Aura Mistis Kereta Jenazah Berlambang Freemasonry di Salatiga

pada 23 Jul 2018, 07:01 WIB
Diperbarui 25 Jul 2018, 06:13 WIB
Freemasonry di Salatiga

Salatiga - Tiga benda peninggalan era kolonialisme pemerintahan Belanda di Indonesia dipamerkan setiap dua minggunya di Kantor Kelurahan Kutowinangun Lor, Jalan Dr Muwardi, Tingkir, Salatiga, Jawa Tengah. Ketiga benda tersebut adalah kereta jenazah yang dipercaya warga mengandung klenik.

Meski mengandung banyak simbol pada desain ketiga kereta itu sendiri, termasuk salah satunya yang memiliki lambang organisasi rahasia Freemasonry, fokus warga masih belum ke sana.

"Kita kenal Freemasonry sebagai organisasi yang dikait-kaitkan sama satanic, walaupun bukan ya. Tapi, orang-orang lebih percaya ke cerita mistisnya kereta ini," ucap Warin Darsono (30), juru rawat tiga kereta jenazah ini, Sabtu, 21 Juli 2018, dikutip JawaPos.com.

Hal mistis dimaksud menurut pengakuan warga yang didengar adalah bagaimana kereta jenazah tersebut bergeser saat tak diamati. "Atau katanya kalau difoto, tidak kelihatan. Tapi, saya sendiri secara personal belum pernah ngalamin," sambungnya.

Warin tak terlalu menggubris cerita warga, karena dirinya lebih tertarik akan sejarah dari ketiga kereta tersebut. Bahkan, ia mencari koneksi hingga ke Negeri Kincir Angin sana dijabani demi dapat menggali informasi lebih.

Usai memperoleh dokumen dari kenalan di Universtias Leiden dan Museum Brokbeek sana, barulah Warin tahu banyak hal tentang kereta yang keberadaanya diketahui sejak dirinya masih kecil. Wiraswastawan kelahiran 1988 ini mengaku tahu akan eksistensi peninggalan zaman penjajahan Belanda itu sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

"Tahunya dulu kereta itu gerbong, tapi setelah tahu lokasinya tahun 2012 tepatnya di garasi depan kelurahan ini, barulah tahu kalau ternyata kereta jenazah, kerandanya juga ada," lanjutnya.

Sesuai penuturannya, ketiga kereta dibangun pada masa berbeda, masing-masing oleh Pabrik Rijtuigmaatschapij Voorheen Fuchs Batavia. Untuk tahunnya, pertama sekitar 1820-an awal, 1800-an akhir, dan 1920.

Kereta jenazah yang memiliki lambang Freemasonry ini, kata Warin, selain digunakan untuk mengangkut korban perang pada masanya, juga pernah dibuat membawa jenazah orang berpengaruh. Di antaranya peletak batu pertama Gereja Indische Kerk di Jalan Jenderal Sudirman.

Baca berita menarik dari JawaPos.com lain di sini.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

2 of 2

Kereta Jenazah Kuno Butuh Banyak Perawatan

Freemasonry di Salatiga
Sesuai penuturan Warin Darsono, ketiga kereta dibangun pada masa berbeda, masing-masing oleh Pabrik Rijtuigmaatschapij Voorheen Fuchs Batavia. Untuk tahunnya, pertama sekitar 1820-an awal, 1800-an akhir, dan 1920. (Tunggul Kumoro/JawaPos.com)

Namun, dari sekian banyak hal, yang mengusik Warin adalah bagaimana peninggalan bersejarah macam ini terbengkalai begitu saja tanpa ada yang mengetahui. Menurutnya, ketiga kereta itu sudah didaftarkan ke BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) di Klaten, tahun 2015.

"Cuma kok ini yang merawat masih perorangan, dari kami-kami ini seperti Komunitas Rumah Tua, Boyolali Heritage Society, teman-teman dari Arkeologi UGM, Kendal, Purworejo. Kami patungan untuk perawatannya," kata bapak satu anak ini.

Ia jelas menyayangkan minimnya andil pemerintah setempat meski ketiga kereta tadi telah terdaftar sebagai aset Kota Salatiga. Padahal, untuk keperluan perawatan, banyak sekali yang masih dibutuhkan.

Dapat dilihat kondisi terakhir ketiga kereta jenazah tersebut cukup mengenaskan. Seperti pada roda kayu yang patah, cat di mana-mana mengelupas dan kayu lapuk selain dimakan rayap, tapi juga karena kondisi ruang penyimpanan yang jauh dari kata layak.

"Garasi bagian atas itu ada lubangnya, sehingga kalau hujan air langsung masuk, kalau bisa diperbaiki lah. Dipamerkan dua minggu sekali itu sekalian perawatan dan kita juga masih pakai peralatan seadanya, seperti pakai bunga sedap malam sebagai ganti higrometer," ujarnya.

"Kopi bubuk untuk mengikat kelembapan, sehingga kalau ada jamur, tumbuhnya di situ. Buat warga mungkin malah kelihatan seperti klenik," candanya.

Warin dan rekan-rekan berharap suatu saat nanti ketiga kereta jenazah tersebut dapat diperlakukan bak artefak penting lain oleh pemerintah. Karena dalam benaknya, ia kereta yang pertama kali dipamerkan tahun 2017 lalu ini jadi wisata edukasi bagi wisatawan lokal maupun asing.

"Dari arsitektur saja misalnya yang tiap dekade ada gaya sendiri. Nah, kereta ini campuran, bahkan yang paling muda itu ornamen Artnoveau, tapi bentuknya sudah mobil," tuturnya.

"Itu kan menarik, orang Belanda yang ke Salatiga saja kaget saat melihat barang seperti ini masih ada," kata Warin.

Lanjutkan Membaca ↓