Gaya Bocah Konawe Menghilangkan Trauma Banjir

Oleh Ahmad Akbar Fua pada 30 Agu 2018, 14:32 WIB
Diperbarui 30 Agu 2018, 14:32 WIB
puduria
Perbesar
Banjir menenggelamkan ribuan rumah dan berhektar sawah siap panen di Konawe, Juni 2018. (foto: Liputan6.com/ahmad akbar fua)

Liputan6.com, Konawe - Awal Juni 2018, mungkin menjadi momentum puncak kesedihan 1410 warga Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Banjir melanda dan menggagalkan panen mereka.

Ketika itu, Kepala BPBD Kabupaten Konawe, Dedet Ilnari Yusta, mengatakan ada 10 kecamatan terendam banjir termasuk lokasi persawahan.

"Ada ratusan hektare," kata Dedet, Kamis (30/8/2018).

Total rumah yang terendam banjir mencapai 1110 rumah. Sebagian besar dibangun di pinggir sawah dan sungai.

Lurah Puduria Kecamatan Wonggeduku Kabupaten Konawe, Tuo Turhamun mengatakan petani di wilayahnya nyaris frustasi usai gagal panen. Sebab, biasanya dalam satu hektare petani biasa memanen padi 4-5 ton.

"Tapi saat banjir, tinggal 1-2 karung saja. Itu buat dipakai apa?" kata Tuo Turhamun.

Meskipun sawah gagal panen, petani masih memiliki alternatif mendapatkan uang tambahan. Di antaranya menjadi buruh tani di kebun coklat dan kelapa.

Banjir itu juga menyimpan trauma. Ratusan bocah dari keluarga petani dari sejumlah desa di wilayah Konawe sulit mendapatkan alat-alat belajar yang layak. 

* Update Terkini Jadwal Asian Games 2018, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Asian Games 2018 dengan lihat di Sini

Simak video menarik pilihan berikut di bawah:

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Perang = Gembira

puduria
Perbesar
Anak-anak Puduria yang terbaring setelah ditembak musuh dalam perang-perangan. (foto: Liputan6.com / Ahmad Akbar Fua)

Dua bulan berlalu. Saatnya bangkit dari frustasi. Diawali dari para orang tua merayakan HUT ke-73 RI. Berbagai lomba digelar. Anak-anak diajak bermain perang-perangan.

Ratusan anak petani transmigran di Desa Puduria, Kecamatan Wonggeduku, Kabupaten Konawe berkostum pejuang dengan hiasan topi daun pohon cokelat dan padi.

"Ambil senapannya. Cepat tembak musuh," teriak salah satu anak.

Senapan kayu dan bendera merah putih berada di satu kelompok. Mereka melawan kelompok lain.

Pertempuran itu sangat seru. Warga lokal banyak yang tewas. Beberapa anak-anak bahkan terbaring bersimbah darah setelah tertembak penjajah.

Melalui perang-perangan, anak-anak kembali ceria. wajah murung akibat banjir dan gagal panen perlahan sirna.

"Capek bang. Tapi senang. Bapak gagal panen tapi kita tetap mensyukuri kemerdekan," kata Salianto (11) salah seorang anak di Desa Puduria.

Percayalah kegembiraan itu menular. Melihat anak-anaknya bergembira, para orang tua juga ikut bergembira. Lupa dengan segala macam kesulitan akibat gagal panen.

"Semoga warga bisa kembali bersemangat, mengolah sawah dan menghasilkan pangan," kata Lurah Puduria, Tuo Turhamun.

Lanjutkan Membaca ↓