2 Kapal Fungka Permata Alami Kecelakaan Laut Fatal Setiap September, Ada Apa?

Oleh Ahmad Akbar Fua pada 17 Sep 2018, 13:30 WIB
km fungka

Liputan6.com, Kendari - Nama Fungka Permata memiliki sejarah buruk saat memasuki Bulan September. Pada Jumat, 14 September 2018, kapal Fungka Permata V itu terbakar terbakar dan tenggelam ketika melintasi wilayah perairan Tagong Sagu, Kecamatan Bangkurung, Kabupaten Banggai. Sebelumnya, kapal berbeda dengan nama Fungka Permata III tenggelam setelah dinyatakan hilang pada September 2017.

Bukan hanya bulan, tanggal kecelakaan juga sangat berdekatan. KM Fungka Permata V pada 14 September, dan KM Fungka Permata III pada 16 September. Lokasi kecelakaan ini sebenarnya jalur pelayaran rakyat yang normal tiap harinya.

Menurut Lubis, salah satu warga, kondisi gelombang pada saat kejadian mencapai ketinggian 2 meter. Wilayah Tagong Sagu, Kecamatan Bangkurung, terkenal dan disegani pelaut karena ombaknya susah ditebak.

"Saat tertentu, air laut  di antara pulau-pulau di wilayah Kecamatan Bangkurung itu bisa berputar, karena pertemuan air di antara pulau-pulau," kata Lubis, Senin (17/9/2018).

Sementara itu, Kepala Kantor SAR Palu, Basrano membenarkan gelombang laut di wilayah itu cukup besar. Hal itu dipengaruhi oleh gelombang laut Banda.

"Saya pernah mengalami sendiri waktu pencarian. Di sana berbahaya bagi kapal-kapal rakyat dan nelayan yang kurang siap," kata Basrano.

Kedua kapal Fungka Permata itu hanya berjarak dua hari saja saat mengalami kecelakaan pada tahun yang berbeda. Berdasarkan data, jumlah manifes penumpang ternyata ada persamaan antara kedua kapal.

Simak video pilihan berikut ini:

 

2 of 2

Manifest Penumpang Sama-Sama Bermasalah

km fungka
Evakuasi penumpang Kapal KM Fungka Permata V yang terbakar di Wilayah Laut Sulawesi Tengah, Sabtu (15/9/2018). (foto: Liputan6.com / ahmad akbar fua)

Menurut manifes, KM Fungka Permata V yang tenggelam pada Jumat lalu, hanya berisi 101 orang penumpang. Namun setelah dievakuasi dan ada laporan meninggal dunia, jumlah penumpang membengkak menjadi 147 orang.

Dari gabungan data antara Kantor SAR Kendari Sulawesi Tenggara dan SAR Palu Sulawesi Tengah, ternyata ada perbedaan jumlah penumpang. Total ada 137 orang yang dievakuasi. 

"Sepuluh orang lainnya masih dicari," ujar Humas Kantor SAR Kendari, Wahyudi.

Ia mengakui adanya perbedaan antara laporan jumlah penumpang dan data setelah evakuasi. Namun, soal itu bukanlah kewenangan pihak SAR untuk menyelidiki.

"Kami juga awalnya dilaporkan pihak Syahbandar ada 101 penumpang," ujar Basrano.

Sementara itu, KM Fungka Permata III yang tenggelam pada 2017 dilaporkan hanya mengangkut 14 penumpang. Saat dievakuasi, ternyata ada 27 orang penumpang yang terombang-ambing di tengah lautan.

"Semua penumpang selamat saat itu, diselamatkan oleh kapal yang melintas. Kemudian kami kawal ke Pelabuhan Baubau," ujar Humas SAR Kendari, Wahyudi.

Lanjutkan Membaca ↓