Detik-Detik Menegangkan Polisi Menyelamatkan Diri dari Serangan Kelompok Bersenjata Papua

Oleh Katharina Janur pada 02 Jul 2018, 17:00 WIB
Diperbarui 02 Jul 2018, 17:00 WIB
Cerita Anggota Polisi Menyelamatkan Diri dari Tembakan Kelompok Bersenjata Papua
Perbesar
Briptu Petrus Imbiri, anggota Polres Puncak Jaya yang selamat dalam penembakan di Distrik Torere. (Liputan6.com/Katharina Janur)

Liputan6.com, Jayapura - "Setelah hampir menepi, kami semua ditembaki tiga kali. Kami langsung menyelam. Kami timbul lagi, mereka (kelompok sipil bersenjata) tembaki kami lagi. Kejadian itu berulang hampir tiga kali," kata Briptu Petrus Imbiri, salah satu korban selamat dari serangan kelompok sipil bersenjata di Distrik Torere, Kabupaten Puncak Jaya.

Petrus tak sendiri, ia bersama sembilan polisi lainnya diserang usai pencoblosan Pilkada serentak di TPS Douw 2 di Kampung Douw yang berbatasan antara Kabupaten Mamberamo Raya dan Kabupaten Puncak Jaya. Petrus menyebutkan, ia bersama rekannya, Brigpol Mulyadi menyelam 2-3 kilometer dari lokasi penembakan, hingga akhirnya ada perahu masyarakat yang menolongnya.

"Saya sempat lihat Pak Kbarek dan Pak Nusi saat menyelam kedua kalinya. Kepalanya masih kelihatan dan saat ditembaki untuk kedua kali itu, Pak Kbarek hanya melambaikan tangan. Saya mau tolong, tapi kepala sudah di bawah, arus air pun deras," jelas Petrus dengan mata berkaca-kaca.

Petrus menambahkan, ia dan Mulyadi lantas menghampiri rekan lainnya yang telah berenang ke tepian. Ketujuh anggota polisi itu pun sepakat untuk kembali ke Kilo 1 dan bergabung bersama Koramil Dabra. Saat tiba di Koramil Dabra, ketujuh polisi dan anggota Koramil melanjutkan perjalanan ke Kasonaweja.

Perjalanan malam itu harus dilakukan cepat, sebab jika tidak, maka kelompok kriminal bersenjata pasti akan menemukan para aparat keamanan ini.

"Kami minim senjata dan kekuatan, sehingga harus mencari pertolongan. Yang saya tau di perahu pertama, kami membawa satu senjata laras panjang dan tiga pucuk pistol," kata Petrus yang menumpangi perahu motor pertama.

 

2 dari 3 halaman

Jasad Shinton Kbarek Ditemukan

Cerita Anggota Polisi Menyelamatkan Diri dari Tembakan Kelompok Bersenjata Papua
Perbesar
Jenazah Brigpol Shinton saat dievakuasi. (Liputan6.com/Katharina Janur)

Usai penembakan dan pengadangan pasukan pengamanan polisi ini, Brigpol Shintong Kbarek dan Ipda Jesayas H. Nusi dinyatakan hilang. Namun, Brigpol Shinton Kbarek, sekitar pukul 11.00 WIT pada Minggu (1/7/2017) ditemukan oleh warga setempat dalam kondisi tewas.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua, Kombes Pol AM Kamal menyebutkan jasad Shinton ditemukan sekitar 1 kilometer dari lokasi penembakan. Masyarakat yang menemukan jasad korban, lalu melaporkan kejadian ke pos keamanan terdekat.

"Siang tadi, sekitar pukul 13.30 WIT, jenazah tiba di Rumah Sakit Bhayangkara untuk dilakukan autopsi guna dicari tahu penyebab kematiannya," ujar Kamal.

Informasi dari keluarga, jenazah akan dimakamkan di pekuburan keluarga dekat rumahnya di Abepantai, Kota Jayapura. Atas jasanya, Brigpol Shinton Kbarek mendapatkan kenaikan pangkat anumerta dari kepolisian setempat. Sementara, 7 anggota polisi mendapatkan kenaikan pangkat istmewa.

Ketujuh anggota polisi yang selamat adalah Bripda Firma, Briptu Petrus, Brigpol Yusuf Toding, Bripda Daniel Tambunan, Bripka Maks Anjon Derin, Brigpol Mulyadi, dan Brigpol Steven Auparay.

Kbarek meninggalkan 6 orang anak, satu di antaranya perempuan. Anak yang pertama berusia 14 tahun, sedangkan anak yang bungsu berusia 8 bulan.

 

3 dari 3 halaman

Ritual Adat

Cerita Anggota Polisi Menyelamatkan Diri dari Tembakan Kelompok Bersenjata Papua
Perbesar
Istri Brigpol Shinton tak kuasa menahan air mata ketika akan melihat jasad sang suami. (Liputan6.com/Katharina Janur)

Kepolisian setempat mengerahkan 60 anggotanya untuk mencari Ipda Jesayas H. Nusi yang hingga saat ini dinyatakan hilang. Dalam pencarian tersebut polisi dibantu warga setempat menggelar ritual adat di pinggir Sungai Mamberamo Raya, berpakaian adat dan membacakan untaian doa secara terus menerus.

Ritual adat dilakukan untuk keselamatan pencarian satu anggota polisi yang masih hilang. Kapolres Mamberamo Raya, AKBP Dominggus Rumaropen yang memimpin pencarian menyebutkan ritual adat dilakukan oleh warga yang tinggal di pinggiran sungai Mamberamo Raya.

"Ritual adat sering dilakukan saat terjadi kecelakaan sungai. Warga yakin dengan ritual yang dilakukan, korban bisa segera ditemukan," kata Dominggus.

Dalam pencarian tersebut diperbantukan Polres Mamberamo Raya, Brimob, TNI serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Mamberamo Raya. "Kami menyusuri sepanjang Sungai Mamberamo, mulai dari Kampung Muru Marei, Maruna Falen, Sikari hingga Muara Faguja," kata Dominggus.

Dominggus menambahkan di lokasi pencarian, Sungai Mamberamo banyak pusaran air yang berputar, banyak kayu yang hanyut dan kayu-kayu itu tertancap di sepanjang sungai, serta banyaknya batu-batu besar.

 

 

Lanjutkan Membaca ↓