Kiprah Tumenggung Aria Wiracula, Menteri Keuangan Era Sunan Gunungjati Cirebon

Oleh Panji Prayitno pada 17 Jul 2018, 03:03 WIB
Diperbarui 17 Jul 2018, 03:03 WIB
Kiprah Tumenggung Aria Wiracula, Menteri Keuangan Era Sunan Gunung Jati Cirebon

Liputan6.com, Cirebon - Kawasan pantura Cirebon, Jawa Barat, tak hanya dikenal dengan tiga keraton yang masih aktif hingga saat ini. Peran etnis Tionghoa, Arab, dan India menjadikan Cirebon menjadi daerah yang maju dan beragam pada masa Sunan Gunungjati sekitar abad 14 dan 15.

Bahkan, pada masa itu, Cirebon dianggap mencapai puncak masa kejayaan. Filolog Cirebon Opan Raffan Hasyim mengatakan, dari segi perekonomian saat itu Cirebon berkembang pesat.

"Bahkan sejarawan asal Australia, Merle Calvil Ricklefs, mengatakan yang disebut Negara Kertabumi adalah Cirebon karena mencapai masa kejayaan," ucap Opan, Senin, 16 Juli 2018.

Dia menyebutkan, pada masa Sunan Gunung Jati, Cirebon memiliki tiga pelabuhan internasional. Tiga pelabuhan itu adalah Muara Jati Cirebon, Banten, dan Sunda Kelapa.

Kondisi perekonomian di Cirebon pun cukup diakui oleh negara lain saat itu. Bahkan, pelabuhan Cirebon pernah menjadi salah satu tujuan ekspor maupun impor terbesar di dunia.

"Seperti kayu jati, gula, kopi, rempah-rempah, beras dan itu dilakukan melalui tiga pelabuhan serta dikendalikan di Cirebon," kata Opan.

Opan mengatakan, pesatnya perekonomian Cirebon juga tidak jauh dari peran etnis Tionghoa. Saat itu, Sunan Gunung Jati merekrut Tumenggung Aria Wiracula menjadi Menteri Keuangan Cirebon.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Membagi Banten dan Jakarta

Kiprah Tumenggung Aria Wiracula, Menteri Keuangan Era Sunan Gunung Jati Cirebon
Makam Tumenggung Aria Wiracula. (Liputan6.com / Panji Prayitno)

Dia menjelaskan, Aria Wiracula merupakan keluarga Tionghoa yang memang sudah ahli di bidang keuangan. Sunan Gunungjati meminta Aria Wiracula untuk membantu perekonomian Cirebon.

"Makamnya sekarang ada di belakang PGC Kota Cirebon," ujar dia.

Dia mengatakan, pengaruh Arya Wiracula membangun Cirebon, yakni dengan mengendalikan tiga pelabuhan sekaligus. Selain itu, di masa kejayaan Cirebon, sejumlah potensi ekonomi juga dibuka.

Seperti membuka pasar tradisional, pencetakan mata uang dari emas dan perak berupa Dinar Dirham. Bahkan, Cirebon pernah menjadi tempat pencetakan uang receh mirip koin China pada zaman dahulu.

"Tiga pelabuhan dikendalikan dari Cirebon," sebut Opan.

Namun demikian, predikat negara Kertabumi yang disandang Cirebon tak berlangsung lama. Setelah Sunan Gunungjati memasuki usia sepuh, dia memutuskan untuk membagi wilayah kekuasaan tiga anaknya.

Untuk wilayah Cirebon sendiri diberikan kepada Pangeran Mas Muhammad Arifin atau Pangeran Pasarean. Sunan Gunungjati kemudian menyerahkan wilayah Banten kepada Sultan Maulana Hasanuddin tahun 1522.

"Cirebon dibagi dua dengan Banten, yaitu Kulon Karawang Banten dan Wetan Karawang serta Cirebon itu sendiri," sebut dia.

Dari Banten, Sultan Maulana Hasanuddin menyerahkan wilayah Jayakarta kepada Fatahillah pada tahun 1568. Melalui Pelabuhan Sunda Kelapa, Jayakarta berubah menjadi Jakarta.

Lanjutkan Membaca ↓