Momen Dramatis Satu Keluarga Selamat dari Rumah Sakit Usai Gempa Palu

Oleh Liputan6.com pada 01 Okt 2018, 12:30 WIB
Diperbarui 02 Okt 2018, 20:13 WIB
Gempa Bumi

Liputan6.com, Jakarta - Iin (28) didampingi suaminya, Hasanudin (30), siang itu menatap sedih ke reruntuhan gedung Rumah Sakit Anuta Pura Palu. Air matanya terus mengalir mengenang kisah memilukan yang menimpa dirinya bersama enam anggota keluarganya saat gempa bermagnitudo 7,4 mengguncang Kota Palu, Jumat (28/9/2018) petang.

Peristiwa yang diperkirakan menelan ribuan jiwa itu memporak-porandakan Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Donggala dalam waktu sekejap mata. Fasilitas publik berupa Rumah Sakit Umum Anuta Pura yang dibangun Pemerintah Kota Palu dengan pinjaman luar negeri Rp 100 miliar ikut roboh.

Di lantai dua ruang ICU gedung inilah Iin bersama seluruh anggota keluarganya dan keluarga pasien lain serta para perawat dan dokter tertimbun reruntuhan gedung.

"Waktu itu saya sedang menjaga ibu yang dirawat di ICU karena hipertensi," kisah Iin, dilansir Antara, Senin (1/10/2018).

Ibu kandung Iin, Nilawati (49), dua hari sebelum gempa sudah dirawat di ICU bersama sejumlah pasien lainnya.

Pada hari ketiga, orang tua Iin mendapat kunjungan dari sejumlah anggota keluarga, yakni kakek dan neneknya, seorang tantenya bernama Hapsah, seorang adik sepupu bernama Yadi, adik kandung bernama Amel, dan ayahnya, Ilyas Jalani (52).

Saat momentum berkumpul inilah gedung utama RS Anuta Pura Palu ikut roboh karena diguncang gempa.

"Waktu gedung roboh situasi langsung gelap gulita. Tidak ada sedikit pun cahaya," kata Iin.

Setelah sadar bahwa dirinya tertimpa reruntuhan. Iin pun langsung memecahkan reruntuhan plafon yang menimpa dirinya. Saat itu, Iin mengaku hampir kehilangan pernafasan. Ia sesak karena aroma debu plafon bertebaran kemana-mana.

*Saya langsung panggil mama saya. Saya bilang kuatkan hatinya mama. Saya ada di samping mama. Saat itu alhamdulillah mama tidak cedera," katanya.

Beberapa saat setelah memecahkan plafon itu tampak ada cahaya merah yang memancar. Namun, cahaya alam itu terhalang kaca.

Iin segera memecahkan kaca itu dan ia pun melihat langit yang mulai gelap memasuki malam.

Begitu ia menatap langit, Iin pun meneriaki sanak keluarganya agar tenang. Ia sedang berusaha keluar dari reruntuhan gedung.

"Saya langsung lihat ibu saya. Alhamdulillah tidak masalah hanya tertimpa plafon tapi tidak sampai menyentuh wajah ibu saya karena terhalang dinding ranjang perawatan," katanya.

Saat itulah ia langsung mengambil tindakan dengan mencabut infus yang melekat di lengan ibu Nilawati, memecahkan plafon dan menarik ibunya keluar dari runtuhan.

"Pertama kali keluar itu tante saya. Tapi dia langsung pergi tidak sempat lagi menolong," tutur Iin.

Untuk menyelamatkan anggota keluarga yang lain, Iin dibantu ayahnya, Ilyas Jalani sedangkan adik kandung Iin bernama Amel harus segara ditolong karena terjepit di antara reruntuhan.

"Ameeeel di mana kau, teriak saya dan adik saya menjawab di sudut ruang. Ternyata dia sudah ditindih reruntuhan," katanya menceritakan kembali kejadian Jumat lalu.

Akhirnya adik kandungnya itu pun selamat bersama anggota keluarganya yang lain.

Iin meyakini, dirinya bersama sanak keluarganya yang lain selamat karena pertolongan Allah yang Maha kuasa. Keluarga yang bertempat tinggal di Jalan Cemara 7, Kota Palu, dekat dari rumah sakit itu pun akhirnya selamat dari maut.

Menurut Iin, dalam ruang ICU itu ada beberapa pasien lain yang sedang menjalani perawatan. Dua di antaranya anak-anak.

Seingat Iin, satu dari dua anak itu sedang dijaga kedua orang tuanya. Sementara satunya lagi juga dijaga kedua orang tuanya, namun ada satu adik kandung dari pasien itu.

"Itu yang saya ingat persis sebelum gempa datang," katanya.

Selain itu juga terdapat tiga perawat yang sedang bertugas petang itu. Iin juga memastikan di ruang ICU Isolasi terdapat beberapa pasien. Namun, jumlahnya ia tidak ingat.

Di lantai dua Gedung Anuta Pura selain ruang ICU juga terdapat ruang fisioterapi dan psikologi serta beberapa ruang lainnya.

Namun, ruang psikologi dan fisioterapi ini tidak ikut ambruk karena konstruksi gedung tidak saling mengikat antara gedung satu dengan gedung dua. Padahal, gedung ini satu kesatuan.

Di lantai tiga dan empat dari gedung tersebut merupakan ruang perawatan kelas. Saat peristiwa itu, juga tidak sedikit pasien yang dirawat.

Sementara di lantai satu, petang itu sudah kosong dari aktivitas karena ruang ini khusus pelayanan poli yang juga ikut roboh.

Di lantai ini juga tempat pelayanan administrasi seperti pendaftaran, rekam medik, apotek, laboratorium dan pelayanan Jamsostek. Petang itu ruangan ini nyaris kosong.

Sementara di lantai dasar dijadikan tempat parkir kendaraan. Umumnya kendaraan yang terparkir di sini sepeda motor milik perawat, sebagian dokter dan mobil pembesuk.

Selain di lantai dasar, pembesuk atau keluarga pasien juga bisa masuk melalui lantai satu. Naik ke ruang ICU dan perawatan dapat menggunakan tangga lift atau tangga darurat.