Menyisir Seluk-Beluk Tenun Pusaka Leluhur Pandai Sikek

Oleh Elvina Yollanda pada 14 Agu 2018, 08:01 WIB
Diperbarui 16 Agu 2018, 07:13 WIB
Kerajinan Pusaka Leluhur Pandai Sikek, Tanah Datar

Liputan6.com, Tanah Datar - Pandai Sikek merupakan salah satu nagari yang termasuk ke dalam wilayah kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Nagari ini terletak di dekat Batusangkar, ibu kota dari kabupaten Tanah Datar. Nagari Pandai Sikek juga dikenal sebagai tempat perajin tenun, dan ini diapresiasikan oleh pemerintah Republik Indonesia dalam gambar mata uang pecahan Rp 5.000 edisi 1999.

Nagari dengan jumlah penduduk 5.539 orang ini mayoritas penduduknya menggantungkan hidup dengan menenun. "Kegiatan bertenun ini sudah berlangsung sejak lama, saat kami masih kanak-kanak sekitar tahun 1960-an, nenek kami sudah tekun bertenun dan mewariskan kepada kami hingga kini," ucap salah seorang tetua yang dipanggil bundo kanduang di rumah pusako tenun ini, akhir pekan ini.

Terdapat banyak gerai di nagari Pandai Sikek ini yang menjajakan hasil tenunan rumah tenun pusako. Harga dibanderol dari Rp 5,5 juta hingga Rp 10 juta per satu set, selendang dan kainnya, tergantung jenis bahan tenunan. Sutra merupakan bahan primadona yang termahal.

Hasil karya tenunan ini sudah hampir ke seluruh pelosok Tanah Air, dari pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan tentunya merambah Sumatera. Warga Pandai Sikek masih mempertahankan penenunan dengan mesin tenun manual karena konsumen lebih menyukai karya hand made.

"Para pembeli lebih menyukai tenunan hasil tangan kami, walaupun memakan waktu lama dalam pembuatannya sekitar 3 minggu hingga satu bulan per set, tetapi motif dan kehalusan pola kain tenun lebih rapi dan indah," papar Yesi, salah seorang perajin saat ditemui di gerai miliknya.

Secara spesifik kain tenun songket karya para perajin daerah Pandai Sikek mempunyai tiga jenis motif wajib yang selalu ditampilkan dalam setiap pembuatan kain tenun, baik dalam pembuatan kain tenun songket sebagai perangkat upacara adat, maupun sebagai produk-produk praktis. Adapun ketiga jenis motif tersebut yaitu motif batang pinang (pohon pinang), motif bijo bayam (biji bayam), dan motif saluak laka.

Penampilan ketiga jenis motif ini merupakan salah satu ciri khas kain tenun songket yang dihasilkan. Artinya, kalau pada selembar kain tenun songket tidak ditemui ketiga jenis motif tersebut, maka dapat dipastikan kalau kain tenun songket tersebut bukan hasil karya para perajin daerah Pandai Sikek.

 

* Update Terkini Asian Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Pesta Olahraga Terbesar Asia di Sini.

2 dari 2 halaman

Mitos Tenun Pandai Sikek

Kerajinan Pusaka Leluhur Pandai Sikek, Tanah Datar
Yesi, perajin songket di rumah tenun Pusako Pandai Sikek. (Liputan6.com/Elvina Yollanda)

Dengan adanya motif-motif khusus tenun songket yang dipunyai daerah ini, juga dapat diketahui bahwa melalui bentuk motif ini akan membedakan antara kain tenun songket buatan daerah Pandai Sikek dengan kain tenun songket buatan daerah lainnya. Maka dapat disimpulkan kalau seni kerajinan tenun songket Pandai Sikek cenderung bergaya kedaerahan.

Hal ini juga didukung dengan adanya keinginan yang kuat dari para perajin untuk mengidentikkan daerah Pandai Sikek dengan seni kerajian tenun songket. Kain tenun songket yang dihasilkan para perajin Pandai Sikek ini dikenal dengan dua jenis, yaitu kain songket balapak dan kain songket batabua (bertabur).

Kain songket balapak, yaitu kain songket dengan hiasan motif memenuhi seluruh bidang permukaan kain, sehingga warna dasar kain tidak begitu kelihatan.

Sebagian masyarakat Pandai Sikek juga menyebut jenis songket ini dengan kain tenun sarek, yang berarti kain tenun songket dengan ragam hias benang emas yang penuh.

Adapun kain songket jenis batabua (bertabur), yaitu kain songket dengan hiasan motif pada bagian tertentu saja, kain songket ini juga biasa disebut kain songket babintang (berbintang) yang berarti hiasannya seperti bintang-bintang yang berserakan di langit, dimana motifnya tidak memenuhi seluruh permukaan kain.

Motif-motif kain tenun di nagari ini selalu diambil dari contoh kain-kain tua yang masih tersimpan dengan baik dan sering dipakai sebagai pakaian pada upacara-upacara adat serta untuk fungsi lain dalam lingkup upacara adat, misalnya sebagai tando dan dipajang juga pada waktu batagak (mendirikan) rumah.

Motif-motif tenun Pandai Sikek diyakini sebagai motif asli pada kain-kain tenunan perempuan-perempuan Pandai Sikek pada zaman lampau.

Konon, kata masyarakat asli Pandai Sikek, jika kepandaian bertenun mereka diajarkan dan diturunkan ke orang luar nagari maka akan ada musibah yang akan menimpa orang tersebut. Namun, masih dijumpai juga orang keturunan Jawa yang menjadi salah satu perajin Pandai Sikek di Rumah Tenun Pusako ini.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓