Sosok Kepala Keluarga Terduga Pengebom Bunuh Diri di 3 Gereja Surabaya

Oleh Liputan6.com pada 14 Mei 2018, 11:30 WIB
Diperbarui 14 Mei 2018, 11:30 WIB
Pasca-Ledakan Bom di Gereja Santa Maria
Perbesar
Keluarga Pengebom Bunuh Diri 3 Gereja di Surabaya

Liputan6.com, Surabaya - Pemilik Rumah Makan "Bebek Alas Daun" di Wonorejo Asri, Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya, Armuji, mengaku terkejut saat petugas kepolisian meminta rekaman kamera pengintai (CCTV) di rumah makannya pada Minggu malam, 13 Mei 2018.

Armuji sempat menanyakan alasan petugas kepolisian meminta rekaman CCTV tersebut. Petugas pun memberi tahu bahwa rekaman tersebut untuk penyelidikan keluarga yang diduga pelaku bom bunuh diri di tiga gereja di Kota Surabaya yang menewaskan 13 orang dan melukai 43 orang pada Minggu pagi.

Tiga gereja tersebut adalah Gereja GKI Jalan Diponegoro Surabaya dan Gereja Pantekosta Jalan Arjuno Surabaya serta Gereja Santa Maria Tak Bercela, Jalan Ngagel Madya Surabaya.

Lokasi rumah makan milik Armuji memang tidak jauh dengan rumah milik keluarga terduga pengebom tiga gereja yang berada di Wonorejo Asri Blok K/22A.

Satu keluarga tersebut adalah pasangan suami istri, yakni Dita Oepriarto dan Puji Kuswanti, serta empat anaknya yang terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan. Empat anak Dita masih bersekolah: satu masih di jenjang SMA, satu SMP, dan dua jenjang SD.

"Saya kaget dan tidak mengira kalau punya tetangga pelaku pengeboman," kata Armuji yang juga menjabat sebagai Ketua DPRD Surabaya ini, dilansir Antara.

Armuji pun memberikan rekaman CCTV yang ada di rumah makannya untuk mempermudah proses penyelidikan petugas kepolisian setempat. Meski tidak tiap hari ke rumah makannya, Armuji biasanya bertegur sapa dengan para tetangganya.

Ia tidak mengira Dita yang sebelumnya dikenal sebagai sosok santun dan ramah pada warga itu menjadi pelaku pengeboman. Dilihat dari cara berpakaiannya biasa dan tidak ada yang menyangka bila Dita merupakan pelaku pengeboman.

Armuji juga mengatakan Dita kerap terlihat bersama kedua anak lelakinya berboncengan naik motor menuju ke musala untuk salat berjemaah.

Meski demikian, sosok Dita yang diketahui bekerja sebagai distributor obat herbal itu diketahui tidak banyak bicara dan bersosialisasi dengan warga semenjak dua tahun terakhir. Padahal, tiga tahun lalu, terduga pemboman di Surabaya itu pernah menjadi Ketua Sub RT 2/RW 3 Kelurahan Wonorejo.

Begitu juga dengan sosok istri Dita yang tidak terlihat mencurigakan. Selain tidak memakai cadar, istri Dita jarang keluar rumah. Namun, anak-anak mereka sering keluar untuk bermain.

"Kata tetangga lainnya, sering ada tamu di rumah Dita. Namun, tetangga tidak terlalu memperhatikannya," katanya.

 

 

 

 

 

 

2 dari 4 halaman

Pernah Diprotes Warga

[Bintang] Untuk Teroris Bom Surabaya: Evan dan Nathan Tidak Tahu Apa-apa, Mereka Hanya Ingin Beribadah Minggu
Perbesar
Ledakan bom terjadi di Gereja Katolik Santa Maria, Gubeng, Surabaya, Minggu (13/5). Bom juga meledak di KI Wonokromo Diponegoro, dan Gereja di Jalan Arjuno. (Liptan6.com/Istimewa)

Selama ini, Dita tidak pernah membuat permasalahan serius dengan warga setempat. Hanya saja, Dita sendiri sempat mendapat protes dari warga karena pernah membuang limbah hasil usahanya pembuatan minyak kemiri ke saluran air.

Oleh karena itu, warga setempat kaget ketika mengetahui tim Densus 88 menemukan tiga paket bom rakitan siap ledak di rumah Dita. Hasil penelusuran kepolisian, Dita diketahui adalah Ketua Sel Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya.

Dita diduga mengajak semua keluarganya melakukan aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya. Dita diduga meledakkan diri di Gereja Pantekosta, Jalan Arjuno Surabaya, menggunakan mobil miliknya.

Sedangkan Puji Kuswanti, istrinya, dan dua anak perempuannya diduga meledakkan diri di Gereja GKI Jalan Diponegoro. Sementara dua anak Dita yang lain yang masih belum teridentifikasi diduga meledakkan diri menggunakan motor di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Surabaya.

Aparat kepolisian menemukan tiga bom berdaya ledak tinggi (high explosive) saat melakukan penggeledahan di rumah terduga pengebom gereja di Surabaya, di Perumahan Wonorejo Asri Blok K/22A, Rungkut, Surabaya.

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Rudi Setiawan, mengatakan tiga bom tersebut langsung diledakkan tim penjinak bom di rumah pelaku pengeboman. Dari tim olah TKP, bom tersebut sebelum diledakkan sempat dirakit di rumah tersebut.

"Selain menemukan bom, kami juga menemukan sejumlah barang lain. Semuanya sedang diteliti," ujarnya.

Menurut dia, rumah itu berantakan dan di bagian belakang terdapat ada anak panah dan busur yang menancap di papan target. Selain itu, ada juga beberapa dokumen, buku, dan beberapa tulisan yang terlihat berserakan.

Hasil temuan pihak kepolisian lainnya dari penggeledahan di rumah Dita, yakni sejumlah foto keluarga Dita, styrofoam yang diduga untuk mempercepat pembakaran saat bom diledakkan serta beberapa dokumen.

"Ada beberapa buku, ada beberapa tulisan, ada beberapa pesan sedang kita kumpulkan," katanya.

3 dari 4 halaman

Surabaya Berduka

ODGJ
Perbesar
Wali Kota Risma merawat PMKS termasuk ODGJ hingga sembuh. Foto: (Dian Kurniawan/Liputan6.com)

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tidak mengira jika ada kejadian peledakan bom di tiga gereja di Surabaya yang menyebabkan 13 korban meninggal dunia dan puluhan warga lainnya luka-luka.

Hal ini disampaikan Risma saat ikut bersama Kapolrestabes Surabaya mengunjungi lokasi rumah pelaku pengeboman di Wonorejo Asri.

Selama ini, Risma selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk warga Surabaya. Bahkan, usaha yang dilakukan bersama jajaran hingga tingkat kelurahan.

Risma mengaku selama ini melayani masyarakat Surabaya dengan baik. Sejumlah pengaduan warga baik berupa jalan rusak, banjir, persoalan sekolah selalu dicarikan solusi.

"Tapi kalau ada kejadian seperti ini membuat saya sedih dan menyakitkan," katanya.

Menurut Risma, aksi pengeboman yang dilakukan satu keluarga tersebut menyalahi ajaran Islam. Dalam kitab suci Alquran, lanjut dia, jangankan membunuh orang, membunuh binatang, pohon itu saja tidak boleh.

"Kok sekarang kita tega. Apa yang ciptakan agama kita, Tuhan yang ciptakan semua," katanya.

Risma mengungkapkan kesedihan mendalam atas pengebom yang terjadi di Kota Pahlawan. Risma mengatakan pihaknya sudah memberikan semua yang terbaik kepada warga Surabaya.

Bahkan karena Risma tidak ingin orang Surabaya kelaparan, kebanjiran dan mengalami macet. Namun, semua itu dirusak oleh orang yang mengaku paling benar.

"Saya sudah melakukan segitu banyak tapi saya tidak merasa paling benar," katanya.

4 dari 4 halaman

Pendukung ISIS

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian di Mako Brimob Kelapa Dua Depok, Jawa Barat
Perbesar
Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian di Mako Brimob Kelapa Dua Depok, Jawa Barat (Merdeka.com/ Ahda Baihaqi)

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian dalam kesempatan terpisah mengatakan pelaku pengeboman tiga gereja di Surabaya terkait dengan kelompok pendukung utama teroris ISIS. Kelompok ini tidak lepas dari kelompok bernama JAD-JAT, Jamaah Ansharut Daulah-Jamaah Ansharut Tauhid yang merupakan pendukung utama ISIS.

Di Indonesia, kata Tito, JAD ini didirikan oleh Aman Abdurahman yang sekarang ditahan di Mako Brimob. Pelaku pengeboman yang merupakan satu keluarga ini terkait dengan sel JAD yang ada di Surabaya, bahkan Dita tercatat adalah ketua dari kelompok tersebut.

"Kemudian aksi ini kita duga motifnya, pertama adalah di tingkat internasional ISIS ini ditekan oleh kekuatan-kekuatan, baik dari Barat, Amerika dan lain-lain," katanya.

Jadi dalam keadaan terpojok, memerintahkan semua jaringannya di luar, termasuk yang sudah kembali ke Indonesia untuk melakukan serangan. "Termasuk di London, juga ada peristiwa, terorisme dengan menggunakan pisau di sana," katanya.

Tito menambahkan di Indonesia, ada dua macam kelompok terkait ISIS yang menjadi ancaman, yakni JAT dan JAD yang sel-selnya ada di beberapa tempat, serta mereka yang kembali berangkat ke Suriah dan kembali ke Indonesia atau tertangkap di otoritas di Turki atau Yordania dan kembali ke indoensia.

Menurut dia, jumlah yang sudah berangkat ke Suriah tercatat lebih dari 1.100 orang dengan 500 di antaranya masih di Suriah, 103 meninggal dunia di Suriah, dan sisanya dideportasi kembali ke Indonesia.

"Itu jadi tantangan kita karena mindset mereka ideologinya ISIS," katanya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓