Kisah Bocah Pemanjat Tiang Bendera, Nasionalisme Mengalahkan Perut Mulas

Oleh Ola Keda pada 17 Agu 2018, 21:38 WIB
Diperbarui 17 Agu 2018, 21:38 WIB
belu
Perbesar
Yohanes Andi Gala bersama kedua orang tuanya di depan rumah mereka yang sederhana. (foto: Liputan6.com / Ola Keda)

Liputan6.com, Belu - Aksi heroik Yohanes Andi Gala akrab disapa Joni Gala pelajar kelas 7 SMPN Silawan si pemanjat tiang bendera saat upacara peringatan HUT RI ke-73 di pantai Mota’ain, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto, Kabupaten Belu, NTT, Jumat (17/8/2018) menyentuh nurani.

Bocah itu nekad memanjat tiang bendera yang tingginya diperkirakan 20 meter. Tindakan Yohanes untuk menyelamatkan upacara bendera yang terancam gagal karena tali pengait bendera lepas.

Joni Gala adalah anak dari pasangan Burito Fahik Marshal dan Lorensa Kama. Mereka tinggal sekitar satu kilometer dari perbatasan Indonesia - Timor Leste. Saat dilakukan referendum tahun 1998, mereka memilih menjadi warga negara Indonesia.

Joni nekad memanjat tiang kecil tanpa diminta siapapun. Sebenarnya saat itu perutnya merasa mulas dan ia mencoba lari ke toilet untuk buang air besar. Namun tiba di pintu toilet tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan petugas kesehatan bahwa tali bendera lepas dan upacara terancam gagal atau tertunda.

"Saya langsung lari ke depan dan memanjat tiang bendera. Lupa kalau perut mules," kata  Yohanes Andi Gala kepada Liputan6.com.

Diceritakan ia beberapa kali berhenti memanjat. Namun bukan karena takut. Yohanes merasa nafasnya mau putus. Bisa dimengerti karena sebelum memanjat ia berlari dan cukup jauh.

"Tak ada rasa takut sedikitpun. Saya hanya ingin Merah Putih bisa berkibar dan upacara berjalan lancar. Saya berhenti mungkin sampai tiga kali untuk ambil nafas," kata Yohanes.

Cukup lama memanjat tiang bendera, akhirnya Joni tiba di puncak, Joni mendapat tepuk tangan dari seluruh peserta upacara.

* Update Terkini Asian Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Pesta Olahraga Terbesar Asia di Sini

Simak video menarik berikut di bawah : 

2 dari 2 halaman

Keluarga Sederhana

belu
Perbesar
Yohanes Andi Gala, pelajar SMP N Silawan Kabupaten Belu, NTT yang memanjat tiang bendera. (foto : Liputan6.com / Ola Keda)

Keluarga Burito Fahik Marshal bukanlah keluarga kaya. Saat ditemui di rumahnya, kondisinya cukup memprihatinkan. Itulah sebabnya Joni sering membantu orangtuanya sepulang sekolah.

"Saya cari asam dan jual, hasilnya saya serahkan ke orangtua," kata Joni.

Dia mengaku orangtuanya hidup dalam kesulitan karena harus membiayai sekolahnya dan kedua kakaknya yang duduk di bangku SMA. Meski demikian Joni dan kakak-kakaknya selalu diajarkan tentang nasionalisme dan kecintaan kepada Indonesia.

Tiap 17 Agustus, meski sakit sekalipun seluruh keluarganya berusaha  menghadiri upacara HUT kemerdekaan RI.

"Saya yang diberi tugas oleh ayah cari bambu di hutan untuk jadikan tiang bendera setiap HUT kemerdekaan RI," kata Yohanes.

Ditanya keinginannya jika sudah dewasa, Yohanes mengaku ingin mengabdikan diri sebagai anggota TNI. Kabar terbaru, keberaniannya memanjat tiang bendera yang kecil dan tinggi itu menarik perhatian Presiden dan ia hendak dipertemukan.

Lanjutkan Membaca ↓