Dampak Gelombang Pasang Setinggi 6 Meter di Pesisir Selatan Cilacap

Oleh Muhamad Ridlo pada 25 Jul 2018, 18:00 WIB
Diperbarui 25 Jul 2018, 18:00 WIB
Warga Tegalkamulyan, Cilacap memperbaiki tanggul penahan gelombang tinggi yang rusak akibat terjangan gelombang pasang. (Foto: Liputan6.com/BPBD CLP/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Warga Tegalkamulyan, Cilacap memperbaiki tanggul penahan gelombang tinggi yang rusak akibat terjangan gelombang pasang. (Foto: Liputan6.com/BPBD CLP/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Cilacap - Gelombang pasang kembali terjadi terjadi di perairan selatan Cilacap, Purworejo, hingga Yogyakarta, awal pekan ini. Terjangan gelombang tinggi yang mencapai daratan ini adalah kali kedua pada Juli 2018, setelah pada pertengahan pekan lalu.

Saat itu, gelombang tinggi merusak ratusan bangunan yang berdiri di daerah sempadan, atau kurang dari 100 meter dari bibir pantai. Namun, saat itu gelombang tinggi tak sampai menyentuh tanggul penahan ombak.

Pada akhir pekan, kondisi perairan berangsur normal. Akan tetapi, awal pekan ini, gelombang pasang kembali terjadi.

Bahkan, pada Selasa malam (24/7/2018) ketinggian gelombang lebih dahsyat, mencapai empat hingga enam meter di perairan pantai. Akibatnya, air melimpas dan merusak tanggul penahan ombak di Kelurahan Tegalkamulyan Kecamatan Cilacap Selatan, Cilacap rusak.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Martono mengatakan, kerusakan yang sudah teridentifikasi pagi ini terjadi di empat titik tanggul di radius 500 meter sebelah timur Pantai Teluk Penyu, Cilacap. Gelombang tinggi melimpasi tanggul dan menyebabkan empat titik tanggul kritis.

"Pada saat ini, beberapa kali ini sudah melimpasi tanggul penahan gelombang. Beberapa tanggul rusak, terutama tanggul yang dibuat secara manual yag terbuat dari urukan pasir," ucapnya, Rabu pagi, 25 Juli 2018.

Warga Tegalkamulyan merespon cepat dampak gelombang tinggi ini. Sejak Selasa malam, ratusan warga dan relawan mulai memperbaiki tanggul kritis dan membendungnya dengan karung berisi pasir.

Hari ini BPBD masih mendata dan menerjunkan relawan untuk turut memperbaiki tanggul yang rusak akibat hempasan gelombang tinggi. Dikhawatirkan, air laut melimpas ke permukiman dan menyebabkan bencana lainnya, yakni banjir rob yang bisa menyebabkan kerusakan lebih parah.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Waspada Gelombang Tinggi Laut Selatan Hingga 27 Juli 2018

Sebagian besar nelayan Cilacap pilih menambatkan perahu dan libur melaut lantaran ancaman gelombang tinggi di perairan selatan. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Sebagian besar nelayan Cilacap pilih menambatkan perahu dan libur melaut lantaran ancaman gelombang tinggi di perairan selatan. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Banjir rob juga bisa memicu bencana lainnya, yakni krisis air bersih lantaran sumur warga tercemar air laut.

Gelombang tinggi dilaporkan juga berdampak di pantai wilayah timur Cilacap, seperti Widarapayung, Adipala. Namun, petugas unit pelaksana teknis (UPT) hingga kini masih melakukan pendataan kerusakan.

"Untuk data resmi, hingga kini masih dilakukan pendataan di lapangan. Adapun yang dilakukan, warga masyarakat merepson berusaha memperbaiki tanggul yang kritis," dia menjelaskan.

Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pos Pengamatan Cilacap, Rendy Krisnawan memprediksi gelombang tinggi masih berpeluang terjadi hingga tiga hari ke depan. Pada Rabu, ombak di perairan pantai selatan bisa mencapai empat hingga enam meter.

Menurut dia, gelombang setinggi ini amat berbahaya untuk perahu nelayan yang rata-rata berukuran kecil dan meningkatkan risiko pelayaran. Nelayan juga diminta untuk mewaspadai angin berkecepatan tinggi akibat pusat tekanan tinggi di tenggara Australia dan tekanan rendah di Timur Taiwan.

Angin berkecepatan 15 knot hingga 27 knot berpeluang terjadi di perairan selatan dan Samudera Hindia. Angin deras ini memicu gelombang setinggi enam meter di Samudera.

"Kapal ukuran besar seperti kapal kargo waspadai kecepatan angin lebih dari 27 knot serta ketinggian gelombang lebih dari 4 meter. Nelayan harap memperhatikan kondisi tersebut sebelum melaut," kata Rendy.

Lanjutkan Membaca ↓