Mbah Din, Santri Pengelana Putra Kiai Abbas Panglima Perang 10 November

Oleh Panji Prayitno pada 30 Apr 2018, 10:32 WIB
Diperbarui 30 Apr 2018, 10:32 WIB
Cerita Mbah Din, Anak Kiai Abbas Pemimpin Perang 10 November Asal Cirebon
Perbesar
Ribuan pelayat memadati kompleks Ponpes Buntet Cirebon untuk melayat hingga mengantar KH Nahduddin Royandi Abbas ke persemayaman terakhir. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

Liputan6.com, Cirebon - Suasana duka menyelimuti komplek Masjid Pesantren Buntet Cirebon. Keluarga, kerabat, dan para santri rela menanti kedatangan sesepuh Ponpes Buntet KH Nahduddin Royandi Abbas untuk menyalati dan mengiring ke pemakaman, Minggu (29/4/2018) malam.

Kesedihan tampak terlihat di wajah mereka, saat jenazah tiba di lokasi. Anak terakhir pejuang Perang 10 November 1945 KH Abbas itu mengembuskan nafas terakhirnya di London, Inggris pada Rabu (25/4/2018) lalu.

Jenazah pun baru sampai di Buntet Pesantren Minggu (29/4/2018) 20.55 Wib. Setibanya di Ponpes Buntet, ulama yang akrab disapa Mbah Din langsung disalati, kemudian dimakamkan di pemakaman keluarganya.

Semasa hidupnya, Mbah Din dikenal sebagai santri yang suka berkelana. Ia telah berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk menempuh studinya.

"Pernah pesantren di Lirboyo, mengaji pada Syaikh Yasin Padang di Mekah, sampai menempuh studi perguruan tinggi di Inggris. Sejak tahun 1958, ia menetap di negeri Elizabeth itu," kata keponakan Mbah Din, KH Ayip Abbas.

Sejak tahun 2007, ulama yang memiliki satu anak dan dua cucu itu dipercaya oleh para kiai Ponpes Buntet untuk memimpin pesantrennya. Dia menggantikan sang kakak KH Abdullah Abbas.

Dia mengaku sangat kehilangan sosok paman yang penuh keikhlasan dalam menjalankan kehidupannya. Sosok Mbah Din dikenal selalu mengajarkan nilai-nilai akhlakul karimah, serta sosok yang penuh lapang dada.

"Beliau terbuka, lapang dada kepada siapa pun. Dia dapat memadukan ilmu pesantren dengan ilmu di Barat. Ia juga sosok yang mengajarkan kami agar selalu ikhlas dalam setiap hal," kata Kiai Ayip.

Dia mengatakan, Mbah Din meninggal akibat penyakit komplikasi serta faktor usia yang sudah lanjut. Mbah Din meninggalkan satu anak bernama Buyung Nahdi Sastra Prawira Abbas atas pernikahannya dengan perempuan dari Prancis dan telah meninggalkan dua cucu.

2 dari 2 halaman

Pemrakarsa Masjid di Inggris

Cerita Mbah Din, Anak Kiai Abbas Pemimpin Perang 10 November Asal Cirebon
Perbesar
Semasa hidupnya KH Nahduddin Royandi Abbas menjadi salah satu pemrakarsa berdirinya Masjid di Inggris. Foto (Humas Ponpes Buntet Cirebon)

Dalam sambutan penyaksian jenazah, Sekjen PBNU, Helmi Faisal, mengaku saat mendengar kabar kepergian Mbah Din, dia langsung menghubungi kementerian luar negeri dan kedubes yang ada di Inggris. Ia menilai, Mbah Din adalah sosok tauladan yang penuh dengan ketawadluan.

"Beliau adalah tauladan, contoh yang baik, bahwa akhlakul karimah hal yang penting," katanya.

Ia juga merasa bangga dengan sosok kiai yang satu ini. Sebab, menurut dia, KH Nahduddin Royandi Abbas adalah pemakarsa masjid-masjid di Inggris.

"Beliau adalah contoh dan tauladan tiada tara. Atas nama PBNU, kami merasa kehilangan, bahwa orang tua kami, guru kami telah tiada," ujar dia.

Helmi mengaku pernah mengunjungi masjid terbesar di Inggris. Dia kagum lantaran salah satu perintis dibangunnya masjid tersebut adalah Mbah Din.

Semasa hidupnya, Mbah Din dikenal sebagai orang yang baik. Menurut dia, bangsa Indonesia kehilangan figur ulama yang teduh dan menyejukkan.

Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Buntet Pesantren, KH Adib Rofiuddin, mengaku Mbah Din merupakan sosok yang penuh keikhlasan.

"Beliau bisa menerima saran, masukan dari siapa pun, meskipun cucunya yang memberi masukan," kata dia.

Saksikan vidio pilihan berikut ini: 

Lanjutkan Membaca ↓