Sensasi Pagi-Pagi Berperahu di Danau Puncak Bukit Tampomas

Oleh Muhamad Ridlo pada 05 Jul 2018, 06:00 WIB
Hanya dengan Rp 5.000 wisatawan bisa berperahu dua putaran di Danau Puncak Bukit Tampomas, Gentasari, Banjarnegara, seluas 1,8 hektare. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Banjarnegara - Sejak puluhan tahun silam, Bukit Tampomas, Desa Gentasari di Kecamatan Pagedongan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, dikenal sebagai gunung batu yang molek. Tempat ini kerap menjadi arena wisata alam hiking bagi pelajar dan remaja saat itu.

Namun, kebiasaan itu berhenti tiba-tiba ketika pada tahun 1984, gunung batu ini berubah menjadi area tambang. Batu-batu diledakkan dengan dinamit. Suara palu godam berpadu dengan deru alat berat menggantikan cericit suara anak burung yang kelaparan.

Batu-batu koral hitam diangkut dengan puluhan truk dalam proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Waduk Mrican. Lama-kelamaaan, penambangan menciptakan lobang seluas 1,8 hektare yang jika hujan dipenuhi air.

Secara alamiah, bertahun-tahun kemudian, bukit ini mulai pulih. Hamparan rumput layaknya sabana di dataran tinggi. Lubang besar bekas tambang. Pohon yang tumbuh menjadi tempat bersemayam burung-burung yang sebelumnya kehilangan tempat tinggalnya.

Sebenarnya, penambangan tak menghilangkan sama sekali pesona Bukit Tampomas sebagai wisata alam. Sap-sap yang terbentuk dari sisa ledakan dinamit dan alat berat tampak seperti undakan terasering. Dan dari lobang penambangan itulah kemudian tercipta danau di atas bukit.

Pesona bukit di atas danau ini pun lantas membuatnya banyak dikunjungi warga desa tetangga. Ia semakin kesohor lantaran eksotisnya danau yang berada di atas bukit.

Awal 2018 lalu Pemerintah Desa Gentasari dan Karang Taruna mulai memoles tempat ini. Dangau dan tempat peristirahatan dibangun di sekitar Danau Tampomas untuk melayani wisatawan yang berkunjung.

Sebagian besar pengelolanya adalah bekas penambang yang sebelumnya menggantungkan nasib dengan mengayun godam dan mengangkut batu-batu. Mereka membuka warung atau membantu di pekerjaan lain di lokasi tambang yang kini dibuah menjadi destinasi wisata ini.

"Pemerintah desa memfasilitasi wahana air berupa perahu wisata melalui Dana Desa. Karang Taruna yang menjadi operator wisata membuat fasilitas lain secara swadaya,"ucap Ketua Pokdarwis Tampomas, Banjarnegara, Andika Dwi Prasetyo.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

2 of 2

Berperahu 2 Putaran di Danau Tampomas Hanya dengan Rp 5.000

Gunung batu perbukitan Tampomas, Banjarnegara diubah menjadi area wisata yang terus dibenahi. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Gunung batu perbukitan Tampomas, Banjarnegara diubah menjadi area wisata yang terus dibenahi. (Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Mempertimbangkan dana yang minim, Pokdarwis memanfaatkan segala potensi yang ada dengan bahan semurah mungkin dan dapat ditemui di sekitar lokasi. Gasebo yang didirikan di bibir danau didesain sederhana, berbahan bambu atau kayu serta beratapkan ijuk.

Tempat duduknya pun unik, berupa bongkahan batu yang diambil dari sekitar lokasi. Kekhasan ini justru tak menghilangkan riwayat Danau Tampomas yang sebelumnya adalah gunung batu. Terlihat khas karena terbuat dari bongkahan batu yang diambil dari gunung tersebut.

Andika memastikan, harga yang berlaku di Tampomas terjangkau untuk wisata keluarga. Untuk masuk ke area wisata, pengunjung cukup membayar Rp 10 ribu. Wisatawan bisa berkeliling menikmati berbagai wahana. Pengunjung pun bisa berkeliling dengan naik kuda berkeliling area wisata seluas lima hektare ini.

Jika jenuh dan ingin beristirahat tersedia dangau atau gazebo. Dari tempat ini, wisatawan bisa menikmati pemandangan danau dan bebatuan yang unik ditemani semilir angin.

"Wisatawan juga bisa berperahu di danau hanya dengan membayar Rp 5.000," dia menerangkan.

Pengunjung seolah tak henti datang. Tiap hari, rata-rata pengunjung berjumlah 200 orang. Pada akhir pekan, Bukit Tampomas dikunjungi sekitar 1.000 wisatawan. Puncaknya, pada musim libur Lebaran ini, objek wisata ini dikunjungi rata-rata 800 orang per hari.

"Sepekan setelah Lebaran rata-rata pengunjung malah mencapai 2.500 orang per hari," Andika menambahkan.

Kini, Bukit Tampomas tak hanya menjadi sumber penghidupan segelintir penambang. Ia telah disulap menjadi ladang bagi puluhan warga lain yang membuka usaha atau bekerja di objek wisata ini.

Andika mengakui wahana yang tersedia di Tampomas masih terbatas. Karenanya, pengelola bakal terus berbenah agar selalu ada yang baru. Ke depan, direncanakan pengelola akan membangun wahana baru. Terdekat, flying fox dan kolam renang akan melengkapi objek wisata ini.

Lanjutkan Membaca ↓