Gagal Sekolah di Luar Negeri Lantaran Belum Dapat Vaksin

Oleh Musthofa Aldo pada 21 Sep 2018, 13:31 WIB
Diperbarui 23 Sep 2018, 13:13 WIB
Ditolak S2 ke Eropa Karena Belum Divaksin

Liputan6.com, Bangkalan - Seratus lebih mahasiswa baru Universitas Trunojoyo Madura mendapatkan vaksin difteri, Kamis, 20 September 2018. Imunisasi disediakan gratis oleh Unicef dan Dinas Kesehatan Bangkalan.

Ari Rukmantara, Kepala Perwakilan Unicef Pulau Jawa, menyebut imunisasi di UTM sebagai peristiwa bersejarah bagi dunia kesehatan di Jawa Timur. Menurut dia, pelaksanaan imunisasi itu merupakan yang pertama pada orang usia dewasa di Jawa Timur.

"Ini peristiwa bersejarah bagi dunia kesehatan Jawa Timur," kata dia.

Apalagi, kata dia, ide untuk pemberian vaksin untuk mahasiswa itu merupakan inisiatif langsung pihak universitas. Hal ini akan sangat membantu memperluas cakupan pemberian vaksin difteri di Kabupaten Bangkalan yang tahun ini ditargetkan sebanyak 300 ribu orang yang berusia antara 0 sampai 19 tahun.

Selain Bangkalan, pemberian vaksin juga digencarkan hampir di semua kabupaten di Jawa Timur. Upaya ini dilakukan setelah tahun lalu, Jawa Timur diserang wabah difteri dan dinyatakan KLB dengan 400 kasus dan 16 di antaranya meninggal dunia.

"Jumlah mahasiswa baru UTM itu lebih dari seribu orang per tahun, kalau 90 persennya bisa divaksin, sangat bagus," ujar dia.

Menurut Ari, vaksin lebih dari sekadar urusan suntik menyuntik. Vaksin merupakan aset kesehatan yang penting bagi mahasiswa. Bila nanti mereka hendak melanjutkan S2 di luar negeri seperti Eropa, maka vaksin menjadi salah satu syarat wajib untuk diterima.

"Kalau tak divaksin, tak akan diterima kuliah di luar negeri," ucap dia.

Sekretaris Dinas Kesehatan Bangkalan, Muhammad Rasuli, mengatakan cukup banyak warga di Bangkalan yang menolak pemberian vaksin difteri. Terutama sejak MUI mengeluarkan fatwa haram.

"Padahal, yang haram itu vaksin MR, tapi merembet ke vaksin lain," kata dia.

Dia berharap pemberian vaksin di UTM bisa membuka pengetahuan masyarakat bahwa vaksin tidak berbahaya dan merupakan aset kesehatan. "Yang kami lakukan hanya terus sosialisasi, terutama ke lingkungan pondok pesantren," dia menandaskan.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Live Streaming

Powered by