Pagi Konsisten di Pasar Pembayar Nazar

Oleh Edhie Prayitno Ige pada 07 Jul 2018, 06:00 WIB
Diperbarui 07 Jul 2018, 06:00 WIB
pasar kramat
Perbesar
Endang Suzana mengajak keluarganya berkunjung di pasar Kramat Jumat Pahing Muntilan yang sebenarnya menempati sebuah gang di kampung Kramat. (foto : Liputan6.com / edhie prayitno ige)

Liputan6.com, Muntilan - Salam pagi menjadi awal bersikap konsisten. Uji konsistensi dengan membayar nazar menjadi penting dilakukan. Nazar biasanya dilakukan oleh seseorang jika keinginannya sudah terpenuhi. Didahului dengan mengucap nazar atau janji melakukan sesuatu jika maksudnya tercapai.

Nah, di Muntilan, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Magelang, ada sebuah pasar unik. Pasar yang biasa digunakan untuk bernazar oleh masyarakat sekitar. Pasar ini menjadi istimewa karena buka setiap 35 hari sekali, yakni pada hari Jumat Pahing. Namanya Pasar Kramat. Kramat bukan keramat adalah nama sebuah kampung.

Surtini, warga kecamatan Ngluwr kabupaten Magelang bercerita sejak kecil oleh orang tuanya selalu dinazarkan diajak belanja ke Pasar Kramat dan selalu berangkat pagi sebagai ucapan salam pagi bagi semesta. Kebiasannya itu diulang ketika ia berumah tangga dan memiliki empat anak. 

"Masa kecil saya itu penyakitan. Selain kaki terkena gudig, juga saya sering sesak. Ibu saya bernazar kalau saya sembuh saya akan diajak belanja ke Pasar Kramat. Usia 9 tahun saya sembuh dan ibu saya benar-benar mengajak ke Pasar Kramat. Berangkat pagi sekali agar bisa mengucap salam," kata Surtini kepada Liputan6.com, Jumat, 6 Juli 2018 di pasar Kramat.

Apa keistimewaan pasar unik ini?

Secara umum, tak beda jauh dengan pasar biasa. Di pasar ini juga menjual makanan olahan bergaya rumah.

Endang Susana yang berkunjung bersama keluarganya bercerita bahwa kunjungannya adalah untuk mengenalkan aneka kuliner tradisional Muntilan kepada anak-anaknya.

"Tadi dari rumah naik andong. Anak-anak sangat gembira, bukan hanya saat di pasar, tapi sepanjang jalan juga gembira. Mereka seakan mengucapkan 'selamat pagi' kepada persawahan dan dusun-dusun yang dilewati," kata Endang.

 

Simak Video terkait berita ini dibawah:

 

2 dari 2 halaman

Surga Kuliner Khas Muntilan

pasar kramat
Perbesar
Pengunjung Pasar Kramat Jumat Pahing Muntilan berjejal sejak lepas salat subuh. (foto : Liputan6.com / edhie prayitno ige)

Di pasar Kramat Jumat Pahing ini, berbagai menu khas kampung di sekitar Muntilan tersedia. Untuk sarapan, ada nasi dengan sayur kentang dicampur kacang-kacangan dan santan kental. Sebagai lauk tersedia ayam kampung atau minimal telur yang juga dimasak gurih. Bagi yang tidak suka, bisa memilih ayam kampung goreng, atau berbagai jenis ikan sungai yang digoreng.

"Gorengan juga ada, mulai dari tempe goreng, tahu susur, telur goreng, dan lainnya. Bahkan variasi memasak cukup komplit. Ada yang dibacem juga," kata Endang.

Sebagai pasar untuk membayar nazar atau dalam istilah setempat dikenal dengan sebutan midang, tentu juga menyediakan menu khusus. Menu khas itu berupa ketupat yang dipasangkan dengan serundeng.

Serundeng berasal dari kelapa yang diparut. Parutan itu kemudian dibumbui lengkap dan dipanasi tanpa minyak hingga mengering. Di dalam serundeng, biasanya dicampur dengan potongan-potongan daging.

"Kalau jenis makanan banyak yang dari ketan. Mulai jadah (uli), wajik, hingga sengkolon. Sengkolon ini dari campuran kelapa dan tepung beras ketan. Khusus di pasar Kramat, warnanya putih-merah," kata Endang.

Sebagai oleh-oleh, mereka yang bernazar biasanya akan memborong sate telur puyuh, semur jengkol, bunthil (daun talas berisi parutan kelapa), jeroan ayam kampung, bakmi telur goreng, dan beberapa menu lain. Untuk minuman, sebagaimana tradisi kampung, ada teh, kopi, susu, wedang jeruk.

Pasar Kramat Jumat Pahing ini bukan hanya mengakomodir warga Muntilan saja. Namun juga warga dari kecamatan Salam, Srumbung, Ngluwar, Borobudur, Mertoyudan, Mungkid bahkan kecamatan Windusari di lereng Sumbing juga ikut melestarikan keberadaan pasar ini.

Ngadimin bercerita bahwa warga di desanya di kecamatan Sawangan biasanya bernazar mengajak anggota keluarganya yang sakit jika sembuh. Nazar itu bisa dibayar di depan dengan harapan proses kesembuhan bisa lebih cepat datang.

"Anak saya itu setelah saya ajak ke Pasar Kramat, alhamdulillah sakitnya yang menahun bisa sembuh," kata Ngadimin.

Tak ada ritual khusus. Namun memang ada semacam sesaji berupa bunga tabur yang dibungkus daun dan diletakkan di depan Gapura pasar Kramat. Namun hal ini hanya dilakukan oleh generasi tua yang makin lama makin menyusut jumlahnya.

Pagi di Pasar Kramat Jumat Pahing muntilan, adalah pagi untuk belajar konsisten. Konsisten dengan ucapan, perilaku dan juga keyakinan. 

Lanjutkan Membaca ↓