Nyaris Terjerat, Petani Asal Dayak Berhasil Menaklukan Ular Piton

Oleh Ahmad Akbar Fua pada 17 Jun 2018, 12:02 WIB
Diperbarui 19 Jun 2018, 11:13 WIB
Gagal Terkam Petani, Daging Ular Piton Berakhir di Pasar

Liputan6.com, Muna - Serangan ular piton kembali terjadi di Kabupaten Muna, Jumat, 15 Juni 2018, sekitar 16 jam setelah seorang wanita bernama Wa Tiba (54) ditemukan tewas di dalam perut ular bermotif batik kembang itu. Serangan ular kedua kalinya itu dialami seorang petani di Desa Langkumapo, Kacamatan Napabalano, Kabupaten Muna.

Pria yang akrab disapa Bapaknya Rudi itu, luput dari serangan ular piton tersebut pada Jumat malam sekitar pukul 11.00 Wita. Saat itu, Bapaknya Rudi sedang mencari ikan gabus di daerah Kali Oengkapana menggunakan senter dan alat penangkap ikan tradisional.

Nyaris terlilit ular, pria asli Dayak Kalimantan itu dengan gesit berhasil menghindar. Padahal, kakinya sempat dibelit dengan cepat oleh ular sepanjang 6 meter itu.

"Dia awalnya cari ikan, tapi pas ada burung merpati hutan lewat, dia langsung mau kejar burung," ujar Sugeng, salah seorang warga Desa Langkumapo, Sabtu, 16 Juni 2018.

Saat hendak keluar dari kali sedalam 40 sentimeter itu, kaki pria asal Kalimantan itu merasa dililit. Sontak pria yang juga sering berkebun sendirian di wilayah hutan itu langsung mengambil gerakan menghindar.

"Tapi dia berani sekali. Langsung tangkap itu ular dan ikat malam itu juga," Sugeng menambahkan.

Kapolsek Tampo, AKP La Ode Gea membenarkan penangkapan ular piton yang nyaris menelan korban salah seorang warganya. Kapolsek malah bersyukur tidak ada korban jiwa.

"Syukur tidak ada korban jiwa. Kami baru sekali memang mendengar ada serangan ular di wilayah ini," kata Kapolsek.

 

 

2 of 2

Ular Dijual ke Pasar

Gagal Terkam Petani, Daging Ular Piton Berakhir di Pasar
Warga membawa ular tersebut kepada penadah dan dihargai ratusan ribu rupiah. (Liputan6.com/Ahmad Akbar Fua)

Saat sudah berhasil menjinakkan ular, pria yang sering disapa Bapaknya Rudi itu tidak membunuh hewan melata tersebut. Pria yang sudah belasan tahun tinggal di dalam hutan di wilayah Desa itu, hanya menyerahkan kepada warga sekitar untuk dijadikan tontonan.

Warga desa kemudian berinisiatif menjual ular kepada warga transmigran di Desa Kambaara, Kecamatan Tiworo. Sempat nyaris membunuh, ular itu justru memberikan keuntungan ekonomi.

"Ular dijual dengan harga Rp 6000 per kilogram, panjang 6 meter lebih," ujar Sugeng.

Dari total penjualan, warga mengantongi hasil penjualan ular sekitar Rp 372 ribu. Sebelum dijual, ular terlebih dahulu dipotong kepalanya.

"Dijual ke Desa Kambaara, di sana ada warga yang akan pakai dagingnya untuk dibuat minyak atau dimasak, daripada mengganggu lebih baik dijadikan uang," kata Sugeng.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓