Semarak Parade Pancasila Mengenang Kedatangan Bung Karno di Ende

Oleh Ola Keda pada 31 Mei 2018, 21:01 WIB
Diperbarui 31 Mei 2018, 21:01 WIB
Hari Lahir Pancasila
Perbesar
Ribuan warga tumpah ruah memadati Pelabuhan Sukarno di Ende, Pulau Flores, NTT, merayakan kedatangan Bung Karno secara simbolis ketika mulai menjalani masa pengasingan di kota kecil itu pada 14 Januari 1934. (Liputan6.com/Ola Keda)

Liputan6.com, Ende - Ribuan warga tumpah ruah memadati Pelabuhan Sukarno di Kota Ende, ibu kota Kabupaten Ende di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), merayakan kedatangan Sukarno atau Bung Karno secara simbolis, ketika mulai menjalani masa pengasingan di kota kecil itu pada 14 Januari 1934. Ia diasingkan di sana selama empat tahun (1934-1938).

Pantauan Liputan6.com, Kamis (31/5/2018) pagi, parade yang digelar dalam bentuk perarakan kapal KRI Teluk Ende-517 yang memuat plakat lambang Garuda Pancasila dan Bendera Merah Putih itu dimulai dari Pulau Ende menuju Pelabuhan Sukarno.

Parade kapal yang diiringi ratusan perahu dan kapal motor kecil itu disambut meriah ribuan warga yang menunggu di Pelabuhan Sukarno, dengan sejumlah seremoni penerimaan bernuansa budaya tradisional masyarakat setempat.

Penjabat Bupati Ende Obaldus Toda di sela-sela kegiatan parade itu mengatakan, parade laut sebagai simbolisasi kedatangan Bung Karno menegaskan kembali bahwa Ende merupakan bagian dari identitas diri negara Indonesia.

"Karena dari Tanah Ende ini lahirlah Pancasila yang diprakarsai Sukarno lewat refleksinya yang mendalam selama menjalani masa pengasingannya di Kota Ende," ucapnya.

Menurutnya, parade mengenang kedatangan Bung Karno di Ende juga memberikan pesan dan ajakan kepada seluruh elemen bangsa. Terutama, supaya tetap menjaga dan mempertahankan Pancasila sebagai ideologi bangsa yang telah menyatukan beranekaragam suku dan budaya bangsa Indonesia.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

2 dari 2 halaman

Simbolisasi Perjalanan Sukarno

Bung Karno
Perbesar
Patung Bung Karno di Ende (Liputan6.com/Ola Keda)

Adapun Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTT, Marius Ardu Jelamu, mengatakan parade laut digelar sebagai simbolisasi perjalanan Sukarno menumpangi kapal Jan van Riebeeck milik Pemerintah Kolonial Hindia Belanda dari Batavia (Jakarta) menuju Ende kala itu untuk menjalani masa pengasingan dari tahun 1934-1938.

Pemerintah Kabupaten Ende, lanjutnya, didukung pemerintah provinsi dan pusat mengemas momentum bersejarah itu melalui kegiatan parade kapal laut untuk menunjukkan ke pentas dunia bahwa Sukarno sebagai tokoh bangsa pencetus ideologi Pancasila yang selalu menginspirasi setiap anak bangsa.

"Untuk itulah dalam kegiatan pariwisata ini menonjolkan nilai-nilai kebangsaan, tentang nasionalis, keanekaragaman suku dan budaya, serta semangat persatuan dan kesatuan di masyarakat," ujarnya.

Ia memaparkan, kegiatan tersebut disemaraki dengan berbagai atraksi budaya dari berbagai daerah di NTT maupun dari luar dan disaksikan ribuan orang dari kalangan wisatawan domestik dan mancanegara, pejabat pemerintah daerah hingga pusat dan masyarakat setempat.

Marius menjelaskan, kegiatan tersebut akan digelar secara rutin setiap tahun menyambut Hari Pancasila pada 1 Juni sekaligus mengawali serangkaian kegiatan Bulan Sukarno di Ende yang dideklarasikan pemerintah provinsi sejak 2016 lalu.

"Selain sebagai upaya untuk tetap memelihara nilai-nilai Pancasila, wisata kebangsaan ini juga sebagai event penting untuk menarik arus wisatawan ke NTT, terutama ke Ende yang juga terkenal memiliki wisata Danau Kelimutu, yang telah mendunia," tutur Marius.

Lanjutkan Membaca ↓