Bakso Pak Imam Hanafi, Keunikan dalam Semangkuk Penghangat Ketika Hujan

Oleh Huyogo Simbolon pada 03 Sep 2018, 08:02 WIB
Diperbarui 05 Sep 2018, 07:13 WIB
Pak Imam Hanafi gunakan arang kayu untuk memasak kuah bakso

Liputan6.com, Bandung - Musim hujan dan semangkuk bakso hangat adalah kolaborasi yang pas. Seperti yang terasa di Kota Bandung sekarang ini. Namun bagaimana jika semangkuk makanan yang hangat itu dimasak menggunakan arang kayu?

Mi Bakso Malang Pak Imam Hanafi ini memang punya cara yang berbeda karena memasak kuah bakso di atas arang. Pria berusia 68 tahun itu mengungkapkan, sejak masih bujangan dirinya sudah menjajakan bakso dengan cara dipikul mengelilingi kompleks di sekitaran Sukaluyu, Kota Bandung.

Hingga pada 1978, Imam memutuskan untuk menjual bakso dengan gerobak dorong. Saat ini, Imam lebih sering mangkal di kawasan Jalan Pahlawan, tepatnya di depan Griya Pahlawan.

"Dari dulu saya senangnya pakai arang. Enggak pernah pakai kompor atau gas," ujar Imam, Minggu, 2 September 2018.

Pak Imam menggunakan tungku sebagai wadah membakar arang. Bahan bakar yang terbuat dari kayu itulah yang kemudian digunakan untuk memasak bakso dan kuahnya.

Menurut Imam, penggunaan bahan bakar arang selain irit juga hasilnya lebih bagus untuk makanan. Karena proses pemanasan bisa terus berlangsung selama berjualan dan menghemat biaya operasional.

Ia menilai saat ini pedagang gerobak dorong lebih sering menggunakan gas elpiji ukuran 3 kilogram, ketimbang arang.

"Kalau bapak kan sudah tua, tidak terburu-buru," ujarnya.

Imam mengaku penggunaan arang kayu untuk para pedagang bakso Malang seperti dirinya jarang dilakukan pedagang kecil lain. Padahal, menurutnya selain panasnya lebih awet dan harganya lebih murah, arang kayu diakui masih mudah diperoleh dari beberapa pedagang.

Simak video pilihan berikut ini:

2 of 2

Satu Kilogram Rp 5 Ribu

Arang bakar yang digunakan Imam Hanafi untuk memasak kuah bakso
Arang bakar yang digunakan Imam Hanafi untuk memasak kuah bakso

Imam mengungkapkan, satu kilogram arang hanya dibanderol Rp 5.000. Ia biasa mendapatkan arang dari daerah Cicadas.

"Kalau sehari paling terpakai 1,5 sampai 2 kilogram. Barangnya masih banyak di pasar," tegasnya.

Arang ini menurutnya dipercaya membuat kuah bakso lebih sedap dan gurih. Berbeda dari bakso dan kuah yang direbus di kompor gas.

Keunikan teknik memasak dengan cara tradisional yang dilakukan Pak Imam coba dibuktikan Liputan6.com dengan memasan satu porsi bakso. Selain bakso, ada mi, bihun, tahu kering, tahu basah, dan pangsit kering.

Untuk menikmati semangkuk bakso enak ini, tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Cukup dengan Rp 7.000 saja sudah bisa menghangatkan tubuh dari cuaca dingin di Bandung.

Satu hal lagi, Pak Imam tidak membuka cabang di tempat lain. Ia bisa ditemui di depan Griya Pahlawan mulai pukul 1 siang hingga pukul 6 sore.

Lanjutkan Membaca ↓