Sambut Pagi dengan Kisah Sajadah Pelepah Pisang Kreasi Unik Mahasiswa Yogya

Oleh Switzy Sabandar pada 25 Jul 2018, 06:00 WIB
Diperbarui 25 Jul 2018, 06:00 WIB
Sapasang
Perbesar
Sekelompok mahasiswa UNY menciptakan sajadah dari pelepah pisang.

Liputan6.com, Yogyakarta - Sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berinovasi menciptakan sajadah dari pelepah pisang. Kreasi yang diberi nama Sapasang yang merupakan akronim dari Sajadah Pelepah Pisang merupakan karya Erni Nur Bayinah, Selvia Zuni Murningsih, Novia Haryani, Nursyifa Sundari, serta Vina Mathlaul.

Pembuatan sajadah ini diawali dengan menyiapkan bahan baku, yakni pelepah pisang. Bahan ini diperoleh dari perkebunan pisang yang ada di wilayah Yogyakarta. Selain itu, kain perca, kancing, benang, cat akrilik, dan plitur untuk mewarnai.

"Pelepah pisang dikeringkan sampai kadar air berkurang 20 persen lalu dijemur selama tujuh hari dan dipotong menjadi beberapa bagian," ucap Nursyifa, beberapa waktu lalu.

Setelah itu, pelepah dianyam menjadi sajadah dengan dilapisi kain perca agar memberikan rasa empuk atau tidak terlalu keras saat digunakan salat. Pola yang sudah didesain diterapkan di atas sajadah dan dilukis. Ketika sudah melewati proses akhir, sajadah dikemas untuk dipasarkan.

Sajadah ini tidak hanya berguna sebagai alat ibadah namun juga dapat sebagai cendera mata karena produknya tergolong unik. Pemasaran saat ini dilakukan lewat berbagai pameran yang berkaitan dengan keislaman dan mendatangi masjid-masjid lokasi pengajian. 

"Pemasaran sajadah juga lewat media online, sehingga produk ini tidak hanya dikenal di Yogyakarta tetapi juga di daerah lain," ujarnya.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Mengoptimalkan Nilai Pohon Pisang

Sapasang
Perbesar
Sekelompok mahasiswa UNY menciptakan sajadah dari pelepah pisang.

Keberadaan Sapasang dianggap para mahasiswi ini bisa menambah nilai pohon pisang, mengingat pohon pisang merupakan tanaman yang multiguna. Setiap bagian dari pohon pisang bermanfaat, mulai dari daun, buah, batang, sampai akarnya.

"Namun, pemanfaatan pohon pisang selama ini masih kurang optimal, dilihat dari kencenderungan masyarakat yang hanya memanfaatkan daun, buah, maupun akarnya sementara batang atau pelepahnya jarang digunakan," ucap Erni, ketua kelompok.

Pemanfaatan pelepah pisang selama ini masih bersifat konvensional, misal digunakan sebagai tali pengikat, wayang kulit, pakan ternak, rakit, perlengkapan ritual budaya, serta kegiatan keagamaan. Sisanya, dibiarkan membusuk begitu saja menjadi limbah.

"Limbah yang tidak dimanfaatkan dan diberdayakan dengan benar akan menjadi sumber pencemaran," kata Erni.

Ia memaparkan pula, pelepah pisang memiliki banyak serat, bertekstur, dan kuat menunjukkan potensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku produksi. Keunikan tekstur dan warna alami membuat pelepah pisang menarik untuk dijual.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya