Intip Camilan Khas Cirebon, Berawal dari Zaman Krisis

Oleh Panji Prayitno pada 04 Jun 2018, 12:45 WIB
Diperbarui 06 Jun 2018, 12:13 WIB
Intip Camilan Khas Cirebon Dari Zaman Krisis Hingga Diburu Wisatawan

Liputan6.com, Cirebon - Beragam jenis kuliner tradisional hingga jajanan pasar tersedia di kawasan Cirebon, Jawa Barat. Tidak sedikit pengunjung yang datang ke Cirebon membawa pulang oleh-oleh khas Pantura, Jawa Barat.

Salah satunya jajanan pasar, intip. Makanan ringan ini terbuat dari bahan kerak nasi yang ditanak secara tradisional. Intip tersebut diolah kembali oleh warga Cirebon menjadi camilan yang rasanya manis gurih.

"Sekilas makanan ini mirip rengginang, tapi beda. Intip dibuat dari kerak nasi, kemudian digoreng dan diberi bumbu," ucap salah seorang pembuat intip asal Desa Mertasinga, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, Elfiyah (43), Minggu, 3 Juni 2018.

Sebagian besar penjual intip berada di Kecamatan Gunung Jati, Cirebon. Tepatnya di pinggir jalan kompleks makam Sunan Gunungjati, Cirebon.

Dia menjelaskan, dari segi adonan, intip lebih padat. Namun, ketika digigit terasa renyah tidak keras. Ukuran intip cukup lebih besar dan memiliki warna khas cokelat keemasan.

"Banyak sekarang intip juga banyak ditemukan di toko oleh-oleh, tapi pengunjung lebih memilih beli intip di Gunungjati sekaligus ziarah ke makam," ucap dia.

Dia mengungkapkan, bahan utama camilan intip terdiri dari kerak nasi yang sedikit hangus akibat dimasak dengan penanak nasi tradisional. Intip kemudian dijemur selama beberapa jam sebelum digoreng.

Intip kemudian digoreng kurang lebih 5 menit dengan menggunakan minyak goreng yang panas. Setelah matang, intip ditiriskan kemudian ditaburi bumbu manis gurih.

"Intipnya saya beli dari tetangga karena mereka semua masak nasi pakai dandang," ujar dia.

Elfiah mengaku sudah hampir 10 tahun menjual intip. Satu kemasan intip dijual Rp 10.000, sedangkan untuk satu kilogram dijual Rp 35.000.

Dia mengatakan, intip yang dijual Elfiyah banyak dijual di sekitar Ciayumajakuning. Tidak sedikit dia mendapat pesanan dalam jumlah banyak untuk dibawa ke luar negeri oleh para tenaga kerja Indonesia atau TKI.

"Momen Lebaran juga banyak pesanan, Mas. Alhamdulillah naik dibandingkan dengan hari biasa," sebut dia.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Krisis Ekonomi

Intip Camilan Khas Cirebon Dari Zaman Krisis Hingga Diburu Wisatawan
Makanan ringan intip dikonsumsi masyarakat Cirebon ditengah krisis ekonomi. (Liputan6.com/Panji Prayitno)

Intip bukan hanya sekadar camilan populer yang banyak diburu pengunjung. Elfiyah menuturkan keberadaan intip tak lepas dari kondisi sosial masyarakat di Desa Mertasinga, Kabupaten Cirebon.

"Ini kuliner khas Cirebon khususnya Kecamatan Gunungjati yang terbuat dari hasil menanak nasi secara tradisional," ujar dia.

Dia menuturkan, camilan intip sudah ada sejak tahun 1980. Saat itu kondisi ekonomi masyarakat tengah menghadapi krisis.

Ketika itu warga mengonsumsi kerak nasi sebagai makanan dengan ditaburi parutan kelapa diatasnya. Intip juga dijadikan sebagai pakan ternak ayam atau bebek.

Seiring dengan perkembangan zaman, warga bosan, hingga akhirnya intip digoreng agar bisa bertahan lama. Kerak yang digoreng itu diberi tambahan bumbu manis gurih atau asin rasanya lebih enak.

"Digoreng dan diberikan bumbu-bumbu yang terdiri gula, santan, bawang putih garam, dan sebagainya agar lebih sedap dan enak. Hingga kini terdapat dua rasa intip, yakni manis gurih dan asin," kata Elfiyah.

Sementara itu, salah seorang penikmat intip Halimah (36) mengatakan, rasa intip sedap dan enak. Selain itu harganya yang terjangkau dianggap layak menjadi salah satu oleh-oleh wajib dibawa pulang saat berkunjung ke Cirebon.

"Ini enak, mas, murah lagi. Saya suka beli satu kilo buat di rumah kadang saya juga beli buat dikasih ke saudara atau teman," ujarnya. 

Lanjutkan Membaca ↓