Begini Proses Terbentuknya Uap Air Jadi Embun Es

Oleh Huyogo Simbolon pada 08 Jul 2018, 10:05 WIB
Diperbarui 10 Jul 2018, 09:13 WIB
Embun es menyelimuti rumput, semak dan tanaman kentang dan sayuran milik petani Dieng, Banjarnegara. (Foto: Liputan6.com/Sudarno SRU RAPI BNA/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Bandung - Fenomena embun es selalu menjadi sensasi tahunan di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Tak heran apabila kehadiran embun es yang cantik selalu diburu pelancong.

Bahkan, dalam beberapa hari belakangan, embun es yang terjadi di Dataran Tinggi Dieng khususnya Desa Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara, kembali ramai diberitakan. Fenomena alam itu diperkirakan muncul akibat dinginnya suhu udara di sana.

Menanggapi fenomena ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasannya. Prakirawan BMKG Stasiun Kelas 1 Bandung, Jadi Hendarmin menyatakan, proses embun biasanya akan terbentuk dengan baik pada malam hari yang cerah dan tenang.

"Karena jika ada angin yang bertiup, maka tidak akan ada cukup waktu bagi uap air untuk bersentuhan dengan permukaan objek yang dingin sehingga uap air tidak akan dapat mengembun," ujar Jadi dalam pesan tertulisnya, Sabtu, 7 Juli 2018.

Kemudian, lanjut dia, ketika matahari bersinar kembali dan memanaskan permukaan objek-objek, embun akan menguap kembali. "Ketika suhu cukup rendah, embun akan berbentuk es, bentuk ini disebut embun beku," tuturnya.

Ia menjelaskan, embun beku biasanya merupakan pola dari kristal-kristal es yang terbentuk dari uap air di atas rumput, daun, dan benda-benda lainnya.

"Embun beku terbentuk terutama pada malam yang dingin dan tak berawan ketika suhu udara di bawah 0 derajat Celsius yang merupakan suhu titik pembekuan air," jelasnya.

Menurut Jadi, suhu dingin yang terjadi belakangan ini merupakan hal yang wajar dan setiap tahun pasti akan terulang. Utamanya bagi wilayah yang berada di zona musim yang dipengaruhi oleh angin musim.

Selama periode musim kemarau, angin musimnya dari timur atau tenggara atau angin pasat tenggara, yang membawa massa udara dingin kering dari daratan Australia.

"Puncak musim dingin di Australia berkisar antara bulan Juli, Agustus September. Jadi kondisi dingin ini lebih dipengaruhi oleh pengaruh musim terutama musim dingin di Australia," paparnya.

Di samping itu, ia mengatakan ada pemicu berupa gangguan Badai Maria di perairan sebelah timur laut Filipina yang menyebabkan cepatnya sampai kondisi dingin dari Australia ke wilayah Jawa Barat khususnya.

Saksikan video pilihan berikut ini: