Isi Pagi dengan Menanam Padi Gaya Komodo di Labuan Bajo

Oleh Amar Ola Keda pada 12 Agu 2018, 06:01 WIB
Labuan Bajo

Liputan6.com, Kupang- Selain dikenal sebagai salah satu destinasi wisata komodo yang mendunia, Labuan Bajo, Manggarai Barat, dikenal juga sebagai penghasil padi terbesar di Nusa Tenggara Timur. 

Petani di Labuan Bajo juga memiliki pola baru dalam budidaya padi dengan sistem dua kali panen dalam sekali tanam dari bibit yang sama. Mereka menyebutnya sebagai budidaya padi gaya komodo atau cappang.

Budidaya padi gaya komodo ini sudah diterapkan hampir seluruh petani setempat. Meski demikian, banyak petani masih mengalami kendala karena keterbatasan pengetahuan dan  teknologi pertanian.

Metode cappang digunakan setelah panen padi di musim tanam pertama (biasanya pada musim hujan). Batang padi bekas panen, dibiarkan hingga tumbuh tunas baru.

Selanjutnya, batang padi bekas panen dipangkas hingga keluar tunas baru. Butuh waktu sekitar 1,5 bulan dari panen pertama, petani sudah bisa memanen padi lagi dari sistem cappang. Seperti yang dilakukan Yanto Odos selaku Ketua Kelompok Tani Welanai Binaan BPTP NTT di Desa Compang Longgo, Kabupaten Manggarai Barat.

Pada musim hujan 2017/2018, ia bersama beberapa anggota kelompok tani lainnya di bawah bimbingan peneliti, mereka menanam padi varietas Inpari 32 mengikuti cara tanam legowo 2:1 atas kerja sama dengan BPTP Balitbantan NTT melalui Program Peningkatan Indeks Pertanaman (PIP).

Dikatakan Charles Bora selaku Peneliti Pertanian dari BPTP NTT mengatakan, hasil cappang mencapai 3,52 ton/hektare.

"Ini membuktikan  bahwa padi hasil cappang masih menghasilkan 33 persen dari hasil panen pertama (10,5 t/ha). Pola cappang ini masih bisa meningkat lagi apabila suplai air cukup dan juga pemupukan," ujar Charles kepada Liputan6.com, Rabu, 8 Agustus 2018.

 

2 of 2

Tingkatkan Produktivitas

Labuan Bajo
Budidaya padi sistem Cappang (Liputan6.com/Ola Keda)

Dia mengatakan, pola tanam padi dengan gaya Cappang terbukti mampu meningkatkan produktivitas tanaman padi sehingga berdampak positif bagi perekonomian petani. Petani bisa mendapatkan hasil produksi yang berkali-kali lipat tanpa harus membeli benih baru dan menghabiskan waktu untuk menyemai baru. Pasalnya, cappang hanya memanfaatkan sisa tanaman yang telah dipanen sebelumnya.

Hasilnya juga tidak jauh berbeda dari konvensional (panen sebelumnya). Bahkan, petani diuntungkan karena dapat menghemat biaya produksi karena tidak perlu ongkos tanam untuk membeli benih dan penyemaian dan waktunya 50 hari lebih cepat. 

Selain itu, kata Charles, hasil cappang bisa menutupi biaya produksi yang dikeluarkan pada musim tanam pertama. Varietas Inpari 32 selain produktivitasnya tinggi pada panen pertama, juga cocok untuk cappang yang tidak dimiliki varietas padi lainnya.

Dia menjelaskan, sistem gaya cappang merupakan tanaman padi yang tumbuh lagi setelah batang sisa panen ditebas/dipangkas. Tunasnya akan muncul dari buku yang ada di dalam tanah dan tunas akan mengeluarkan akar baru sehingga suplai hara tidak lagi tergantung pada batang lama.

Tunas tersebut bisa membelah atau bertunas lagi seperti padi tanaman pindah biasa, inilah yang membuat pertumbuhan dan produksinya sama atau lebih tinggi dibanding tanaman pertama

"Teknik cappang adalah teknik penanaman padi menggunakan bonggol tanaman padi sisa panen musim pertama sehingga lebih cepat panen. Agar bisa tumbuh lagi, ada beberapa faktor yang berpengaruh antara lain tinggi pemotongan batang, varietas, kondisi air tanah setelah panen, dan pemupukan," katanya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓