Balada Sampan Kayu dan Kisah Sungai yang Terdesak Zaman

Oleh Muhamad Ridlo pada 28 Agu 2018, 03:01 WIB
Diperbarui 30 Agu 2018, 02:13 WIB
Perahu jukung meluncur di Laguna Segara Anakan, Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Cilacap - Bagi warga Sidareja dan daerah sekitar aliran sungai Cibeureum Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, keberadaan sampan kayu amat familiar. Ukurannya mungil saja, kisaran enam atau tujuh meter dengan bukaan lambung sekitar 60 centimeter.

Salah satu yang paling populer tentu perahu jukung. Bentuk perahu ini langsing, dengan dasar cenderung mendatar. Ukuran dan desainnya ini membuat sampan kayu mampu menerabas sungai besar, kanal-kanal air hingga rawa penuh eceng gondok.

Lantaran ringan, sampan atau perahu ini juga sangat cepat, meski hanya bermodal mesin tempel 3 atau 5 PK. Bahkan, hingga saat ini masih ada pula yang menghelanya dengan dayung.

Sejak puluhan, sampan kayu digunakan sebagai transportasi utama di wilayah Laguna Segara Anakan, dan anak-anak sungainya, seperti Sungai Cibeureum. Nelayan, petani hingga pedagang begitu akrab dengan lalu lintas air, kala jalan-jalan masih berupa gang setapak.

Seiring pembangunan yang masif hingga ke desa-desa, perlahan tapi pasti, perahu mulai kehilangan fungsi primernya. Kini di sekitar Sidareja, Kedungreja, Kawunganten Patimuan dan daerah-daerah lain di sekitar Laguna Segara Anakan, sampan hanya digunakan oleh nelayan, dan kadang, petani.

Lalu lintas darat lebih populer, lantaran dinilai lebih cepat dan kekinian. Sungai-sungai pun perlahan kehilangan fungsi transportasinya. Di sungai, orang-orang hanya memancing, membuat batu bata, menjala, dan buang hajat.

* Update Terkini Asian Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Pesta Olahraga Terbesar Asia di Sini

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 of 3

Balap Perahu dan Budaya Sungai

Penonton berjubel dalam pertandingan balap perahu di Sungai Cibeureum, Sidareja, Cilacap. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Penonton berjubel dalam pertandingan balap perahu di Sungai Cibeureum, Sidareja, Cilacap. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Sampan kayu pun perlahan tersingkir, berganti berbahan viber. Viber dinilai lebih ringan dan pembuatannya pun cepat dan bisa dilakukan secara massal.

Padahal, beberapa puluh tahun lalu adalah nadi bagi warga sekitar alirannya. Itu termasuk warga Sidamulya Kecamatan Sidareja, yang berada di sisi hulu sungai Cibeureum.

Dalam rangkaian HUT ke-73 Kemerdekaan RI ini, Pemerintah Desa Sidamulya menggelar lomba unik, yakni balap perahu di Sungai Cibeureum. Pertandingan digelar antara Jumat hingga Minggu malam (24-26/8/2018).

Selain untuk memeriahkan HUT kemerdekaan RI, lomba ini juga digelar untuk melestarikan tradisi lama masyarakat. Di luar balap perahu, ada pula pertandingan sepak bola api.

Tempatnya pun satu lokasi dengan arena balap perahu. Bedanya, tentu, balap perahu di tengah sungai, sepak bola api di bantarannya.

"Di situ, Sungai Cibeureum," kata Kepala Desa Sidamulya, Takim kepada Liputan6.com, Minggu, 26 Agustus 2018.

Dia menerangkan lomba perahu dan sepak bola api ini adalah bagian dari tradisi masyarakat sekitar aliran Sungai Cibeureum yang sudah lama tak dilakukan. Perahu jukung adalah alat transportasi utama baik bagi nelayan maupun petani yang tinggal di sekitar alirannya.

Adapun sepak bola api adalah hiburan kaum santri pada masa lalu, yang sudah tak pernah lagi dilakukan.

"Bola api itu yang untuk memperingati hari ulang tahun ke-73 Republik Indonesia, mengandung maksud itu agar anak-anak gembira," ucapnya, Minggu, 27 Agustus 2018.

Balap perahu diikuti oleh 36 tim yang berasal dari dua kecamatan, yakni Kecamatan Sidareja dan Kecamatan Kedungreja. Dua kecamatan ini sama-sama dilintasi oleh Sungai Cibeureum yang bermuara di Laguna Segara Anakan. Tiap tim terdiri dari dua pendayung.

"Kemudian balap perahu, itu meliputi dua kecamatan, kemarin ada 36 pendaftar. Kayaknya, hal semacam itu sudah sangat jarang sekali," dia mengungkapkan.

3 of 3

Sungai yang Terancam

Seorang nelayan menghela sampan kayu di aliran sungai Cibeureum, Sidareja, Cilacap. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Seorang nelayan menghela sampan kayu di aliran sungai Cibeureum, Sidareja, Cilacap. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Pegiat desa dan Relawan Teknologi Informasi atau RTIK Cilacap, Akhmad Fadli mengatakan, saat ini budaya sungai sudah semakin ditinggalkan. Akibatnya, sebagian masyarakat sudah tak lagi menganggap aliran sungai menjadi bagian penting hidupnya.

Imbasnya, sampah rumah tangga pun melimpah tak terkendali. Banyak pula wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Cibeureum yang diuruk sehingga mengganggu aliran sungai.

"Aliran sungai jadi terganggu," ucap Fadli.

Menurut Fadli, Sungai Cibeureum juga menghadapi bahaya laten pendangkalan sungai. Akibat langsung yang dirasakan masyarakat adalah banjir tahunan yang selalu terjadi di Sidareja dan beberapa kecamatan lain yang dilintasi Sungai Cibeureum.

Padahal, sungai adalah nadi hidup sebagian warga, terutama nelayan dan petani. Dari sungai, nelayan menangkap ikan, udang dan Thoe, semacam kerang sungai. Sungai adalah sumber penghidupan nelayan.

Dia pun berharap, lewat pertandingan ini, masyarakat sadar dan turut menjaga kelestarian Sungai Cibeureum. Sungai Cibeureum tak hanya menghidupi, tetapi juga mesti dihidupi.

Dia pun mengapresiasi para pemuda yang menggelar balap perahu dan sepak bola api di pinggiran sungai. Anak-anak bakal lebih akrab dengan sungai. Harapannya, mereka mengenal aliran sungai layaknya orang-orang tua terdahulu.

"Faktanya, sekarang banyak anak pinggir Sungai Cibeureum yang tidak bisa berenang dan berperahu. Ini ironis," dia menambahkan.

Lanjutkan Membaca ↓