon sepanjang ratusan meter menjulur, mulai dasar telaga hingga ladang nun jauh di atas bukit.

Keberadaan Telaga Cebong ini adalah berkah Tuhan untuk masyarakat Sembungan dan sekitarnya. Telaga ini berfungsi sebagai tandon air yang memastikan kecukupan air pada musim kemarau panjang bagi petani di sekitarnya.

Dari air danau Dataran Tinggi Dieng ini, puluhan hektar tanaman kentang dan berbagai sayuran lainnya terairi. Keberadaan telaga ini memastikan denyut nadi ekonomi sekitar 250 keluarga petani tetap terjaga, meski dicekam kemarau panjang.

2 of 2

Aktivitas di Telaga Cebong di Musim Kemarau

Pemancing mengadu nasib di bagian telaga yang masih berair. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Pemancing mengadu nasib di bagian telaga yang masih berair. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

"Airnya untuk mengairi tanaman di musim kemarau," kata Bukhori, warga Sembungan, yang juga pengelola Bukit Sikunir.

Menjelang siang, aktivitas lain mulai bermunculan. Pedagang mulai menjejerkan barangnya. Kios-kios mulai dibuka.

Pesona Telaga Cebong pun telah mendatangkan wisatawan dari berbagai penjuru. Dari kunjungan turis ini, sebagian warga meraup sejumput rezeki.

Pun, pada musim kemarau ini. Puluhan wisatawan tetap berdatangan dari berbagai daerah.

Ada kalanya, wisatawan berniat bermalam dengan mendirikan tenda atau camping. Wisatawan lainnya, sekadar melepaskan penat dengan menikmati pesona telaga ini.

Letaknya yang berdekatan dengan Bukit Sikunir yang dikenal dengan matahari terbitnya yang elok juga memicu Telaga Cebong tetap ramai pada musim kemarau.

Tak hanya itu, pada musim kemarau ini, aktivitas yang biasanya langka pada musim penghujan mendadak bermunculan. Para pemancing mengais rezeki dari kubangan-kubangan air yang tersisa.

Memang, tak semuanya berprofesi sebagai pemancing profesional. Kebanyakan adalah pemancing yang juga bertujuan rekreasi.

Udara panas musim kemarau dijamin tak bakal dirasakan di pinggir telaga yang terletak di dataran tinggi ini. Hawa sejuk pegunungan membelai tiap wisatawan yang berkunjung ke tepian danau.

Mata wisatawan juga dimanjakan oleh pemandangan bukit-bukit sekitar telaga yang kadang berselimut awan dan kabut. Di lain lain, permukiman penduduk di tepi danau dan di bawah bukit menciptakan pemandangan yang eksotis.

Saksikan video pilihan berikut ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓