Menguak Kesakralan Gambang Karangasem, Alat Musik Penggiring Konsentrasi

pada 29 Jul 2018, 05:03 WIB
Diperbarui 31 Jul 2018, 04:13 WIB
Mengenal Gambang, Gambelan Religius Penggiring Konsentrasi

Karangasem - Desa berpredikat Bali Mula seperti Bungaya, Tenganan, Seraya, dan Timbrah di Karangasem identik dengan alat musik sakral, Selonding. Ternyata tak hanya Selonding, ada juga alat musik lain yang tak kalah sakralnya, yakni Gambelan Gambang. Apa bedanya Gambang di Karangasem dengan wilayah Bali lainnya?

Di Bali banyak terdapat alat musik tradisional yang cukup unik. Alat musik tersebut umumnya dimainkan sebagai pengiring pertunjukan ataupun gambelan dalam sebuah prosesi upacara adat. Salah satu gambelan unik yang ada di Bali adalah Gambelan Gambang.

Gambelan ini mirip dengan gambang yang ada di Pulau Jawa. Namun, di beberapa wilayah Karangasem, Gambelan Gambang dianggap sakral. Gambelan Gambang merupakan alat musik tradisional yang terbuat dari bambu dan perunggu. Bunyi yang dihasilkan pun biasanya bernada selendro. Di wilayah Tengah Karangasem, alat musik ini hanya dimainkan sebagai pengiring saat upacara Dewa Yadnya.

Gambelan ini terdiri dari bilah–bilah bambu yang disusun sedemikian rupa. Alat musik ini, menggunakan pemukul khusus yang membuat musik Gambang mengalun merdu sekaligus terasa begitu mistik.

"Di wilayah Karangasem, seperti Tenganan, Bungaya, Seraya, dan Timbrah, Gambelan Gambang hanya diperuntukkan untuk upacara Dewa Yadnya, seperti Usaba dan piodalan di pura. Namun, di wilayah Tabanan, Gambelan Gambang justeru hanya digunakan sebagai musik pengiring dalam prosesi Ngaben," papar Dosen Institute Seni Indonesia (ISI ) Denpasar, Dr. Nyoman Astita, M.A ketika ditemui JawaPos.comdi kediamannya pekan kemarin.

Menurutnya, fungsi Gambelan Gambang memang berbeda sesuai desa kala patra dan keyakinan masyarakat setempat.

"Beda desa tentu berbeda pula aturannya. Selain dari segi fungsi, bentuk Gambelan Gambang di Karangasem dengan daerah lainnya juga berbeda. Gambelan yang ada di beberapa wilayah Karangasem itu sebagian besar bentuknya utuh, mengingat wilayah mereka yang termasuk dalam Desa Bali Mula," urainya.

Sedangkan yang di wilayah Tabanan atau wilayah Gianyar, lanjut Astita, umumnya bentuknya sudah dipengaruhi zaman, yang bisa dilihat dari ukiran dan tambahan ornamen lainnya. Dia menambahkan, fungsi Gambelan Gambang yang berbeda di beberapa wilayah, juga dikarenakan lagu atau gendingan yang digunakan berbeda.

"Di wilayah Karangasem, Gambang digunakan sebagai musik pengiring upacara Dewa Yadnya, karena esensi musik umumnya untuk membimbing pikiran umat yang sedang mengikuti prosesi, agar terkonsentrasi pada kesucian, sehingga pada saat persembahyangan pikiran fokus kepada Tuhan," ujarnya.

Menurutnya, esensi musik yang ada pada Gambang selaras dengan nilai religius yang dimiliki gambelan secara umum.

"Itulah, kenapa gending–gending yang dibawakan Gambelan Gambang di Karangasem berbeda dengan gending Gambang yang ada di wiayah Kaba–kaba Tabanan," imbuhnya.

Gambang di Karangasem fungsinya sebagai pengiring upacara keagamaan (dewa yadnya), dan dapat menambah religiusitas sebuah prosesi upacara. Ia menjelaskan, gending yang umumnya dibawakan oleh Gambelan Gambang adalah gending Dewa Yadnya serta Pitra Yadnya seperti gending Pupuh Ginanti dan Margi Linggah.

"Biasanya Gambang juga diiringi oleh tembang Macepat atau kidung Pupuh Ginanti. Tidak ada not baku yang digunakan ketika memainkan Gambelan Gambang. Nadanya sesuai kidung atau tembang Macepat yang dibawakan," ujarnya.

 

Baca berita menarik lainnya dari JawaPos.com di sini.

 

2 of 2

Pemberian Dewa Dewi

Dampak Gunung Agung, Pura Lempuyang Sepi Pengunjung
Wisatawan berkunjung di sekitar Pelataran Agung Pura Lempuyang, Karangasem, Bali, Kamis (7/12). Erupsi Gunung Agung menyebabkan sejumlah destinasi wisata di kawasan Bali Timur mengalami penurunan jumlah wisatawan. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Bicara soal sejarahnya, Astita memaparkan bahwa Gambelan Gambang ditemukan sekitar abad IX-X Masehi. Namun, tak ada prasasti ataupun lontar yang menjelaskan secara rinci dimana awal mula Gambelan Gambang ditemukan.

"Tak ada bukti riil seperti prasasti atau pun lontar. Namun, sejarah asal muasal Gambelan Gambang biasanya dijelaskan dalam cerita rakyat yang ada di desa tersebut,” ungkapnya. Ia menambahkan, masing–masing daerah memiliki cerita tersendiri mengenai asal usul Gambelan Gambang di wilayahnya.

"Seperti cerita penemuan gambang di wilayah Kaba–kaba, Tabanan yang katanya diberikan oleh wanita tua kepada seorang petani. Nah, berbeda lagi dengan cerita asal usul yang ada di Karangasem yang diceritakan pemberian Dewa dan Dewi," urainya.

Dari cerita asal usul yang menyebar dari mulut ke mulut inilah, lanjutnya, yang membuat fungsinya berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya.Ia menjabarkan di wilayah Tabanan, bilah–bilah gambang dikatakan mirip dengan palih wadah (perlengkapan Ngaben). Hal itu diperkuat dengan kisah asal–usul Gambelan Gambang yang ada.

"Ceritanya penjual Gambang yang gaib itu, memberikan Gambang pada seorang petani, dan bilahnya mirip palih Wadah orang meninggal. Saya rasa itu ada kaitannya mengapa Gambang di Tabanan justeru hanya digunakan pada saat upacara Ngaben," terangnya.

Kalau di Karangasem kisahnya Gambang itu adalah hadiah dari para Dewa Dewi. Maka tidak heran, di Karangasem penggunaan Gambang hanya untuk upacara Dewa Yadnya. Jika dikaji dari unsur teknikal seni, Gamelan Gambang tergolong dalam alat musik berlaras pelog (tujuh nada).

Dibentuk dari enam buah instrumen berbilah. Yang paling dominan adalah empat buah instrumen berbilah bambu yang disebut Gambang. Gambelan Gambang sendiri terdiri atas beberapa bilah paling kecil hingga ke bilah paling besar (pametit, panganter, panyelad, pamero, dan pangumbang). Setiap instrumen dimainkan oleh seorang penabuh yang menggunakan sepasang panggul bercabang dua.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓