Heboh Kerajaan Ubur-Ubur, Apa Kabar Ubur-Ubur Asli?

Oleh Muhamad Ridlo pada 16 Agu 2018, 03:00 WIB
Ribuan Ubur-Ubur Segera Menepi di Gunungkidul, Hati-Hati Pingsan

 

Liputan6.com, Cilacap - Nama Kerajaan Ubur-ubur sedang naik daun. Sebuah aliran aneh di Serang, Banten membuat heboh khalayak luas. Polisi kini sedang menyelidikinya.

Soal nama aliran itu, seorang pengikutnya mengatakan ada maknanya. Dari keterangannya kepada polisi, nama itu diambil dari sifat hewan lunak itu, yakni ketika ubur-ubur bersatu maka bisa menjadi kekuatan yang sangat besar, bahkan mampu menenggelamkan kapal besar.

Sementara itu, apa kabar si ubur-ubur asli, yang namanya dipinjam itu? Ternyata, bulan-bulan ini kebetulan sedang musimnya sejenis binatang laut yang termasuk dalam kelas Scyphozoa itu di perairan laut selatan Jawa.

Musim ubur-ubur tiba bersamaan dengan berembusnya angin timuran. Ubur-ubur menjadi pelipur bagi nelayan perairan selatan Cilacap, Jawa Tengah usai berbulan-bulan melaut dengan diliputi kekhawatiran seiring gelombang tinggi.

Sejak Mei hingga Juli 2018 lalu, angin kencang, cuaca buruk dan gelombang tinggi datang silih berganti. Sepanjang waktu, banyak nelayan yang enggan melaut. Mereka mengkhawatirkan keselamatannya.

Akhir dasarian pertama bulan Agustus 2018, musim ubur-ubur mencapai puncaknya. Harapan mendulang rupiah pun membuncah di kalangan nelayan.

Bagaimana tidak, hanya dengan perahu berukuran kecil, di bawah lima groos ton, nelayan bisa peroleh satu ton ubur-ubur segar. Seringkali, mereka kembali melaut antara dua hingga tiga kali. Dalam sehari, tiap perahu bisa menangkap antara 1-4 ton ubur-ubur.

Ubur-ubur pun melimpah ruah. Di sisi lain, pengepul atau tengkulak yang menerima ubur-ubur jumlahnya terbatas. Imbasnya, harga ubur-ubur jatuh.

Harga ubur-ubur justru semakin terpuruk. Harga satu kilogram ubur-ubur tak lebih dari satu kerupuk di warung-warung. "Rp 600 per kilogram," Ketua Kelompok Nelayan Pandanarang, Tarmuji, menuturkan kepada Liputan6.com, Jumat, 10 Agustus 2018.

Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya, ubur-ubur berkisar Rp 1.000 per kilogram dengan harga tertinggi mencapai Rp 1.200 per kilogram. Tangkapan ubur-ubur yang tak seimbang dengan jumlah pengusaha menyebabkan ubur-ubur turun drastis.

Sebab, jumlah nelayan di Cilacap mencapai belasan ribu orang. Sebagian besar adalah nelayan perahu kecil yang jelas tak mau ketinggalan menangkap ubur-ubur.

"Kalau mungkin ada rezeki bagus, jam 9 pagi sudah dapat 1 ton ya balik, menyetorkan ubur-ubur dulu, ada yang kembali lagi kalau masih ada waktunya, begitu. Ini sedang banyak-banyaknya ubur-uburnya," ucapnya.

Imbas melimpahnya ubur-ubur, pengusaha hanya sesekali menerima ubur-ubur. Biasanya, mereka mengumpulkan ubur-ubur selama dua hari. Setelah itu, tutup.

Sebab, pengusaha pun terkendala semakin minimnya lokasi pengolahan ubur-ubur. Lokasi pengolahan itu digunakan untuk membersihkan ubur-ubur dan mengeringkannya sebelum diekspor ke Jepang dan Tiongkok.

"Dibuang kepalanya, jadi limbah. Bau sekali," dia menerangkan.

Tarmuji mengungkapkan, saat ini banyak lokasi yang semula jadi tempat pengolahan ubur-ubur ditutup. Limbah menjadi pangkal soalnya. Masyarakat pun menolak tempat pengolahan ubur-ubur yang jadi biang pencemaran.

Nelayan pun mesti menyesuaikan dengan kebutuhan pengepul. Tatkala tengkulak tutup, mereka libur melaut. Ada pula yang memilih menangkap ikan untuk mengisi waktu luang di sela tak menangkap ubur-ubur.

"Musim ubur-ubur biasanya tiga bulan. Ini sekarang sedang banyak-banyaknya," katanya. Selamat datang ubur-ubur.