Duel Jalanan Anak Muda Jadi Tradisi Dakwah Jalanan di Gorontalo

Oleh Andri Arnold pada 23 Mei 2018, 05:02 WIB
Diperbarui 25 Mei 2018, 04:13 WIB
Dakwah Jalanan di Gorontalo

Liputan6.com, Gorontalo - Berbeda dengan pelaksanaan dakwah atau ceramah pada umumnya yang kerap dilakukan di masjid. Di Provinsi Gorontalo terdapat tradisi dakwah yang digelar di jalan, tepatnya di persimpangan Jalan Barito, perbatasan antara Kabupaten Bone Bolango dan Kota Gorontalo.

Setiap bulan Ramadan, usai salat subuh, ratusan warga berbondong-bondong datang ke persimpangan Jalan Barito. Dengan masih menggunakan pakaian salat, mereka berniat menyaksikan ceramah yang diberi nama Barito Berdakwah.

Tidak ada kursi yang disiapkan sebagai tempat duduk untuk menyaksikan ceramah yang biasa disebut dakwah jalanan itu. Warga dipersilakan dengan bebas memilih duduk di mana pun.

Bisa di pinggir jalan, di atas kendaraan, atau bagi yang kuat bisa memilih berdiri untuk menyimak tausiah yang berlangsung sekitar satu jam. Hilir mudik kendaraan yang melintas tidak dipedulikan para warga. Mereka tekun meresapi setiap kalimat dari sang penceramah.

"Tidak terganggu biarpun ada kendaraan yang melintas, seru ada ceramah jalanan seperti ini," kata Wawan Akuba, warga Kota Gorontalo yang ikut mendengarkan dakwah jalanan itu.

 

2 of 2

Sejarah Kelam Lokasi Dakwah

Dakwah Jalanan di Gorontalo
Dakwah jalanan di persimpangan jalan Barito perbatasan Kabupaten Bone Bolango dan Kota Gorontalo berlangsung setiap tahun pada bulan Ramadan. (Liputan6.com/Andri Arnold)

Menelisik sejarahnya, dulu di persimpangan jalan itu menjadi lokasi favorit warga yang berasal dari beberapa desa untuk bertemu, termasuk para pemuda. Lama kelamaan, mulai terjadi gesekan antarpemuda yang berujung pada perkelahian.

Yusdin Danial, panitia Barito Berdakwah menceritakan perkelahian itu menimbulkan keprihatinan warga yang tinggal di persimpangan jalan. Untuk mencegahnya, maka tercetuslah gagasan untuk melaksanakan dakwah jalanan agar kesan tempat itu menjadi lokasi perkelahian dapat dihilangkan.

"Pada tahun 1989, kami mengubah tempat ini menjadi lokasi berdakwah, yang di istilah kami dakwah jalanan karena tempatnya di jalan," ujarnya.

Menurut Yusdin, dakwah jalanan itu mendapat dukungan dari warga beberapa desa sekitar. Alhasil, meski sudah bertahun-tahun berlalu sejak perkelahian terjadi, dakwah itu masih rutin dilakukan setiap bulan Ramadan.

"Banyak petuah yang disampaikan penceramah. Setiap harinya juga bergantian penceramahnya, tergantung permintaan dari para jamaah," tutur Sofyan, salah seorang warga yang setiap tahun menyaksikan dakwah jalanan itu.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓