Lerai Tawuran, Nyawa Polisi Melayang Diduga Akibat Peluru Nyasar Komandan

Oleh Ahmad Akbar Fua pada 31 Jul 2018, 17:01 WIB
Diperbarui 31 Jul 2018, 17:01 WIB
Polisi korban peluru nyasar

Liputan6.com, Buton - Insiden peluru nyasar kembali terjadi. Seorang polisi di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, mengembuskan napas terakhir usai diduga tertembak peluru nyasar dari Kapolsek Sampuabalo berpangkat inspektur polisi satu (Iptu) berinisial SU.

Sang polisi terkena peluru nyasar saat melerai tawuran pelajar di SMAN 2 Siotapina, Jalan Poros Lasalimu, Desa Gunung Jaya, Kecamatan Siotapina, Buton, Sulawesi Tenggara.

Korban adalah Brigadir Polisi Sanusi, anggota Reserse Kriminal (Reskrim) Kepolisian Sektor (Polsek) Sampuabalo. Korban mengalami luka tembak di bagian belakang kepala.

Saat itu, menurut Kapolres Baubau AKBP Andi Herman, kapolsek terjatuh saat mengeluarkan tembakan peringatan ke arah atas. Sebab, posisi mereka berupaya melerai saat berada di tengah ratusan pelajar dan warga yang terlibat tawuran.

"Setelah bangun dari jatuhnya, dia sudah melihat anggotanya di depan dalam posisi jongkok dan berdarah kepalanya," ucap Kapolres Buton, AKBP Andi Herman, Selasa (31/7/2018).

Andi menjelaskan, lima personel polsek mengamankan tawuran yang dipicu luka lama itu. Dari data sementara, saat itu ada dua polisi yang memegang senjata.

Keduanya adalah Iptu SU dan Brigadir Polisi Kepala (Bripka) Rusli Dwianti. Iptu SU memegang senjata api jenis revolver, sedangkan Bripka Rusli menggunakan senjata api jenis V2 Sabhara.

Dari sejumlah saksi mata, senjata Kapolsek berisi enam butir peluru. Sementara, senjata V2 Sabhara belum diketahui jumlah pelurunya. Korban Brigadir Polisi Sanusi, menurut sejumlah saksi mengisi peluru di senjata V2 Sabhara.

"Untuk jarak kapolsek dari anggota saat terjadinya peluru salah sasaran itu, kami belum ketahui. Masih sementara akan diselidiki oleh Propam Polda Sultra," ujar Kapolres Baubau.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

2 dari 2 halaman

Penyebab Tawuran Pelajar

Polisi korban peluru nyasar
Brigadir Polisi Sanusi, korban peluru nyasar diduga dari tembakan Kapolsek Sampuabalo, saat melerai tawuran pelajar di SMAN 2 Siotapina, Buton, Sulawesi Tenggara. (Liputan6.com/Ahmad Akbar Fua)

Adapun tawuran antarpelajar yang pecah di SMAN 2 Siotapina, Desa Gunung Jaya, Kecamatan Pasarwajo, Selasa (31/7/2018), adalah lanjutan perkelahian massal siswa sehari sebelumnya. Pada tawuran hari kedua, tak hanya pelajar yang ikut serta, tapi juga melibatkan warga dua desa di sekitar sekolah.

Kedua desa ini adalah Gunung Jaya dan Sampuabalo. Sekitar 100 orang lebih warga dan pelajar terlibat dalam tawuran yang diamankan hanya oleh lima personel polsek setempat.

"Masalah ini, sebenarnya masalah desa. Hanya, dibawa-bawa ke sekolah. Dari dulu, warga dua desa sering berkelahi karena alasan sepele," ujar Syahrin, salah seorang warga di sekitar tempat kejadian perkara atau TKP.

Syahrin menjelaskan, tawuran pada Senin, 30 Juli 2018, sempat dilerai dan berhasil didamaikan pihak sekolah. Ketika itu, kejadiannya di dalam halaman sekolah.

"Tadi pagi pecah lagi, melibatkan anak-anak dan pemuda di perbatasan dua desa itu. Saat itulah, polisi turun dan berusaha melerai," tutur Syahrin.

Lanjutkan Membaca ↓