Perjuangan Nadia, Peserta Difabel Ikuti Ujian SBMPTN

Oleh Fajar Abrori pada 08 Mei 2018, 19:01 WIB
Diperbarui 08 Mei 2018, 19:01 WIB
Peserta SBMPTN 2018
Perbesar
Nadia, peserta tunadaksa yang mengikuti ujian SBMPTN 2018 di SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Solo, Selasa (8/5/2018).(Liputan6.com/Fajar Abrori)

Liputan6.com, Solo - Keterbatasan fisik tak menghalangi para peserta difabel untuk ikut berebut kursi mahasiswa dalam Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Dengan semangat membara, mereka berjuang agar bisa mengenyam pendidikan di universitas prestisius. Seperti yang dilakoni peserta difabel SBMPTN di Solo, Jawa Tengah.

Nadia Putri Prasukma adalah siswi tunadaksa yang juga mengalami kelainan kemampuan motorik. Ia berangkat dari rumahnya di Salatiga dengan ditemani kedua orang tuanya, Suprapto (45) dan Dwi Sukma (42), pagi tadi sekitar pukul 06.30 WIB.

Sesampainya di lokasi ujian SBMPTN 2018 di SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Solo, gadis lulusan SMA YPAC Surakarta itu langsung menunggu di selasar sekolah. Ia duduk di atas kursi roda dengan didampingi kedua orang tuanya. Wajah tegang pun terlihat ketika menanti bel berbunyi tanda masuk ruang ujian.

Setelah bel berbunyi, kursi roda yang dinaiki Nadia langsung didorong oleh kedua orang tuanya menuju ruangan ujian di ruang khusus. Setelah tiba di dalam ruangan, ia pun bangkit dari kursi roda untuk berganti duduk di kursi kayu.

Ada dua pengawas yang menunggu ujian peserta tunadaksa di ruang Guru BP itu. Mereka dengan penuh kesabaran membantu persiapan Nadia untuk melakoni ujian pada hari pertama ini.

Dalam menghadapi SBMPTN, Nadia mengaku telah mempersiapkannya usai ujian nasional selesai. Selain belajar, ia juga khusyuk berdoa untuk menghadapi ujian ini.

"Saya sudah siap untuk mengerjakan ujian ini. Saya sudah belajar dan berdoa. Semoga lancar mengerjakan ujiannya," kata dia dengan terbata-bata di SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Solo, Selasa (8/5/2018).

Saksikan video pilihan di bawah ini:

2 dari 3 halaman

Persiapan Hadapi Ujian

Peserta SBMPTN 2018
Perbesar
Nadia, peserta tunadaksa yang mengikuti ujian SBMPTN 2018 di SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Solo, Selasa (8/5/2018). (Liputan6.com/Fajar Abrori)

Untuk SBMPTN ini, Nadia mengaku memilih jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Luar Biasa (PGSDLB) di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dan Universitas Negeri Yogyakarta. "Saya mengambil jurusan PGSDLB karena  ingin menjadi guru SLB," harapnya.

Menurut orang tua Nadia, Suprapto, niat putri satu-satunya untuk mengikuti ujian SBMPTN sudah bulat. Bahkan, semua proses registrasi hingga pembayaran untuk mengikuti ujian tersebut diurusnya sendiri saat masih tinggal di asrama YPAC Surakarta.

"Semuanya dilakukan sendiri, mulai dari daftar, bayar hingga nge-print kartu pesertanya. Dia melakukan semuanya itu di Solo karena kalau di Salatiga takutnya jaringan internetnya jelek karena rumahnya di desa," katanya.

Berbagai persiapan untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri telah dilakukan sejak lama. Bahkan, dia mengungkapkan, setiap harinya mulai dari pagi hingga malam hari selalu belajar tentang materi soal ujian SBMPTN.

"Saya dan istri itu kerja, sedangkan Nadia di rumah. Pokoknya dia di rumah itu belajar terus dan berdoa. Meskipun tidak sempurna, tapi semangatnya luar biasa," ujarnya bangga.

3 dari 3 halaman

Tekad Bulat Masuk Perguruan Tinggi

Peserta SBMPTN 2018
Perbesar
Nadia, peserta tunadaksa yang mengikuti ujian SBMPTN 2018 di SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Solo, Selasa (8/5/2018). (Liputan6.com/Fajar Abrori)

Sebagai orang tua, Suprapto hanya mendukung keinginan putrinya untuk meneruskan ke jenjang perguruan tinggi. Bahkan, jika tidak lolos SBMPTN, Nadia telah mengajukan permintaan kepada orangtuanya untuk meneruskan kuliah di Universitas Boyolali.

"Kalau tidak diterima di negeri, Nadia bilang mau kuliah di mana pun siap. Terus, katanya mau di UBY (Universitas Boyolali," ucap Suprapto.

Tekad bulat Nadia untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi itu dikatakan ayahnya malah bertolak belakang dengan teman-teman sebayanya di kampungnya. Sebagian besar temannya itu malah jarang sekali yang ingin melanjutkan kuliah.

"Motoriknya memang kurang sempurna, tetapi kalau daya pikir dan daya ingat serta IQ bagus. Semua buku pelajaran dibacanya untuk persiapan ujian ini. dia belajar itu pagi siang dan malam," tuturnya.

Selain Nadia, ada siswa tuna daksa lainnya yang ikut SBMPTN 2018, yakni Rahman Aditya Yoga Pratama. Mereka berdua merupakan teman sekelas ketika masih duduk di bangku SMA YPAC Surakarta.

Yoga mengikuti SBMPTN kali ini dengan mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual UNS. Ia pun mengaku sedikit deg-degan menghadapi ujian ini. Meski demikian, segala persiapan seperti belajar telah dilakukannya dengan matang.

"Saya ambil jurusan DKV karena senang saja. Untuk ujian ini yang bikin deg-degan karena jumlah soalnya banyak," katanya.

Lanjutkan Membaca ↓