Hadiah Kelulusan bagi 5 Orangutan Usai Belajar Mandiri di Samboja Lestari

Oleh Liputan6.com pada 26 Jun 2018, 10:01 WIB
Diperbarui 26 Jun 2018, 10:01 WIB
Orangutan Sumatera di Australia
Perbesar
Puan, orangutan Sumatera tertua di dunia, 62 tahun, yang dipelihara oleh kebun binatang Perth, Australia. (Perth Zoo)

Liputan6.com, Samarinda - Yayasan Borneo Orangutan Survival melepasliarkan lima orangutan dari Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur di Samboja Lestari ke habitat alaminya di Hutan Kehje Sewen, Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur.

"Pelepasliaran ini merupakan yang ke-16 kalinya dilaksanakan oleh Yayasan BOS. Pelepasliaran ini juga menambah populasi orangutan di Kehje Sewen menjadi 91 individu," ujar CEO Yayasan BOS Jamartin Sihite di Samarinda, Senin, 25 Juni 2018, dilansir Antara.

Lima individu orangutan yang dilepasliarkan kali ini terdiri dari satu jantan yaitu Julien (7 tahun), dan empat betina yaitu Erina (8), Cheryl (7), Nicola (13), dan Choki (7).

Kelima orangutan ini diberangkatkan dari Samboja Lestari ke titik-titik pelepasliaran di Hutan Kehje Sewen yang berjarak 20 jam perjalanan. Kelima orangutan ini dinilai telah memiliki keterampilan dan perilaku yang memenuhi syarat untuk bisa hidup mandiri di hutan.

Pelepasliaran setelah melalui proses rehabilitasi di Samboja Lestari oleh Yayasan BOS itu atas kerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Timur. Dalam perjalanan dari Samboja ke Kutai Timur, lima orangutan itu singgah dulu di Samarinda, yakni di BKSDA Kaltim.

Ia menjelaskan bahwa sejak 2012, kawasan hutan restorasi ekosistem seluas 86.450 hektare di Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur itu telah menampung 86 individu orangutan hasil pelepasliaran.

 

*Pantau hasil hitung cepat atau Quick Count Pilkada 2018 untuk wilayah Jabar, Jateng, Jatim, Sumut, Bali dan Sulsel. Ikuti juga Live Streaming Pilkada Serentak 9 Jam Nonstop hanya di Liputan6.com.

2 dari 2 halaman

Nyaris Capai Batas

Sekolah untuk Orangutan di Kalimantan Timur
Perbesar
Staf bermain dengan salah satu orangutan yatim piatu di Sekolah Hutan Orangutan yang baru dibuka di Kalimantan Timur, 22 Mei 2018. Sebagai siswa angkatan pertama adalah delapan orangutan Kalimantan Timur usia 11 bulan hingga 9 tahun. (HO/FOUR PAWS/AFP)

Pelepasliaran yang rutin dilaksanakan oleh Yayasan BOS, lanjutnya, secara nyata berhasil meningkatkan populasi orangutan di alam liar. Di sisi lain, daya tampung hutan pelepasliaran mendekati batasnya.

"Survei kami di Kehje Sewen menunjukkan bahwa hutan ini sanggup menampung 150 orangutan, sementara kini populasinya mencapai 91. Kondisi ini mendorong Yayasan BOS terus mencari kawasan hutan alternatif yang memenuhi syarat untuk pelepasliaran orangutan di masa mendatang," tuturnya.

Ia mengaku akan terus mewujudkan mimpi kami untuk terus melepasliarkan orangutan yang saat ini masih direhabilitasi ke habitat alami mereka, sekaligus menjamin populasi orangutan liar di Kaltim tidak punah.

Menurutnya, masih ada ratusan orangutan di Samboja Lestari menanti dilepasliarkan, namun kapasitas hutan pelepasliaran yang saat ini ada masih kurang untuk menampung mereka.

Untuk itu, Yayasan BOS meminta dukungan masyarakat, pemerintah daerah, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menambah areal pelepasliaran di hutan Kaltim.

Ia mengingatkan kepada semua pihak bahwa tiap manusia sangat membutuhkan berbagai jasa lingkungan dari hutan, air, udara bersih, berbagai hasil hutan, serta iklim yang teregulasi dengan baik.

"Orangutan menjaga kualitas hutan, maka keberadaan orangutan sangat penting bagi kita. Jadi, kita semua harus bersama-sama menjaga keberadaan mereka dalam memberikan layanan ekosistem di hutan," ucap Jamartin.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓