Sang Komandan Syok Usai Insiden Peluru Nyasar yang Tewaskan Polisi Buton

Oleh Ahmad Akbar Fua pada 01 Agu 2018, 04:01 WIB
Diperbarui 03 Agu 2018, 03:13 WIB
Penembakan Senjata Api

Liputan6.com, Buton - Jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Sampuabalo di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, berdukacita. Brigadir Polisi Sanusi, anggota Reserse Kriminal (Reskrim) Polsek Sampuabalo meninggal dunia diduga akibat terkena peluru nyasar sang komandan, inspektur polisi satu (Iptu) berinisial SU.

Insiden peluru nyasar tersebut berawal dari tembakan peringatan yang diduga tidak dilakukan sempurna oleh Kapolsek Sampuabalo. Usai korban terjatuh dan berdarah, Iptu SU langsung berhenti mengamankan lokasi.

"Korban langsung dibawa ke Puskesmas Siotapina, Desa Matanauwe, untuk mendapatkan perawatan medis," ucap Kapolres Buton, AKBP Andi Herman, Selasa (31/7/2018).

Brigadir Sanusi terluka parah di bagian belakang kepala usai terkena peluru tajam. Korban selanjutnya dirujuk di Rumah Sakit Umum Daerah Laburunci. Namun, saat dalam perawatan, korban meninggal dunia.

"Saat ini, Kapolsek masih syok. Dia kaget dan tidak menyangka akan terjadi seperti ini," ujar Andi.

Saat hendak ditemui sejumlah wartawan, Kapolsek Sampuabalo sedang berada di Polres Buton. Selain itu, sang kapolsek juga belum mau menemui sejumlah wartawan yang hendak menanyakan seputar insiden diduga peluru nyasar tersebut.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

2 of 2

Kronologi Insiden yang Menewaskan Brigadir Sanusi

Polisi korban peluru nyasar
Brigadir Polisi Sanusi, korban peluru nyasar diduga dari tembakan Kapolsek Sampuabalo, saat melerai tawuran pelajar di SMAN 2 Siotapina, Buton, Sulawesi Tenggara. (Liputan6.com/Ahmad Akbar Fua)

Sebelumnya, seorang polisi terkena peluru nyasar saat melerai tawuran pelajar di SMAN 2 Siotapina, Jalan Poros Lasalimu, Desa Gunung Jaya, Kecamatan Siotapina, Buton, Sulawesi Tenggara.

Korban adalah Brigadir Polisi Sanusi, anggota Reserse Kriminal (Reskrim) Kepolisian Sektor (Polsek) Sampuabalo. Korban mengalami luka tembak di bagian belakang kepala.

Saat itu, menurut Kapolres Baubau AKBP Andi Herman, kapolsek terjatuh saat mengeluarkan tembakan peringatan ke arah atas. Sebab, posisi mereka berupaya melerai saat berada di tengah ratusan pelajar dan warga yang terlibat tawuran.

"Setelah bangun dari jatuhnya, dia sudah melihat anggotanya di depan dalam posisi jongkok dan berdarah kepalanya," ucap Kapolres Buton, AKBP Andi Herman, Selasa (31/7/2018).

Andi menjelaskan, lima personel polsek mengamankan tawuran yang dipicu luka lama itu. Dari data sementara, saat itu ada dua polisi yang memegang senjata.

Keduanya adalah Iptu SU dan Brigadir Polisi Kepala (Bripka) Rusli Dwianti. Iptu SU memegang senjata api jenis revolver, sedangkan Bripka Rusli menggunakan senjata api jenis V2 Sabhara.

Dari sejumlah saksi mata, senjata Kapolsek berisi enam butir peluru. Sementara, senjata V2 Sabhara belum diketahui jumlah pelurunya. Korban Brigadir Polisi Sanusi, menurut sejumlah saksi mengisi peluru di senjata V2 Sabhara.

"Untuk jarak kapolsek dari anggota saat terjadinya peluru salah sasaran itu, kami belum ketahui. Masih sementara akan diselidiki oleh Propam Polda Sultra," ujar Kapolres Baubau.

Lanjutkan Membaca ↓