Hiu Paus di Bone Bolango, Jangan Pergi Lagi

Oleh Arfandi Ibrahim pada 14 Jul 2018, 05:01 WIB
Diperbarui 14 Jul 2018, 05:01 WIB
Wisata Hiu Paus di Gorontalo
Perbesar
Objek wisata hiu paus yang berada di Desa Botubarani, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, kembali dibuka untuk umum, mulai Minggu, 8 Juli 2018. (Liputan6.com/Arfandi Ibrahim)

Liputan6.com, Bone Bolango - Setelah ditutup selama kurang lebih satu minggu, objek wisata hiu paus yang berada di Desa Botubarani, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, kembali dibuka untuk umum mulai Minggu, 8 Juli 2018.

Penutupan wisata hiu paus beberapa waktu lalu ini karena menjaga agar hiu paus itu tidak pergi lagi, tetapi setelah dilihat perkembangannya hiu paus mulai betah kembali dan akhirnya pihak pengelola membuka kembali wisata hiu paus yang memiliki nama ilmiah Rhincodon typus.

Bupati Bone Bolango Hamim Pou mengatakan perlunya menerapkan peraturan berinteraksi dengan hiu bagi pengunjung. "Sengaja pemerintah tutup dulu kawasan ini untuk menata sekaligus mengatur. Sekarang peraturannya ketat, tidak bisa menyentuh hiu paus dan buang sampah," katanya kepada Liputan6.com

Ia mengatakan, kemunculan kawanan hiu paus di Desa Botubarani, Kecamatan Kabila, Bone menjadi anugerah bagi warga dan nelayan setempat, karena mendatangkan keuntungan bagi wisata lokal.

Sejumlah peraturan yang mulai diterapkan pada kawasan wisata hiu paus, di antaranya jumlah perahu harus dibatasi dan telah berizin resmi pengelola.

Bahkan, kecepatan kapal ketika mendekati kelompok hiu paus harus disesuaikan, yakni 10 knot jarak 1 mil dan 2 knot jarak 50 meter. Begitu juga dengan jumlah wisatawan yang melakukan penyelaman dibatasi dalam sekali turun, yakni enam orang dengan satu pemandu.

 

2 dari 2 halaman

Berkah untuk Warga

Wisata Hiu Paus di Gorontalo
Perbesar
Objek wisata hiu paus yang berada di Desa Botubarani, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, kembali dibuka untuk umum, mulai Minggu, 8 Juli 2018. (Liputan6.com/Arfandi Ibrahim)

Aturan lainnya yakni durasi berinteraksi dengan hiu paus maksimum 15 menit untuk setiap grup bagi penyelam, serta 30 menit untuk setiap perahu atau kapal. Pengunjung juga tidak diperkenankan menyentuh hiu paus, mengambil foto menggunakan cahaya serta wajib mematuhi arahan pemandu.

"Yang kami atur juga posisi perahu. Nanti ada satu speed boat di tengah yang bertugas memberi makan, sementara perahu pengunjung di sekitarnya," kata Bupati.

Selain itu, meskipun baru dibuka, ternyata wisata hiu paus ini sudah menjadi primadona wisatawan lokal, luar daerah, hingga mancanegara. "Kami sangat bersyukur sekali dengan dibukanya wisata hiu ini, kami bisa melihat kembali kawanan hiu paus besar yang jinak," ungkap Chandra Una salah seorang pengunjung.

Ternyata, hal ini juga menjadi keberuntungan tersendiri bagi nelayan setempat. Mereka seakan ketiban rezeki dengan banyaknya pengunjung yang datang.

Hal ini diungkapkan oleh seorang neyalan yang biasanya menyewakan perahunya. Arfan Ali, misalnya. Ia mengatakan semenjak dibukanya wisata ini kembali, pendapatan mereka melonjak selain dari hasil mencari ikan.

"Malam kami turun mencari ikan, siangnya kami menyewakan perahu untuk wisatawan dan Alhamdulillah pendapatan kami sangat luar biasa, bahkan yang paling banyak turis yang datang dengan membayar lebih yang tidak pernah kami duga sebelumnya di antaranya warga asing dari Australia, Italia, dan Singapura," kata dia.

"Mudah-mudahan dengan diterapkanya aturan yang ada, hiu paus ini akan betah, dan tidak akan pergi lagi dengan waktu yang lama," dia menandaskan.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓