Penyu Mati Tersedak Akibat Telan Sampah Plastik di Laut

Oleh Liputan6.com pada 15 Jul 2018, 08:02 WIB
Diperbarui 17 Jul 2018, 07:13 WIB
Sampah plastik (1)

Liputan6.com, Singaraja - Tim dari Program Studi (Prodi) S1 Akuakultur, Jurusan Perikanan dan Kelautan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Undiksha, Singaraja, Bali, menemukan plastik di dalam perut penyu mati di Pantai Penarukan, Kecamatan Buleleng.

"Tim Undiksha pada Jumat pagi (13/7/2018) menemukan plastik di dalam perut seekor penyu yang mati terdampar dipPantai Panarukan itu setelah melakukan pembedahan (nekropsi)," kata Koordinator Program Studi S1 Akuakultur, Undiksha, Gede Iwan Setiabudi, di Singaraja, Buleleng, Sabtu, 14 Juli 2018, dilansir Antara.

Pihaknya menduga penyu itu mati akibat memakan plastik. Tim Undiksha menemukan kerongkongan penyu itu tersumbat plastik sehingga makanan tidak bisa masuk ke saluran pencernaan.

"Penyu yang terdampar di pantai Penarukan itu ditemukan dalam kondisi sudah mati pada Jumat pukul 08.00 Wita. Penyu mati itu ditemukan petugas dari Polres Buleleng yang saat itu melakukan sambang pesisir," katanya.

Setelah itu, petugas Polres yang terdiri atas Kanit Patroli Ipda Dewa Sadnyana dan Kanit Gakum Ipda Ketut Rajindra serta Anggota Sat Pol Airud Polres Buleleng di Pos Sangsit Brigadir Kadek Darma dan Brigadir Ketut Suwidi itu memberitahukan kepada tim Undiksha. Mereka meminta agar penyebab kematian penyu itu ditelusuri.

"Kami melakukan nekropsi di pantai setempat karena kondisi bangkai penyu itu sudah rapuh. Diperkirakan penyu itu sudah mati 5-7 hari sebelumnya, selanjutnya bangkainya terdampar di pantai," kata Iwan.

Pihaknya berterima kasih kepada petugas Polres Buleleng yang sudah memberitahu tim Undiksha tentang penemuan itu sehingga penyebab kematian penyu itu bisa diketahui dan bisa dijadikan pelajaran untuk penyelamatan lingkungan selanjutnya.

"Kasus penyu mati memakan plastik memang banyak ditemukan di Indonesia. Plastik yang berwarna transparan itu mirip dengan ubur-ubur di laut yang menjadi makanan asli dari penyu itu. Plastik itu dikira ubur-ubur," ujar Iwan.

Tim dari Prodi Akuakultur Undiksha mempersilakan masyarakat yang menemukan penyu atau ikan yang terdampar di perairan untuk memberitahukan ke Undiksha agar bisa ditindaklanjuti dengan cepat. Apalagi, tim Undiksha juga memiliki program pengabdian masyarakat.

"Jika penyu atau ikan yang ditemukan itu masih hidup bisa segera dibawa ke pos konservasi nelayan di pantai Penimbangan. Jika sudah mati, bisa dilakukan nekropsi agar kematian hewan laut itu bisa diketahui penyebabnya," katanya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Live Streaming

Powered by